‘Kuota’-mu untuk Apa

Perputaran masa masih menjadi misteri. Tahu-tahu, usia sudah sekian dan sekian. Tidak terasa semua begitu cepat bergulir, berubah, berganti. Sampai-sampai menyaksikan tumbuh-kembang anak-anak seakan tiada berjeda, mulai beranjak remaja, mungkin tidak disangka sudah beranjak dewasa.

Ada hari-hari dilewati dengan mudahnya, ada juga harinya dirasa tidak ringan, atau bahkan entah apa—hampa. Soal rasa, manusia masih juga berbatas prasangka; pun belum tentu serupa antarsesama. Maklum, tiap individu memiliki kekhasan dan warna yang unik, sangat kaya keberagamannya—terima kasih, yā Allāh.

Tidak dapat dimungkiri, waktu-waktu pribadi tiap kita acap nyaris jamak habis untuk menyaksikan banyak hal, entah sebab rasa ingin tahu yang tinggi atau sekadar biar tidak tertinggal atas informasi yang (masih barangkali) penting, menatap layar sebuah perangkat atau peranti. Kita ditemani perangkat atau peranti yang sudah lebih dari satu dekade membersamai, siapa lagi kalau bukan ponsel dan/atau gawai yang terhubung jaringan internet.

Dalih kebersamaan itu pun beraneka rupa. Entah untuk bersilaturahmi, ingin memperkuat atau mengikat jalinan komunikasi antarkerabat-tetangga-teman, lebih-lebih soal pekerjaan atau menyangkut hajat hidup orang lain. Sejam saja hampir tidak dapat berlepas diri dari ponsel/gawai. Pun kala rehat atau tidur pada malam hari, masih sangsi tiada ponsel/gawai di sekitar ruang istirahat tubuh. Dalam sehari, seolah tidak ingin dilewatkan tanpa kehadiran-nya.

Mau tidak mau keberadaan ponsel cerdas kekinian sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Tua-muda, semua kalangan nyaris berponsel/bergawai. Penetrasi penggunaan ponsel/gawai pun makin meningkat dari hari ke hari. Dari desa ke kota, dari sudut-sudut gang kecil di area perkampungan hingga di daerah industrial, ponsel/gawai menjadi aksesori selaik jam tangan: melekat dalam genggaman yang tentu dengan keeratan dan ketegangan yang bermacam-macam.

Lantaran begitu dekat dengan pelbagai akses yang ada, habis waktu setengah hari lebih untuk bersentuhan dengan ponsel. Lebih-lebih bila di dalamnya sudah terpasang pelbagai aplikasi yang mendukung bersosialisasi pada umumnya, atau sebatas pendukung hiburan sesaat (sebagai pembunuh kebosanan—kata-nya). Diawali dari bangun tidur hingga ditutup tidur kembali, adakah di antara kita yang dapat lepas dari ikatannya?

Status WhatsApp (WA), stori di Instagram (IG), unggahan video ke YouTube (YT)—atau yang makin marak kekinian: TikTok, sudah menjadi kebiasaan harian bagi sebagian (nyaris) besar orang. Dari sekadar menjadi kreator konten kecil-kecilan hingga sekadar penikmatnya berjam-jam, rona kehidupan dalam satu hari seakan terdefinisikan telah berwarna dan luar biasa menyenangkan. Berulang, begitu dan begitu, gaya hidup belasan tahun pun terdisrupsi, seakan benteng-nya yang teramat rapuh.

Seolah menjadi hal yang wajib, entah siapa yang mewajibkan, jamak sesuatu diinformasikan cukup melalui pesan di dalam grup WA. Undangan pun didistribusikan secara daring, lagi-lagi via WA (syukur masih didapati pula versi cetaknya). Serbaneka pengumuman, dari kadarnya remah-remah hingga genting-darurat pun dapat dikabarkan secara instan lewat WA. Atau, barangkali perlu diketahui oleh lebih banyak kalangan, media sosial selaik Twitter, Instagram, ataupun YouTube menjadi solusinya. Entah sekadar diinformasikan, atau memang disengaja agar menjadi viral.

Semuanya, lagi-lagi nyaris ‘semua’, bertebaran di belantara maya. Seakan kehidupan nyata sudah beralih dari dunia ‘nyata’-nya. Dunia maya lebih terasa nyata dari dunia nyata itu sendiri. Masyaallah. Sesuatu yang tidak dapat kita tepis dewasa ini. Terlepas dari hal itu, terlepas dari bagaimana kita membela masing-masing diri agar tidak terlekati label kecanduan gawai atau internet, filterisasi selalu menjadi pilihan yang tidak kalah menyehatkan dan bijak.

Arus informasi yang begitu membanjiri feed kita seakan diterima apa adanya, tidak terkategori secara terperinci. Apa pun masuk, dari bentuk, rupa, sajian, atau tujuan, belum perihal persona yang mengantarkan hal itu—dengan pelbagai individu yang mewakili: karakter, kepentingan, kebutuhan, hingga sekadar mumpung bisa eksis. Tidak ada yang salah sejatinya, tetapi kendali diri minimalnya kita sebagai penikmat-nya tentu elok lebih terarah dan terjaga. Hal ini lantaran tidak setiap hal perlu kita lihat/baca, bukan?

Bukankah tidak setiap aktivitas berkehidupan kita, baik yang kita perbuat maupun yang kita rasa, perlu untuk disampaikan kepada yang lain? Fitur klasifikasi subjek (siapa-siapa yang dapat membaca status) saja pun seolah tidak banyak difungsikan lantaran tidak ingin dianggap pilah-pilah teman.

Masalah berikutnya adalah perlukah teman Anda mengetahui banyak-hal yang menghiasi Anda melalui status atau stori itu? Saya pribadi kadang tidak habis pikir, lantaran banyak hal yang diunggah perihal aktivitas keseharian, status/stori seseorang tampak bagaikan ratusan buliran pasir putih melingkar seperti kalung mutiara nan berpendar—masyaallah. Bolehlah bila ia memang pedagang, sekalian dijadikan sorotan atau diarsipkan—agar calon pembeli memperoleh gambaran produk. Namun, kalau ternyata tujuannya sekadar kebutuhan untuk narsistik…? Masyaallah.

Muara akhirnya adalah bejibun hal di dalam pikiran bercarut-marut tiada kendali tidak keruan. Apakah hal itu membuat stres? E-e-e, tentu tidak, toh selalu saja bisa mengubah suasana hati dalam sekejap hanya dengan menonton hal-hal lucu atau bahkan membuat tertawa terpingkal—wallahul musta‘aan.

Seolah begitu mudah suasana hati dimainkan oleh ‘diri sendiri’. Apakah se-pati (bahasa Jawa: mati) itu hati kita? Yang ternyata tidak dapat membedakan mana realitas yang mestinya dijalani, mana yang semestinya dianggap angin lalu?

Saking kerasnya hati (lantaran sudah mati) sehingga tidak dapat merasakan sentuhan-sentuhan kehidupan yang lebih hakiki? Hidup ini memang indah, Kawan, tetapi bukankah esensi keberadaan kita di dunia ini bukan sekadar untuk menikmatinya (tanpa mempertimbangkan kesudahan dari semua ini—yang akan berakhir)?

Sekalipun penyakit Al-Wahn (cinta dunia dan takut mati) telah terbukti dengan teramat-sangat—sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), apakah kamu masih tetap ingin menjadi bagian dari hal itu (sebagai pembenaran, sebagai bentuk takdir yang diinginkan?)? Wallahul musta’aan.

Tiada yang salah dengan menikmati kehidupan, tetapi peka-lah barang sebentar saja. Pause-lah sebentar aktivitasmu dan bermunajat kepada-Nya. Ibadah harian begitu mudah dilakukan. Namun, akankah rutinitasnya sungguh-sungguh membekas di dalam hati? Akankah kita memang mengharap Wajah-Nya semata dan tidak pinta sedikit pun dari hal-hal berbau duniawi?

Perlu perjuangan yang tidak mudah ketika kita beribadah hanya sekadar mengharap rida-Nya. Tidak jarang pernak-pernik duniawi terselip sedikit, lalu sedikit, sedikit-sedikit. Sungguh memerlukan perjuangan untuk menepis duniawi di dalam hati kita.

Menanam keimanan berlebih kepada-Nya tidaklah mudah, Kawan. Kita perlu ratusan purnama untuk memupuknya, perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, sembari terus menghasung diri untuk tidak merasa aman, sehingga kita pun menjadi benar-benar takut kepada-Nya. Bukan malah takut dengan manusia dan hal-hal duniawi, melainkan justru mesti takut hanya kepada Sang Pencipta kita. Akankah kita sungguh takut kepada-Nya (semata)? Astagfirullah.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *