Latif Anshori Kurniawan

Lagi-lagi: Jangan Abai Sitasi!

Dipublikasikan dalam Blog.

Sedih rasanya, siapa pun itu, menyampaikan sesuatu dalam bentuk tulis, tetapi tidak menyebutkan sumber rujukannya atau referensinya ketika menyampaikan kalimat pernyataan dari orang lain. “Oh, barangkali memang tidak sengaja serupa, apalagi berkait dengan pernyataan umum.” Sangat belum tentu. Bahkan, tidak jarang, beberapa kalimat atau telah terbentuk satu paragraf utuh disalin-rekatkan apa adanya, tetapi tiada rupa apresiasi sedikit pun untuk pihak yang diambil paragraf-nya itu.

Hal tersebut belum didukung dengan bagaimana mengutip atau menukil yang baik. Ketika dihadapkan pada tugas penukilan dalam kursus/pelajaran menulis, tidak jarang peserta masih tidak mudah untuk membuat nukilan/sitasi. Wujud sitasi pun kadang merupakan kutipan langsung, lebih-lebih dengan menghilangkan tanda kutip (dua: “…”); dalam arti, diksi pernyataan masih sama persis dengan pemilik ujaran–wallahul musta’aan. Berkali-kali pengajar/instruktur mengingatkan agar mengutip tidak langsung, dengan memparafrase, tetapi belum juga diterapkan.

Tidak mengapa, barangkali memang sebuah proses yang tiada henti. Persepsi memparafrase pun tidak jauh dipahami sebagai aktivitas memparafrase karya sastra berupa puisi dari kata per kata. Sangat jauh panggang daripada api esensinya. Hakikat memparafrase adalah mengungkapkan kembali maksud dari tuturan orang lain dengan menggunakan rasa bahasa sendiri. Bahkan, apabila hasil parafrase itu tidak menyebutkan satu pun diksi dari pernyataan asli ahli yang disitasi, sepanjang masih dengan substansi/makna serupa dan sumber pustaka terujuk, hal ini lebih baik daripada tidak sama sekali.

Agaknya kita memang perlu membiasakan diri. Saya pribadi pun pernah melakukannya, sekalipun sekadar status pada media sosial, sekalipun tetap menyebutkan tokoh yang menuturkannya. Ketika belum menyadari kesalahan saya itu, saya pun terhenyak dengan seseorang yang mengingatkan khilaf saya lantaran tidak sebut sumber sama sekali. Sempat cukup lama saya tercenung dan belum ngeh ketika itu sebab dengan percaya diri saya masih tetap dapat mengakuinya tanpa melakukan revisi atau membuat pernyataan atas kebodohan saya tersebut. Selang beberapa hari kemudian, ketika saya Dihadapkan-Nya dengan hal serupa yang dilakukan orang lain, sekelebat teringat atas status media sosial itu, saya pun ambil langkah seribu untuk login dan menghapus status tersebut, malu kepada diri sendiri.

Pengalaman adalah teladan yang amat berharga dalam kehidupan kita. Kalau tidak pernah melakukan kesalahan sedikit pun, niscaya bukan manusia namanya. Waktu-waktu berikutnya pun saya masih menulis dengan menukil sembarangan. Namun, beriring waktu berlalu, saya amat lebih berhati-hati. Kehati-hatian ini, salah satunya, saya tempa melalui berlatih menulis melalui platform blog ini. Alhamdulilah, atas Izin-Nya, saya makin khawatir dari waktu ke waktu bila saya mencuri pendapat orang lagi.

Butuh proses berlatih yang tidak sebentar untuk menulis nukilan. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menyelami pelbagai gaya penukilan dari pelbagai ragam orang. Salah satu yang amat terasa adalah ketika membaca artikel ilmiah dari jurnal-jurnal yang dipublikasikan oleh Nature.com. Saya terkesiap. Siapa pun penulis atau peneliti, ternyata memiliki gaya pengutipan (secara tidak langsung) yang teramat unik variasinya. Namun, mereka memiliki keserupaan: sitasi mereka padat dan teramat tajam. Nyaris semua seolah bukan kutipan yang biasanya kita temui, sekalipun tidak langsung, dan mereka tetap menyebutkan sumber sitasi.

Saya pribadi tidak bermudah-mudah dengan memeriksa segala produk tulisan ilmiah, terutama tulisan yang belum diterbitkan seperti milik mahasiswa atau peserta didik, menggunakan perangkat lunak pemeriksa plagiat, seperti TurnitIn atau semacamnya. Cukup kita baca secara senyampang apa yang dituliskan. Kita lihat alur berpikirnya dari penuangan diksinya, penalaran substantifnya, penggunaan kata tugas, redundansi-nya, hingga rupa ‘keindahannya’ secara komprehensif. Kalau sudah cukup mewakili, saya rasa dapat dipastikan tidak 100% plagiat.

Ada kala, orang menulis, terutama ranah ilmiah, mereka hanya tidak percaya diri dengan dirinya sendiri. Dengan kata lain, bukan plagiat, belum sampai ke arah serius di sana, melainkan sekadar kecenderungan berpancang pada tulisan orang lain. Hal ini pun malah tampak pada rasa bahasa yang diungkapkan. Sangat terasa. Salah satunya saya mengidentifikasi beberapa hal yang redundant. Belum masuk dalam kategori plagiat, saya masih percaya ia hanya kurang percaya diri atas tulisannya sendiri, saya pun hanya ingin ia mengulang tulisannya, lagi dan lagi hingga benar-benar tampak ruh diri-nya pada tulisan itu.

Ketika kita kurang merasa nyaman dengan sebuah tulisan, elok berhenti membacanya agar distraksi tidak makin membenam. Dengan kata lain, kenyamanan membaca (dari pelbagai sisi) adalah hal yang tidak dapat diabaikan oleh penulis sehingga maksud tersirat dari sebuah tulisan pun dapat ditangkap dengan semestinya. Oleh karena itu, ketika penulis artikel ilmiah ingin mengirimkan tulisannya (sebelum dikirimkan), elok terlebih dahulu dibaca berulang-ulang kali, baik oleh diri sendiri maupun orang lain.

Setelah memastikan penulis tersebut pun nyaman dengan tulisannya sendiri dan memastikan bahwa antara ia dan saya bersepakat dengan medan makna yang nyaris serupa, baru tulisan dapat dikirimkan. Di samping itu, perlu diperhatikan pula bagaimana dampak yang terjadi bila tulisan itu tersebar (terbaca) luas oleh masyarakat (publik). Saya pun masih belajar untuk menulis maka blog ini menjadi tempat terbaik untuk berlatih saya saat ini di ruang publik. Tidak jarang beberapa tulisan panjang dihapus, bukan sebab keliru atau lainnya, barangkali sekadar ingin tidak perlu tampak di sini. Intinya, sekalipun tulisan kita berantakan tidak keruan adalah lebih dapat dimaafkan daripada rapi dari hasil yang kurang elok.

Selaik aktivitas berkarya dalam bidang lainnya, ketika kita ingin menggunakna karya orang, elok kita meminta izin kepada orang itu semampu kita. Ketika kita ingin meneliti karya seseorang, apabila penulis aslinya diketahui masih ada di dunia ini, dapat terjangkau dan dimungkinkan untuk dikunjungi, elok ia diberi tahu atas apa yang kita lakukan. Lebih-lebih karya susastra yang memerlukan proses kreatif yang teramat berat, kita perlu mengapresiasi kepada penulis/pengarang karya-karya susastra yang ada melalui pengabaran yang diperlukan.

Apabila ingin mengover karya orang lain, apabila masih dapat berkomunikasi dengan pekaryanya, elok dapat dikomunikasikan terlebih dahulu. Santai saja, barangkali tiada bagi-hasil dari royalti yang ada di sana, sekadar kita mengedepankan sikap santun dan etika sesama manusia, sekaligus sebagai wujud penghargaan atas karya mereka. Apalagi, hal ini sangat lekat dengan kultur area Timur kita, yang penuh etika, menghargai norma yang berlaku, serta santun terhadap sesama (siapa pun ia/mereka).

Belajar membuat sitasi merupakan bagian dari upaya menghargai orang lain, dan hal ini merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat ditawar. Hal ini selaik bagaimana kita menempatkan hak-hak (rights) orang lain secara adil. Saya masih sangat perlu belajar terus-menerus perihal ini pula hingga akhir, di sini sekaligus sebagai pengingat bagi saya pribadi. Kita tidak pernah tahu kapan kata-kata kita akan berpendar dan berdampak di kemudian hari. Dengan sedikit upaya menghargai sesama, paling tidak, kita sudah berikhtiar semaksimal kita untuk menggapai kebaikan bersama. Mari tidak abai membuat sitasi!