Semoga Hujan nan Berfaedah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyampaikan bahwa kita tidak diizinkan untuk mencela musim, termasuk di antaranya keadaan cuaca atau iklim. Baik kemarau maupun penghujan, baik panas maupun dingin, ataupun lainnya, semua mesti dihadapi dengan tenang sehingga tiada ratapan keluhan atas kehadirannya pada pelbagai waktu yang senantiasa tidak tentu.

BMKG (atau lembaga lainnya, baik lokal maupun global, yang memiliki layanan serupa) acap memberi rambu-rambu prakiraan cuaca tiap harinya, termasuk kiat sehat, nyaman, dan aman menghadapinya. Namun, semua adalah lantaran Izin-Nya dan Kuasa-Nya, tidak setiap prakiraan terealisasi. Prakiraan cuaca bukanlah prediksi, ia sekadar kadar takaran perkiraan bila sesuatu begini maka bisa jadi begitu. Tidak tentu, tetapi tetap dapat diapresiasi sehingga kita dapat lebih dini menyiapkan banyak hal.

Beberapa pekan terakhir, sejak setelah gerhana matahari cincin, beberapa tempat di Indonesia Diguyurkan-Nya hujan. Ada hujan-hujan yang teramat lebat, ada pula rintik-rintik renik yang konsisten tiada henti membasahi permukaan bumi. Alhamdulillah, Rasulullah pun mengingatkan kita agar, ketika hujan turun, elok kiranya kita dapat berdoa kepada-Nya agar Dia Menurunkan hujan yang bermanfaat. Bermanfaat bagi manusia, lebih-lebih bagi semesta.

Ada kala berlimpah air hujan menggenangi area-area tertentu di beberapa kota di Tanah Air. Bukan hujan-Nya yang keliru, lagi-lagi sebab ulah kita. Jamak terjadi di kota-kota besar, menggenang di jalanan jalan raya. Tidak sedikit pula membanjiri wilayah yang dekat dengan aliran sungai besar. Mengapa lagi-lagi kita yang patut bertanggung jawab? Lantaran kita, atas Izin-Nya melalui pelbagai anugerah-Nya berupa akal dan nurani, yang mestinya dapat berpikir dan mengelola beberapa hal dengan baik.

Banjir di beberapa kota, termasuk di antaranya adalah di Bekas, memantik kepedulian kita. Kita berdoa kepada-Nya agar penduduk setempat Ditabahkan-Nya dan Dikuatkan-Nya—tidak lupa uluran bantuan bagi mereka bila Anda dapat melakukannya melalui saluran-saluran resmi dari pemerintah dan pelbagai program peduli bencana dari swasta. Tidak terlupa doa-doa baik yang dapat dipanjatkan untuk segenap para muhsinin dan relawan (tim SAR, perusahaan BUMN seperti Telkom dan PLN, sertalain-lain) yang bergabung membantu penduduk setempat.

Perihal penanganan banjir, kita percayakan kepada pemerintah. Pemerintah pun telah mrealisasikan dengan sangat maksimal—beribu terima kasih kepada pemerintah. Hanya saja, memang Tadir-Nya tidak dapat kita elak. Qadarullah, semua terjadi atas Kehendak-Nya. Kita hanya dapat berikhtiar, sedangkan Allah Yang Menentukan. Begitu pula pemerintah, mereka sudah berupaya, kita perlu untuk senantiasa mengapresiasi dan mendoakan kebaikan bagi mereka.

Mengapa pada awal tulisan saya menekankan: banjir adalah akibat dari perbuatan kita sebagai manusia, hal ini lantaran seabgai bahan refleksi bersama. Tidak mungkin sesuatu terjadi tanpa sebab, selalu ada sunatullah sebab-akibat yang dapat kita petik. Lebih dari aspek keduniawian seperti itu, Rasulullah mengingatkan kita agar menghiasi segala apa yang terjadi dengan pelbagai rupa peribadatan, termasuk di antaranya berdoa dan salat.

Bahkan, Rasulullah pun jamak memaknai pelbagai rupa kejadian di semesta adalah sebagai penanda dari-Nya, terutama berkait dengan segala hal yang kita perbuat dan tanda makin dekatnya kita dengan Hari Akhir. Hari Akhir adalah keniscayaan, tersurat sepenuhnya apa adanya (tidak perlu ditafsirkan oleh para orientalis), semua narasi sunnah sahih di dalam syariat-Nya wajib kita imani, termasuk tanda-tandanya.

Rasulullah mengajari kita berdoa ketika hujan turun, beliau pun menghasung kita melaksanakan salat gerhana. Rasulullah begitu takut kepada-Nya sebab pelbagai Kuasa-Nya, siapa yang dapat menolak dan menghindar? Tiada satu pun di semesta ini terluput dari Kedua Tangan-Nya.

Menjadi hal yang mengherankan, kala hujan lebat sehingga berdampak banjir melanda, kala gerhana matahari atau bulan terjadi, kita kekinian malah disibukkan dengan pendokumentasiannya, bersenang-senang atasnya (ada dalih sebagai pelipur lara), atau aktivitas duniawi lainnya. Rasulullah dan segenap generasi Salaf kita malah berketakutan dengan sangat.

Salat gerhana yang panjang seakan amat mencekam, seolah mereka memang benar-benar butuh Kepemurahan-Nya dan Kasih-Sayang-Nya. Mereka pun bersedih bila kejadian alam demi kejadian dilewatkan begitu saja. Semoga kita dapat lekas tersadar dan bersegera berduyun-duyun meneladani mereka. Semoga Allah senantiasa Merahmati mereka—amin.

Mari kita renungi bersama. Bisa jadi, pelbagai bencana yang terjadi adalah dari kesalahan dan dosa-dosa kita, dari kadar yang paling kecil hingga lebih-lebih termasuk bagian dari dosa besar—wallahul musta‘an. Semoga Allah senantiasa Mengampuni dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kita—amin.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *