Latif Anshori Kurniawan

Jalinan Mesra Antarpendiri Ventura Teknologi

Dipublikasikan dalam Blog.

Saya sungguh tidak terkejut ketika pendiri Dropbox, Drew Houston, didapati sedang bermain pingpong dalam pestanya bersama pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, tahun 2017. Kemudian, dikabarkan pada tahun ini, sebelum bulan pandemi di Indonesia (sekitar Februari), penggawa ruang penyimpanan populer itu pun diumumkan didapuk menjadi salah satu jajaran petinggi media sosial terbesar dan terkuat tersebut.

Apakah lantaran mereka mengenal dan bersahabat sejak lama, demikian pernyataan konfirmasi salah satu media warta digital Barat. Bukan tidak mungkin, bukan? Toh, kalau tidak mengenal sama sekali, bahkan barangkali memang membantu proses pengaruh diri kepada temannya, tidaklah dengan mudah seseorang menjadi bagian penting orang lain. Lazim terjadi tidak jarang kerja sama bisnis dibangun lantaran pertemanan.

Teringat pula kiprah akuisisi Facebook atas layanan berbagi foto-video Instagram pada 2012. Sebelum akuisisi, Mark mengenal baik Kevin Systrom dan Mike Krieger (para pendirinya). Memang, kedua pendiri layanan media sosial visual yang sangat populer di Indonesia ini pun memutuskan untuk hengkang dari Facebook. Kevin pun tampak jarang mengunggah pos baru pada lini masa akunnya, ya. Namun, bukankah kepemilikan saham atas nama mereka masih di sana? Lumrah terjadi, bukan?

Para pendiri tentu masih dapat menikmati profit perusahaan yang telah didirikan. Begitu pula kisah akuisisi layanan pesan instan populer WhatsApp (WA) oleh Facebook. Jan Koum (salah seorang pendiri WA) sangat mengenal baik Mark. Hal ini terlepas dari pernyataan co-founder-nya di WA, yakni Brian Acton, yang menggaungkan agar warganet menghapus akun Facebook (ditengarai berkait isu privasi yang menerpa perusahaan suami Priscilla Chan tersebut).

Omong-omong, Jan Koum dengan terang—melalui akun Facebook-nya, “sangat cinta” negeri Israel. Tidak perlu sensitif dengan hal ini, kita akui saja banyak hal telah mereka kreasi, terutama dalam ranah teknologi. Semestinya, kita terpacu untuk mengkreasi teknologi kita sendiri. Sebagai manusia dan hamba Allah, tidak mengapa kita menggunakan produk mereka, terlebih sekadar produk duniawi. Hal duniawi masih termasuk perkara mubah yang dibolehkan, kecuali bila memang faedahnya tidak lebih banyak daripada mudaratnya—tentu harus berdasar arahan ulama dan asatiza.

Cerita menarik lagi berasal dari akuisisi Automattic atas Tumblr. Tumblr, yang didirikan oleh David Karp, sebelumnya dimiliki oleh Yahoo!. Namun, Yahoo! telah berpindah tangan—layanan mereka pun banyak yang telah beralih kepemilikan kepada yang lain, salah satunya pula adalah Flickr (yang telah bersama SmugMug). Kembali ke Tumblr, platform mengeblog ini merupakan andalan Kevin dan Mike (pendiri Instagram). Secara resmi dan terbuka mereka menandaskan bahwa blog resmi Instagram berbasis engine blog Tumblr.

Makin menarik, bukan? Saya yakin Anda telah mengetahuinya dan menyadari hal tersebut. Terlebih, sekarang, Tumblr di bawah pengasuhan Matt Mullenweg (pendiri platform mengeblog WordPress di bawah perusahaan Automattic-nya). Bisa jadi dikembangkan teknologi integratif antara Instagram dan layanan WordPress.com. Mengapa, tidak?

Kevin pun mengeblog dengan WordPress. Sementara itu, Mike lebih gemar menulis pada platform Evan Williams (Ev), yakni Medium. Well, Ev merupakan salah satu pendiri Twitter. Sebelum Twitter, ia dikenal sebagai pemrakarsa jejaring blog populer Blogger sebelum diakuisisi Google. Sampai di sini, tampak benang-benang putihnya, ya?

Sebuah kewajaran bila antarsesama orang atau teman yang saling kenal-mengenal akan bekerja sama atua berkolaborasi. Kita di swasta sangat dapat merasakan hal ini. Lebih-lebih, antarsaudara, saudara sekandung malah, adalah bukan hal tabu lagi. Hal ini lantaran guna menjalankan roda bisnis, diperlukan kenyamanan. Profesionalitas tetap dijalankan, tidak dimungkiri bila telah memiliki kedekatan berlebih cenderung lebih bermakna dan tidak ternilai harganya.

Begitu pula yang terjadi di beberapa perusahaan rintisan/startup swasta di Indonesia. Ada yang terjalin dari hubungan darah—sebagaimana dikisahkan oleh Yeni Yusra pada rubrik Feature di DailySocial. Ada pula dari pertemanan yang amat erat, atau bahkan pasangan suami-istri—masyaallah. Tidak sedikit para founder sudah saling mengenal lebih dahulu sebelum memutuskan merintis bisnis bersama. Berteman akrab, menjalin kedekatan dari banyak hal, saling mengetahui kelebihan dan kekurangn masing-masing.

Kemudian, ketika jalan kebersamaan itu selaras dengan visi dan ideasi bisnis, mengapa mesti menjadi kendala? Mereka pun melenggang bersama dan bertahan bertahun-tahun dengan kenyamanan dan kegembiraan di dunia swasta. Apabila sempat muncul kegoyahan di sana-sini, sangat normal. Namanya juga berkehidupan, selalu ada bumbunya—insyaallah. Sekalipun barangkali menjadi tidak tidak sejalan di kemudian hari, sangat umum terjadi, the show must go on, semua dijalankan dengan maksimal. Masyaallah.