Latif Anshori Kurniawan

Indah Bertutur dengan Memandang?

Diterbitkan pada dalam Blog.

Lebaran tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Barangkali, memang tidak semencekam sebelumnya, tetapi pandemi belum berakhir. Alhamdulillah, atas Izin-Nya, tahun kedua pandemi ini masih dapat kita jalani bersama. Kebijakan pemerintah pun masih dapat kita patuhi dengan semestinya.

Halalbihalal masih dapat dihelat, sekalipun melalui medium daring. Kalaupun luring atau bersemuka (bertatap muka), protokol berjarak dan tidak berjabat tangan lekat mesti diterapkan. Walaupun tidak semengkhawatirkan seperti 2020, tetapi rasanya seolah ada sesuatu yang makin pudar. Walaupun elemen silaturahmi, seperti mengucapkan salam, dan tetap berjaga jarak dilakukan, barangkali sebagian pun makin abai dengan beberapa unsur kecil. Salah satunya adalah memandang mitra wicara.

Kalau tidak dalam masa pandemi, saat bersalaman saja, mungkin bukan sesuatu yang serius. Lebih-lebih ketika pandemi selaik sekarang ini. Idealnya orang berjabat tangan, sekali lagi: saat bukan pandemi, elok dengan memandang mitra tuturnya dengan penuh kehangatan. Sense-nya sungguh berbeda bila sekadar sambil lalu, apalagi bila kurang (atau tidak) erat menggenggam. Lebih-lebih pada pandemi ini, tentu kebiasaan yang acap kurang diperhatikan tersebut makin mengarat. Mungkin folded-hands sudah dilakukan, tetapi pandangan sekadar menyapu. Apalagi, sekadar lewat, “Maaf zahir-batin, Pak. Minal aidin walfaizin, Mas,” sembari cepat-cepat beranjak.

Mungkin Anda juga pernah sensasinya yang begitu mengasyikkan. Saat kita berjumpa dengan orang, selain menyampaikan ucapan-ucapan tersebut, kita juga menanyakan beberapa hal lain. Berhenti sejenak sembari memperhatikan pandangannya dengan penuh penghormatan dan kesantunan. Binar wajah ceria, mengonfirmasikan beberapa hal renik dan tetap positif (pertanyaan hal-hal baik, memuji dengan tidak berlebih), disampaikan dengan diksi yang nyaman dan lembut. Lembut tidak mesti lirih, setidaknya dapat terdengar.

Sungguh indah. Lebih-lebih bila memang cerminan ketulusan nyata dari lubuk hati yang paling dalam (lepas dari dengki dan iri hati); masyaallah. Alih-alih, sekadar haha-hihi formalitas basa-basi “yang penting sudah menyapa”, hadeh. Apabila memang duduk-duduk bersama pun, tidak jarang tidak memosisikan diri menyamankan orang yang diajak mengobrol. Seolah sekadar ada suara radio yang diperdengarkan, tetapi posisi duduk kita kurang merespeki si narasumber, pandangan kita lebih cenderung/jamak ke arah lain (mungkin menatap layar ponsel berlebih, jemari berasyik masyuk menyapu layar ponse/gawai).

Tentu saja pandemi bukan halangan bila memang memungkinkan guna mengaplikasikan beberapa nilai-nilai kehidupan “lawas”. Sepanjang masih berprotokol ketat (terutama bermasker dan menjaga jarak), nilai-nilai kehidupan tersebut pun masih tetap dapat diindahkan, bukan? Namanya juga nilai-nilai kehidupan, ada kala dapat diimplementasikan, tetapi juga perlu melihat konteks dan porsinya. Banyak hal ada koridornya masing-masing, bukan? Pos ini pun sekadar pengingat untuk diri kami pribadi, barangkali dapat pula berfaedah bagi pembaca.

Referensi Bacaan Berfaedah