Latif Anshori Kurniawan

‘Online-Learning’ Antardisiplin Ilmu

Diterbitkan pada dalam Blog.

Inti dari merdeka belajar adalah siapa pun dapat belajar apa pun, kapan pun, dan dari mana pun. Ketersediaan berlimpah, kemudahan akses lantaran bersifat open, dan tidak abai mutu merupakan dambaan bersama. Ada kala layanan belajar daring yang ada kurang dapat menjangkau semua kalangan, baik perihal akses internet yang kurang memadai maupun beban biaya yang tidak sedikit.

Sebagian orang membilang: pendidikan itu mahal. Bagi siapa pun (barangkali), yang lahir dari komunitas open-source software, yang mendukung seperti bendera perjuangan Wikipedia: bebaskan pengetahuan, yang dibesarkan dengan nilai-nilai pendidikan, dapat pula mengatakan sebaliknya: pendidikan itu tidak tentu mahal. Kalau menyinggung mahal dan tidaknya, tentu perlu mendiskusikan dengan segenap pengampu kewenangan atas hal tersebut. Hal ini lantaran paradigma ini mencuat dan berkembang tidak lain dan tidak bukan salah satunya lahir dari pelbagai layanan dari institusi pendidikan yang beredar diketahui masyarakat.

Hal tersebut pun masih berbatas pada permukaan karena belum tentu kadar pemaknaan mahal dan tidaknya layanan pendidikan yang ada saling berkeselarasan. Saya tidak ingin mengatakan ada uang ada barang, tetapi lebih menandaskan pada kebutuhan. Apabila biaya yang menjadi fokus pertimbangan utama, terdapat begitu banyak alternatif yang lebih memadai dan mengakomodasi, salah satunya adalah bagaimana anak-anak di seluruh Indonesia dapat belajar apa pun, dari mana pun, dan kapan pun melalui medium internet.

Tidak ada alasan lagi untuk tidak belajar. Di belantara dunia maya, banyak hal dapat kita pelajari, bahkan gratis (bebas akses) bersifat terbuka (open). Ada kala kita boleh belajar (memperoleh sebuah materi pengetahuan), tetapi tidak diizinkan membagikannya (hanya untuk diri sendiri), demikian konsep “terkadang free, tetapi tidak open” yang dimaksud. Bukan masalah, selama masih boleh belajar, semua akan terus belajar. Terutama bagi adik-adik yang baru lulus sekolah pada tahun pandemi ini, kalian dapat memanfaatkan waktu yang ada untuk belajar, belajar, dan belajar terlebih dahulu. Tidak perlu menunggu diterima di perguruan tinggi swasta impian, cukup mengalihkan lebih banyak waktu kalian dari media sosial ke pelbagai layanan belajar daring.

Kalau melihat samudra internet yang dapat kita telusuri dengan mesin pencari Duckduckgo misalnya, terlalu luas dan terlalu berlimpah atas apa yang kita perlukan. Kita sangat ingin belajar hal-hal spesifik, yang tidak kualitasnya dengan yang ditawarkan oleh institusi pendidikan. Alhamdulillah, ternyata hal ini telah lama ditawarkan banyak pihak, terutama dari beberapa instansi pendidikan, terutama perguruan tinggi swasta (PTS) bergengsi di dunia. Berikut beberapa di antaranya.

Open Course Ware

Sejatinya, Open Course Ware (OCW) bukanlah layanan yang berdiri sendiri (Anda tidak akan menemukan layanannya dengan label OCW saja). OCW merupakan pembelajaran kursus daring yang dibuat oleh universitas dan tersedia secara gratis melalui medium internet. OCW bukanlah pengembangan platform teknologi pembelajaran baru, ia sudah mulai dikenalkan mulai ’90-an dari Eropa, menggeliat di Amerika Serikat (AS), lalu tersebar ke seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali Indonesia.

Para penyedia OCW jamak telah bergabung dengan Open Education Consortium. Beberapa OCW yang mahsyur di antaranya diselenggarakan oleh: Massachusetts Institute of Technology/MIT (juga tersedia kelas daring asali mereka sendiri, yakni open-learning), Stanford University, Carnegie Mellon University, dan beberapa lainnya. Kalau di Indonesia, ada dari perguruan tinggi negeri Universitas Indonesia. Untuk lebih spesifik di Indonesia, ada online-learning yang bersifat massive open online course (MOOC, para peserta dapat memperoleh sertifikat elektronik sebagai apresiasi), salah satunya yang dikenal adalah dari SEAMOLEC.

Coursera merupakan salah satu platform (wadah) kelas daring yang dikenal baik oleh warganet internasional. Katalog belajar yang mereka sediakan pun amat berlimpah dan terus ditingkatkan dari waktu ke waktu sehingga siapa pun dapat menyelesaikan jenjang subjek pelajaran yang ada hanya dari melalui laman situs web mereka. Luar biasanya, Coursera di-host oleh pelbagai institusi (lembaga, organisasi, perusahaan), di antaranya Google, Universitas Stanford, dan terkini oleh MoMA. Anda dapat menggunakakan layanan di Coursera secara gratis. Apabila menghendaki sertifikat (sebagai bukti apresiatif hasil belajar), biaya yang ditawarkan mereka pun terbilang tidak mahal.

edX

Kalau menelusuri toko aplikasi populer, seperti App Store (untuk iOS/iPadOS) dan Play Store (untuk Android), ketika mencari aplikasi dengan subjek pembelajaran daring, tidak jarang Anda dapati edX pada hasil penelusuran. edX didirikan dari kolaborasi Universitas Harvard dan MIT. Kemudian, beberapa universitas beken AS lainnya pun bergabung menjadi mitra, di antaranya: Berkeley, Brown, dan Cornell, untuk menyajikan kursus daring.

Tidak kalah seperti Coursera, variasi kelas yang ada pun bejibun, dari sains data (data-sciences) hingga seni-humaniora. Jamak kursus yang ditawarkan bersifat free. Seperti Coursera, apabila ingin diriliskan sertifikat belajar dari edX, ada beberapa ketentuan (salah satunya adalah biaya). Well, ketika kebutuhan belajar sudah terpenuhi, tidak perlu mengejar sertifikat, bukan?

Pemelajaran Daring dari Harvard

Tidak salah lagi, PTS yang diidamkan nyaris jamak akademisi dari seluruh dunia ini memiliki wadah pemelajaran daring (online-learning) kreasi mereka sendiri. Bukankah belajar di Harvard berbiaya tinggi? Memang, beberapa subjek mensyaratkan biaya untuk mengaksesnya. Namun, tidak perlu khawatir, sila kunjungi tautan berikut untuk kursus free dari mereka. Kalaupun berbayar, (berkali lagi) tidak jauh serupa dengan kampus sebagaimana disebutkan di atas: berbatas bagi Anda yang ingin sertifikat. Tarif yang berbayar pun tidak kalah kompetitif, tidak mahal dan tetap worthy.

Khan Academy

Nyaris jamak senior di dunia IT telah mengetahui Khan Academy. Ia merupakan platform belajar nonprofit yang dirancang sebagai resources untuk mendukung peserta didik dari tingkat prasekolah hingga sekolah tinggi. Iya, nonprofit, dengan kata lain: gratis. Variasi kursus sangat berlimpah.

Khan Academy tidak hanya untuk peserta didik/mahasiswa, tetapi juga untuk siapa pun yang ingin belajar, tidak terkecuali kalangan profesional yang ingin memperoleh insights untuk kemajuan karier mereka. Selain itu, ada pula kursus untuk meningkatkan keterampilan memimpin (leadership), entrepreneurship, keuangan, dan macam-macam lainnya. Insyaallah, rasa ingin tahu dan kebutuhan belajar Anda jamak “terjawab” pada platform yang dikreasi oleh Salman Khan ini.

Skillshare

Tampak familiar, ‘kah? Barangkali sedikit “serupa” dengan Skill Academy dari Ruangguru, tetapi tentu masing-masing memiliki kekhasan tersendiri. Layanan utama dari Skillshare adalah pada seni (termasuk di dalamnya terdapat pelajaran animasi), fotografi, dan penulisan kreatif. Namun, tidak berbatas ranah-ranah tersebut, terdapat pula kursus pada bidang bisnis, teknologi, dan pemasaran.

Alih-alih bersifat akademis (seperti pelajaran di sekolah swasta atau perkuliahan di kampus swasta), katalog kursus Skillshare jamak seputar peningkatan kreativitas dan mendukung keterampilan kreatif pemelajar dalam hal karier. Tidak sedikit yang gratis, dan fasilitas berbayar pun tetap disediakan untuk mengakses beberapa kursus dengan kadar yang lebih mendalam.

Udemy

Apabila Anda terbiasa berkecimpung dengan dunia teknologi informasi dan komunikasi, bisa jadi tidak asing lagi dengan Udemy; sudah terlalu sering Anda dapati. Memiliki lebih dari ribuan katalog kursus yang disediakan, Udemy berfokus pada membantu peningkatan pencapaian karier profesional Anda melalui pelbagai subjek, seperti finansial, akuntansi, penggunaan tools produktivitas perkantoran, pemrograman komputer, hingga pemasaran. Jamak perihal pengembangan diri, tetapi ada juga perihal fitnes dan kesehatan. Selaik layanan-layanan di atas, ada katalog yang gratis dan berbayar.

Belajar dari Layanan Video-Streaming Favorit?

Saya yakin ada YouTube di dalam benak Anda sekarang. Mau tidak mau, layanan berbagi video ini pun telah menjelma menjadi platform idaman yang tidak kalah bermutu. Memang lebih bayak hiburannya, tetapi sebagai pengguna kita tentu berwenang untuk memilih sesuai kebutuhan belajar kita. Betapa banyak, atas Izin-Nya, orang menjadi mandiri teredukasi nonformal dan lebih terampil di kehidupannya dengan (hanya) belajar dari YouTube. Nyaris “apa pun” ada di sana.

Pihak Google pun (selaku pemilik YouTube) telah merilis YouTube Learning untuk membersamai anak-anak di seluruh dunia belajar kala wabah COVID-19 yang masih menggejala ini. Apakah khusus untuk anak-anak? Nyatanya tidak, banyak orang dewasa juga menikmati sesi belajar di program Learning tersebut alih-alih menyegarkan pikiran (mencari hiburan yang berfaedah dengan belajar).

Selain itu, untuk saluran video-streaming lain, semacam Netflix dan Apple TV+, juga sangat membantu memperkaya khazanah wawasan kita melalui pelbagai serial dokumenter. Saya masih menggemari konten yang berbau sejarah dan biografi, para pembuat konten tentu tidak main-main dengan data/riwayat terdahulu/sebelumnya. Tidak hanya di Netflix, Apple TV+, dan YouTube, di layanan serupa lainnya pun tidak kalah berlimpah. Iya, kedisiplinan ada di tangan kita, mereka sekadar menyajikan konten, kita yang menjumputi dan menghimpun konten-konten mana yang elok untuk dijadikan bahan belajar secara mandiri.

Harus Bersertifikat?

Perihal “sertifikat” (atau ijazah), teringat beberapa kalam guru besar, terutama yang lulusan AS, terdahulu. Beliau-beliau sudah jauh hari menandaskan bahwa ijazah/sertifikat sejatinya sekadar “ruang apresiatif” dari lembaga penyelenggara pendidikan, terutama ranah formal. Sejatinya, hal yang lebih ditekankan pada dunia profesional (tempat di mana Anda bekerja) adalah portofolio produk/belajar dan experiences yang pernah dijalani. Barangkali, “ia” sekadar menjadi jembatan kecil sementara memasuki sebuah intansi swasta, tetapi selebihnya adalah bagaimana Anda sebelumnya dan sesudahnya (ketika berproses di dalam perusahaan).

Lebih-lebih gelar, betapa banyak orang bergelar doktor (dan/atau Ph.D.) tidak menyebut gelarnya setelah selesai studi, padahal mereka pimpinan perusahaan teknologi besar dunia (sila tengok pendiri Google). Bukan berarti pendidikan formal yang diapresiasi dengan ijazah atau sertifikat kelulusan hasil belajar itu tidak penting. Masih tetap penting, tetapi kadar dominannya tetap pertahankan pada niat yang lurus untuk belajar dengan masif. Seperti halnya bukan berarti menjadi profesional itu tidak lebih baik daripada menjadi pengusaha, sama baik selama berproses dengan etos kinerja yang dimaksimalkan baik.

Ada kala Anda tebersit bingung akan belajar “apa”. Sungguh hal-hal berkait dengan teknologi informasi masih akan terus berkembang ke depan–insyaallah. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila perusahaan-perusahaan teknologi raksasa dunia juga turut dalam ceruk serupa. Sebut saja Google, Microsoft, atau lainnya, mereka pun melayani kita dengan pelbagai kebutuhan. Insyaallah, kebutuhan akan ilmu teknologi informasi dan yang menghiasinya masih akan bertahan cukup lama.

Tiada salahnya Anda menyiapkan diri. Bagaimana dengan lintas disiplin ilmu yang berbeda? Justru belajar hal-hal baru amat sangat ditekankan lagi. Setiap hari kita habis waktu untuk belajar, belajar banyak hal di kehidupan ini. Paling tidak, apabila lebih terarah lantaran menghadapi zaman yang sudah sangat terasa perkembangannya, adalah hal yang mubah untuk mengikhtiarinya. Jangan stuck, teruslah belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya!

Masih terdapat berlimpah layanan belajar/kursus daring di luar sana, tetapi kurang dapat disebutkan semuanya di sini. Di Indonesia sendiri, telah banyak layanan lokal yang tidak kalah serupa (dan tidak kalah “berdaging”). Tidak ada satu pun manusia yang tahu masa pandemi ini akan berakhir kapan dan seperti apa, saat ini kita dapat faedahi waktu #DiRumahSaja ini untuk belajar terus-menerus melalui medium internet.