Mahasiswa ‘Berkualitas Tinggi’

Saya senang mendapati salah seorang mahasiswa begitu ketat memperhatikan mutu. Cara berpikir kritisnya juga berbeda, tidak sekadar bercuap-cuap agar tampak smarter (padahal sejatinya louder). Penanda kekritisannya yang lain tidak sekadar dari tugas-tugas analisis dan produktif yang dikerjakan, tetapi juga ketika diskusi di dalam kelas. Tidak tanggung-tanggung, dia tidak jarang mengarahkan atau meluruskan argumentasi temannya yang timpang; agar berdasar data dan simpulan dari topik yang dipresentasikan, bukan sekadar baru saja googling. Ini yang saya cari.

Yang makin menambah cinta adalah ketika ia menunjukkan ke-leadership-annya. Dia bukan ‘komting’ (ketua kelas/angkatan), tetapi ia dapat mengorganisasikan pelbagai rupa hal sekaligus. Apabila ada tugas kelompok, dia juga tidak bossy, tidak pula mendelegasikan banyak tugas kepada teman-temannya yang lain (dalam kelompok yang sama). Asungannya kepada teman-temannya begitu kuat, yakni motivasi untuk aktif berkontribusi.

Tampak bahwa Dia sangat ingin menyadarkan teman-temannya, baik satu kelompok maupun satu kelas, bahwa … berkuliah itu tidak sekadarnya. Perlu ada efforts serius, kolaborasi dan kerja sama di dalam teamwork yang solid, semuanya bekerja lantaran memang sama-sama membutuhkan. Tidak letik terus-menerus mengingatkan dengan cara-cara yang bervariatif.

Makin menambah hebat—di mata saya—adalah ketika saya mengetahui bahwa dia sudah bekerja (membiayai kuliahnya sendiri; orang tuanya single parent). Pada separuh hari cerah, dia lalui dengan bekerja di salah satu perusahaan logistik swasta. Lalu, berkuliah pada malam hari.

Setengah hari di tempat kerja tentu melelahkan, penat, banyak hal mesti dikelola dengan baik agar tidak berat untuk dilalui. Belum lagi bila ada tugas melembur hingga larut, tidak jarang absen lantaran tugas kepegawaian yang menuntutnya mesti menyelesaikan target sebelum tenggat. Apalagi, diketahui pula ia aktif/mengikuti organisasi kemahasiswaan.

Sungguh memerlukan upaya tinggi untuk mengelola variasi kesibukannya tersebut. Dia pun tidak pernah mengeluhkan atau pamer kesibukannya di media sosial atau status-status WhatsApp. Seolah begitu mudah dia meletakkan pekerjaannya, di kelas malam, dia masih tampak prima, seolah tidak menyiratkan sedikit pun rasa capek yang menggelayuti. Mata pun tidak tampak seperti mata panda (seperti orang yang kurang istirahat).

Siapa sangka, dia yang begitu maksimal berkuliah, juga memiliki beban hidup yang tidak sedikit. Nyaris tiada orang yang mengetahui latar belakangnya seperti apa dan bagaimana, dia terus berproses lurus dari waktu ke waktu. Kuliah jalan, pekerjaan jalan, organisasi pun lancar, alhamudulillah semoga senantiasa istikamah tidak lupa beribadah tepat pada awal waktunya, serta kehidupannya yang seolah tampak baik-baik saja.

Roda terus berputar, kita hanya menjalani hal-hal yang Dijatahkan-Nya—semoga kita senantiasa Diberkahi-Nya. Saya berdoa kepada-Nya agar Dia selalu memudahkan pelbagai jalan lurus yang mahasiswa tersebut tempuh dalam kehidupan ini. Siapa mahasiswa berikutnya?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *