Latif Anshori Kurniawan

Mengobrol Santai di Clubhouse

Diterbitkan pada dalam Blog.

Terima kasih kepada Pak Elon Musk dan warganet yang memopulerkan jejaring sosial khusus obrolan suara/audio (yang disiarkan/dihelat secara langsung) Clubhouse. Terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dan memfasilitasi kami sehingga kami pun memperoleh invitasi untuk bergabung bulan ini. Iya, masih bersifat undangan (dapat menggunakan layanan mereka bila ada pengguna lain yang menginvitasi). Siapa pun dapat mendaftar awal, tetapi belum semua diizinkan pihak Clubhouse guna menggunakan layanan mereka. Dengan kata lain, jejaring yang dikreasi Paul Davison and Rohan Seth ini masih dalam tahap pengembangan (belum sepenuhnya rilis ke publik). Ketersediaan aplikasi layanan mereka pun masih berbatas untuk platform iOS (versi 13.00 ke atas).

Clubhouse pun booming di seluruh dunia. Seakan menjawab kebutuhan berdaring kita, terutama saat masih pandemi Korona ini. Kalau biasanya kita berkomunikasi secara daring dengan keluarga dan kolega menggunakan layanan populer, selaik WhatsApp (WA), Zoom, dan lainnya, layanan obrolan auditory ini sangat dinanti. Seakan menangkap momentum yang pas, saat banyak kalangan menggilai siniar (podcast), Clubhouse mewadahi siapa pun yang ingin menyelenggarakan obrolan khusus voice.

Saat bergabung dengan room obrolan pun, pengguna seakan menyimak konten siniar. Tidak sedikit narasumber dan peserta yang hadir melakukan aktivitas yang lain (misalnya sembari berjalan kaki, memasak, atau lainnya), bak mendengarkan siaran radio. Berbeda dengan konten siniar yang dapat kita putar mana suka dan kapan saja, layanan dari perusahaan rintisan (startup) yang memperoleh pendanaan dari perusahaan modal ventura terkemuka Andreessen Horowitz ini sekadar menyediakan ruang obrolan sekali jalan. Dalam arti, obrolan yang ada tidak direkam secara asali/default (kecuali barangkali pengguna merekam secara mandiri melalui fitur rekam layar iOS). Sekali obrolan di ruang percakapan berakhir, selesai sudah. Mantap!

Barangkali, dapat dimaslahati selaik Zoom, ya, yakni kita dapat melakukan rapat atau seminar daring tertutup berbasis obrolan audio di Clubhouse. Yang membedakan dengan layanan Zoom adalah ketiadaan fasilitasi video. Hal ini makin menjawab kebutuhan warganet beberapa bulan terakhir, terlebih terdampak pandemi, yang sedikit-sedikit kita helat rapat daring melalui Zoom, Google Meet, atau layanan lainnya. Acap peserta pada webinar Zoom mematikan video mereka dan lebih memaksimalkan fitur audio. Terkadang, menyimak sajian webinar pun tidak fokus menghadap perangkat yang telah terpasang aplikasi Zoom, bukan? Ada kala, tidak jarang, kita sambi dengan aktivitas lain. Clubhouse bisa jadi menjadi tren webinar berikutnya! Tidak menutup kemungkinan akan hal ini—insyaallah.

Tentu Clubhouse memiliki kekurangan, ia belum menyediakan fitur berbagi visual, misalnya guna presentasi paparan materi yang mengiringi penyampaian narasumber. Ya, rasanya memang tidak perlu fitur berbagi layar. Kemungkinan tiada fitur ini, sekalipun entah bagaimana ke depan. Hal ini lantaran tujuan diinisiasi Clubhouse adalah lebih pada hal-hal yang bersifat santai (selaik sifat jejaring sosial pada umumnya). Yang saya gemari dari Clubhouse adalah beberapa tokoh teknologi informasi dan tokoh dari pemodal terkemuka juga telah menggunakan Clubhouse. Tidak jarang beliau-beliau berbagi hal-hal menarik, berkisah bagaimana beliau-beliau terdahulu, dan sudut pandangan yang beraneka/bervariatif. Pendek kata, nyaris isinya daging semua!

Bagaimana kelanjutan dari Clubhouse ini ke depan? Rasanya, dari kehebohan yang ada, kemudian dimeriahkan pula layanan 11-12 dari Twitter (yang disebut Spaces), barangkali akan masih membumi ke depan—insyaallah. Apabila mengingat pihak Clubhouse sendiri belum merilis penuh untuk publik pada platform lain, bisa jadi makin menggema bila telah tersedia untuk umum di seluruh dunia. Mereka pun memperoleh pencapaian unduhan di App Store secara fantastis.

Sempat terbetik dan terutarakan dari beberapa pihak, bahkan terbilang orang-orang yang berpengaruh di media sosial, bahwa bisa jadi sudah ada kejenuhan menggunakan Clubhouse. Sayangnya, rasanya, hal itu masih kurang dapat menyimpulkan keadaan yang ada. Toh pelbagai room malah makin meningkat kuantitasnya dari hari ke hari, apalagi ruang obrolan yang diselenggarakan oleh netizen luar Indonesia. Tidak sedikit dari mahasiswa Indonesia yang study-abroad di luar memfaedahi Clubhouse guna berbagi banyak hal, tidak sekadar pengalaman belajar dan aktivitas berkehidupan mereka di luar negeri. Banyak room yang amat berfaedah dan terbuka untuk umum (public), siapa pun dapat menyimak dan memperoleh pelbagai benefits. Masyaallah.

Kita tidak akan pernah tahu bagaimana tren dan hype pemaslahatan teknologi ke depan. Bisa jadi, Clubhouse populer sekarang, belum tentu di kemudian hari. Siapa pun tidak dapat menyangkakan barangkali Clubhouse turut mewarnai aktivitas pembelajaran daring kita. Ya, bisa saja sektor atau industri pendidikan pun menyesuaikan diri. Mungkin saja ada layanan serupa Clubhouse, tetapi spesifik untuk dunia pendidikan? Mengapa, tidak? Segalanya serbamungkin bila Dia Berkehendak, bukan? Apakah Andah telah memiliki akun Clubhouse? Barangkali, kita dapat bersua di sana (akun kami: @latifanshori). Yuk mengobrol…!