Latif Anshori Kurniawan

Dan, Masih Juga Ber-OpenBSD Sekarang?

Diterbitkan pada dalam Blog.

Benar bahwa sistem operasi terbuka yang kami faedahi perdana adalah sistem ber-kernel Linux, yakni Linux Mandrake 8.2. Selanjutnya, perjalanan berpetualang dan bereksplorasi menjadi bagian rona kehidupan berikutnya. Alhamdulillah, atas Izin-Nya mendapati pelbagai forum diskusi di dunia bawah tanah dan mendapati beberapa komunitas yang memfokuskan diri pada sistem UNIX BSD, salah satunya dari bapak-bapak di CoreBSD.

Sebelum mengenal OpenBSD lebih dalam, kami terkesima dengan FreeBSD. FreeBSD teramat robust. Ia benar-benar stabil, peladen/server kita pun dapat dipercayakan berlebih keandalannya dengannya. Dokumentasi FreeBSD cukup lengkap. Ketersediaan paket perangkat lunaknya pun terbilang berlimpah melalui fitur Ports. Versi terstabil terkini, yakni 13.1, masih dirasa mumpuni meng-handle infrastruktur. Namun, kami memaslahati versi snapshot pun juga tidak kalah asik.

Barangkali, FreeBSD mengawali keriwayatan kami bersentuhan dengan keluarga BSD. Namun, kecenderungan kami lebih lama bersama OpenBSD. Kalau untuk Linux, lebih lama ber-Slackware dan beberapa distribusi berbasis paket .RPM. Hingga pada akhirnya, mendapati buku OpenBSD karya Pak Rahmat Rafiudin, kami pun berbahagia. Setup OpenBSD memang tidak semudah FreeBSD, yang ketika menata desktop GNOME tidak membutuhkan banyak konfigurasi. Namun, barangkali di sinilah keasikan OpenBSD, yang memantik tantangan penggunanya (tidak kalah menarik selaik setup GNOME di Slackware).

Kami tidak jemu dengan layar hitam-putih OpenBSD berbalut baris-baris perintah kebiruan. Sebab turunan NetBSD yang teramat kompatibel dengan banyak platform, OpenBSD terbilang mudah dikonfigurasi dan berjalan pada perangkat keras populer. Apalagi, kekinian, tidak sedikit pengguna yang berbagi di dunia maya perihal pengaturan dan bahkan kustomisasi OpenBSD. Dari menyiapkan cakram lepas OpenBSD (untuk perangkat MacBook Pro misalnya), terhubung ke jaringan internet di sekitar kita secara wireless, hingga beberapa kiat yang tersebar di belantara platform layanan sosial Reddit.

Komunitas OpenBSD masih cukup aktif. Kuantitasnya memang terbilang sedikit daripada komunitas FreeBSD, lebih-lebih Linux. Namun, hal ini justru menjadi hal yang bagus sebab tidak banyak problematika pengguna saat berkomputasi dengan OpenBSD. Dalam arti, apabila mendapati permasalahan kala ber-OpenBSD, jamak pengguna telah mengetahui di mana sajakah mereka dapat berkonsultasi—insyaallah. Laman OpenBSD Journal, beberapa kanal di Mastodon, grup-grup lokal di beberapa kota di seluruh dunia, dan lain-lain, menandakan bahwa penggemar Theo de Raadt tidak sedikit, he-he-he.

Kami bukan penggemar Theo yang berdomisili di Kanada. Namun, konsep sistem operasi yang mengedepankan keamanan berlebih dan inovasi yang dilahirkan dalam/dengan OpenBSD menjadikan kami masih bertahan—insyaallah. Terlepas rekanan akademisi dan peneliti di Jepang kami yang ternyata jamak menggunakan FreeBSD & OpenBSD, nilai-nilai kekhasan sistem UNIX yang teramat sederhana menjadi salah satu sebab kami masih memaslahati keluarga BSD—atas Izin-Nya. Salah satu tokoh IT berasal dari Jepang yang berkontribusi berlebih pada proyek FreeBSD & OpenBSD ialah mendiang Jun-ichiro “itojun” Hagino.

OpenBSD masih aktif hingga hari ini. Pengembangannya memang se-liberal proyek sistem operasi terbuka lainnya, dan Theo de Raadt masih hidup hingga hari ini. Hal ini selaik di dunia Slackware, Patrick Volkerding masih menjadi kunci pengembangan distro Linux veteran ini. Kami pun tidak khawatir, toh kehidupan dunia ini pun akan berakhir (tiada yang kekal di dunia ini). Yang penting, OpenBSD masih dapat digunakan guna mendukung komputasi harian—di samping sistem BSD atau Linux lainnya. Lebih-lebih untuk kebutuhan server, sudah cukup—insyaallah. Alhamdulillah. Adakah di antara Anda yang masih menggunakan OpenBSD?