Mental Revolutif Berniaga Mahasiswa

Saya senang dengan mata kuliah Kewirausahaan. Alhamdulillah, sempat pernah mengenyamnya ketika kuliah lebih dari satu dekade lalu. Mendapati adik-adik mahasiswa sekarang juga memperoleh mata kuliah ini makin menggembirakan. Yang membuat agak heran adalah: substansi rancangan pembelajaran semester (RPS) yang ‘nyaris’ tidak banyak berubah—nyaris mendekati serupa dengan apa yang saya peroleh dahulu. Benarkah konten RPS lebih dari satu dekade yang tidak banyak berubah masih digunakan? Duh, harap sekadar keliru prasangka.

Agaknya kita perlu sedikit berbenah. Berbenah ke arah lebih baik tentu. Sedikit saja, sih (kalau memang perlu). Hal ini sekadar pendapat hemat pribadi. Mata kuliah Kewirausahaan perlu di-enrichment atau di-enhancement lagi. Kalau boleh, sih.

Mental berwirausaha adik-adik mahasiswa memang perlu ditumbuhkan dan dipupuk dengan baik sejak di bangku kuliah. Hal ini sangat berfaedah dan membekali mereka. Sejatinya bukan soal jual-belinya, lebih pada sikap mental dan aspek nilai filosofis yang mendasari. Terutama nilai-nilai (values), begitu banyak yang perlu ditandaskan kepada adik-adik.

Hal lain yang perlu diingat adalah tidak sedikit mahasiswa sekarang yang sudah mulai berdagang, dari kadarnya ‘belajar’ kecil-kecilan hingga berskala besar. Betapa tidak sedikit dari mereka sudah berproses dalam berbisnis melalui ranah digital, tidak sedikit yang memanfaatkan media sosial Instagram dan pesan instan WhatsApp.

Luar biasa sekali, bahkan dapat dikata mahasiswa ‘belajar’ bisnis daring, ataupun luring/tradisional, tersebut secara otodidak yang mereka tempa. Tidak sedikit pula yang mempelajari langkah-langkah berdagang hanya bermodalkan konten-konten edukatif yang didistribusikan di jamak jejaring sosial populer, seperti YouTube dan Instagram.

Perlu diriset dahulu kebutuhan mahasiswa atas mata kuliah ‘wirausaha’ tersebut. Kalau mereka sudah terbiasa dengan bisnis, sudah terbiasa dengan konten edukatif bisnis dan investasi dari dunia maya, tentu pembelajaran kewirausahaan di kampus perlu dioptimalkan lagi untuk mendukung proses yang sudah mereka alami/lalui. Ada nilai tambah yang ditawarkan dari mata kuliah softskill ini sehingga mereka akan lebih ‘tertantang’ untuk belajar berlebih.

Seperti ibrah dari beberapa kerabat dan teman yang berwiraswasta, ada penandasan nilai-nilai yang tidak kalah elok senantiasa diingatkan kepada pengusaha muda/awal: nilai keikhlasan, nilai kesabaran, nilai ketekunan (di dalamnya termasuk kegigihan), dan proses yang terus-menerus (tiada kata henti)—yang sejatinya telah jamak diajarkan di dalam syariat Islam.

Banyak nilai tersebut perlu dibekalkan untuk adik-adik mahasiswa. Benam selalu nilai kesabaran bahwa proses yang dijalani tidaklah instan. Semua butuh waktu. Sembari menjalaninya, akan ada hal-hal yang menuntut keikhlasan berbuat. Banyak hal akan bermuara bahwa entrepreneurship tidak melulu soal profit.

Alih-alih mengedepankan profit, justru fakta yang terjadi adalah mengutamakan konsep give & give; memberi dan memberi. Ya, dengan kata lain, berniaga tidak jauh dari hal-hal berbau ‘sedekah’, lebih elok bila diniatkan berinfak di Jalan-Nya. Membantu berlebih, berkorban berlebih, tulus ikhtiar berbuat tanpa batas.

Hal tersebut bukan tanpa sebab. Kita pun dapat mengembalikan pada sunatullah dalam hidup kita. Apa-apa yang terjadi adalah Izin-Nya dan atas Kuasa-Nya. Terlebih, Allah Mahaadil. Siapa pun makhluk-Nya yang berbuat baik kepada sesama, terutama membantu dalam hal memberi, insyaallah Diganti-Nya. Apalagi bila hal ini diterapkan oleh kaum muslimin, nilainya tidak hanya balasan duniawi, tetapi juga menjadi pertimbangan baik untuk menambah bekal di akhirat. Betapa banyak pengusaha senior masyhur Tanah Air, pada awal karier rintisan usaha mereka, mereka justru keluar berlebih, burning money yang tidak sedikit. Hal ini lantaran mereka sadar bahwa itu semua bagian dari proses yang mesti mereka jalani. Sudah terlalu banyak teladan perihal ini, terutama dari kalangan pendahulu umat.

Kalau mengikuti perkembangan masa, penanaman hal-hal fundamental memang masih perlu diberikan, tidak terkecuali hal-hal teknis dalam berbisnis, seperti bagaimana menjenamakan (branding) produk, menentukan target pasar (marketshare), teknik pemasaran (apalagi kekinian yang serbadaring), hingga mempelajari bagaimana pelanggan dapat kembali lagi sebab engagement yang kuat (entah perihal minat terhadap produk, dapat pula soal model bisnis yang dijalankan).

Hal-hal tersebut di atas, terutama yang terakhir, justru perlu dipelajari mahasiswa, bahkan secara langsung di perusahaan swasta terdekat. Syukur mereka memperoleh kesempatan magang di perusahaan rintisan (start-up) dewasa ini; dijembatani pihak universitas. Mengapa mesti start-up? Sebab proses belajar mahasiswa akan lebih challenging, mereka sama berproses bertumbuh bersama start-up tersebut. Banyak nilai bertumbuh, berkembang, dan bertahan (never quit) dari ruh organisasi start-up tersebut yang akan dapat mereka tuai—insyaallah.

Menyelaraskan Diri dengan Masa

Tidak salah lagi, mesti mengikuti perkembangan zaman! Jangan sampai adik-adik mahasiswa tidak pernah mengetahui peristilahan di dunia bisnis start-up, seperti growth-hack, scale-up, metode OKR, seed funding serials dari para pemodal ventura (venture capitals, VCs), hingga bagaimana start-up dapat dikata siap ber-IPO dan exit.

Permasalahan yang akan dikemukakan, biasanya, adalah apakah sesuai dengan kompetisi lulusan jurusan? Saya masih beribu yakin: masih berkorelasi dengan erat dan tidak memandang bidang program studi/jurusan/fakultas. Apalagi, pemerintah juga telah memberi lampu hijau agar calon putra-putri bangsa dapat mengeksplorasi diri secara cross-platform (lintas disiplin ilmu). Dalam arti, satu bidang ilmu tidak memenjarakan mahasiswa untuk berkembang; dengan mengombinasikan antarilmu yang ada.

Ilmu bisnis atau berniaga sejatinya adalah ‘ilmu umum’, salah satu keterampilan dasar berkehidupan, dari para pendahulu kita. Siapa pun dapat berniaga—insyaallah. Hanya saja, perlu ditekankan bahwa metodologi berniaga kita sekarang dengan pendahulu kita tentu berlainan dalam banyak hal.

Impak dari Disrupsi Teknologi

Mau tidak mau tren industri yang mengawinkan antara teknologi dan serbaneka hal di dalam sendi-sendi kehidupan adalah akan jamak menghiasi rona berniaga/berbisnis kita kekinian dan ke depan. Ibarat beberapa tahun terakhir sudah menggejala kanvas model bisnis seperti yang dilakukan Gojek dan kawan-kawannya maka perlu dikreasi bentuk lainnya, yang tidak kalah inovatif. Masih banyak yang belum tersentuh (dan masih dapat dibisniskan). Muara solutif dari beberapa start-up tersebut adalah jamak pada pemecahan permasalahan yang teramat sederhana di sekitar/dekat kita sehari-hari. Masalah sederhana diselesaikan sesederhana mungkin.

Anjuran untuk lebih inovatif adalah keniscayaan. Seperti halnya Ruangguru, apakah para mahasiswa kependidikan akan membuat start-up “serupa”? Tiada yang melarang, tetapi disarankan apabila sudah sangat masif dan keras pertarungan yang ada, elok tidak mengkreasi start-up serupa. Bolehlah sedikit bernilai berbeda.

Kita gali bersama permasalahan lain, yang lebih bervariatif, yang lebih spesifik, dan perlu penawaran solusi yang tidak terlalu kompleks. Kalau tetap membuat start-up sama persis Ruangguru, disilakan, tetapi ceruk pasar serupa tidak hanya sudah dipopulerkan oleh Ruangguru. Perlu diriset kembali sebab telah ada yang lain, yang tidak kalah kece dari mereka, bahkan sudah eksis terlebih dahulu seperti Zenius, yang tidak kalah masif pula seperti HarukaEdu, dan banyak lainnya.

Tidak Wajib Ber-App

Seperti halnya substansi RPS mata kuliah Kewirausahaan yang barangkali perlu ditinjau ulang, mahasiswa perlu dibekali perihal kepekaan berpikir kritis dan inovatif untuk memecahkan masalah mendasar. Teknologi kekinian adalah medium, tidak selalu pemecahan masalah sehari-hari dapat diselesaikan hanya melalui pembuatan aplikasi mobile. Biasanya memang dapat, dan tentu disilakan. Namun, perlu diingat bahwa hal-hal yang sudah terlalu umum menggejala bisa jadi sudah sangat tidak menarik lagi ke depan.

Seperti halnya perkuliahan daring dengan menggunakan peranti video conference atau perangkat lunak populer untuk mengakomodasinya (seperti Zoom, Adobe Connect, Skype, dan sebagainya), hal ini sudah menjadi kebiasaan dan sangat umum, malah bisa jadi sudah dapat dikategorikan sebagai hal yang ‘konvensional’ kekinian. Semestinya sudah dilirik hal lain, yang lebih meningkat dari sekadar pernak-pernik data-science, kekritisan mahasiswa perlu diarahkan agar lebih mendalami algoritma proses teknologinya.

Tidak mengherankan bila AR-VR sudah amat cepat terimplementasi, tentu kita mesti bersiap untuk hal ini pula. Mungkin malah menjadi hal yang tidak tabu lagi seorang anak usia sekolah dasar mendatang dapat merangkai peranti IoT secara mandiri untuk kebutuhannya sendiri. Disrupsi digital amat menggejala di mana-mana tanpa ampun.

Ajaklah mahasiswa untuk lebih banyak mengenal dunia bisnis rintisan kekinian dan serba-serbi yang menghiasinya. Tanamkanlah kepada mereka bahwa entrepreneurial tidak berbatas ‘harus memiliki bisnis’, ‘harus memiliki modal untuk mendirikan dan mengembangkannya’. Padahal, sejatinya adalah menjaga nilai-nilainya saja sudah mencukupi.

Sekalipun ketika lulus nanti, mahasiswa (atas Izin-Nya) ujung-ujungnya menjadi pegawai, sikap mental entrepreneurship ini masih perlu untuk ditempa. Hal ini dapat melalui banyak cara, salah satunya adalah perihal bagaimana mereka tidak letih membangun inisiatif diri untuk berbuat lebih banyak—guna membantu orang lain (tanpa letih, tanpa pamrih). Bercita-cita menjadi bermanfaat bagi sebanyak-banyak makhluk-Nya dan memberi nilai lebih atas pelbagai hal.

Tuntunlah mahasiswa membaca banyak referensi model-model bisnis kekinian. Jangan sampai kedigdayaan milenial kita sebatas terhenti pada beberapa start-up decacorn yang sudah ada. Estafet masih panjang!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *