Latif Anshori Kurniawan

Maaf, Bermedia Sosial Acap Sekadar: ‘Nice-to-Have’

Diterbitkan pada dalam Blog.

Alhamdulillah, Bapak/Ibu mendapati kami di media sosial populer, di antaranya (nan teramat masyhur) adalah YouTube dan Instagram. Sejatinya pun kami menggunakan layanan jejaring maya untuk berbagi foto-video lainnya pula, tetapi memang lebih acap dan cukup familiar bagi teman dan keluarga atas dua layanan dari Amerika Serikat (A.S.) tersebut. Jamak konten (terutama foto dan vlog/video) dalam kanal pribadi di YouTube dan akun Instagram tersebut (kami berikhtiar) didistribusikan di bawah lisensi terbuka Creative Commons (CC BY-NC-SA 4.0).

Kami sekadar pengguna layanan biasa. Alih-alih dapat memaksimalkannya sehingga menjadi kreator konten, kami sekadar berbatas pada indikasi: ‘nice-to-have’. Oleh karena itu, acap kali, kami merekomendasikan teman, keluarga, atau siapa pun yang mengenal dan mendapati kami di media sosial guna memfaedahi kanal atau akun lain. Beberapa kanal yang kami langgani tersaji pada bilah menu Channels (kalau pada media sosial lain: Following)—alih-alih konten dari kanal/akun kami.

Apabila bermaksud memvisitasi kanal atau akun tersebut (juga layanan media sosial lainnya), cenderung kami menganjurkan Anda untuk sekadar menelusuri identitas kami dengan mengetikkan nama pengguna umum kami (yang—atas Izin-Nya—jamak untuk jejaring sosial A.S.), yakni @latifanshori, melalui menu/fitur pencarian YouTube, Instagram, dan atau jejaring U.S. lainnya. Mohon dimaafkan, dimohon untuk tidak melanggani dan/atau mengikuti jamak media sosial kami. Sekali lagi sebagai penandasan bahwa kami sekadar nice-to-have.

Kami acap di Twitter (dengan nama pengguna @anshori—yang teramankan semenjak Februari 2009) bila memang Anda hendak berkomunikasi lebih lanjut. Fitur pesan langsung atau DM Twitter kami buka untuk publik sehingga, sekalipun tidak mengikuti kami, Anda tetap dapat mengirim pesan kepada kami melalui Twitter (barangkali sekadar mengonfirmasi nomor kontak yang terhubung aplikasi pesan instan WhatsApp). Selain Twitter (dan juga WhatsApp), Anda pun dapat mengontak kami melalui username @latifanshori di Telegram. Jejaring sosial lain yang masih aktif masih terdapat pada laman Sosial blog ini.

Detoks Digital

Kekurangaktifan kami di media sosial berawal dari ke-lumayan-jenuhan yang menghinggapi. Acap kali, kami lebih memilih berdigital-digital, terutama yang bersinggungan dan berfasilitasi layanan internet, pada hal-hal yang memang dirasa perlu atau bahkan penting. Hal ini senada kebiasaan kami yang tidak mengikuti banyak hal di lini masa platform populer. Mendapati istilah “overdosis-konten” dari Tsamara Amany dalam salah satu obrolan bersama Deddy Corbuzier di YouTube menegaskan kami untuk makin mengurangi intensitas berlebih bergawai, lebih-lebih saat sudah pulang di rumah, lebih-lebih lagi menjelang tidur.

Kami tidak antimedia sosial, sekadar lebih banyak mengurangi akses dan/atau penggunaannya. Ibarat memilih bersosialisasi secara langsung lebih bermakna—sekalipun kami bukan tergolong orang yang gemar bergaul, ya, he-he-he. Mohon dimaafkan bila kami sedang tidak membawa gawai ketika bersemuka orang-orang. Menikmati pembicaraan atau menghirup udara segar di luar berlebih dengan penuh ketenangan, bukankah salah satu nikmat yang tidak terkira dari-Nya?

Dicari: Suasana luring/offline berlebih!

Kami kapok, apabila sedang berkomunikasi dengan satu-dua pihak, sedangkan kami sedang menggenggam ponsel untuk berkomunikasi dengan orang lain, entah tiada rasa hati lagi di sana. Iya, kapok, dalam arti, kami pernah melakukannya dan tidak jarang ditegur banyak pihak—ibrah yang teramat berharga. Kami pun lebih memilih berdamai dengan kehidupan yang lebih nyata, mohon izin kami berdemikian. Alhamdulillah.

Dinanti: Media sosial dalam negeri (jamak berteknologi dan bertalenta lokal)!

Masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama, bagaimana kita dapat berkarya dan berdikari di negeri sendiri. PR-PR ini sejatinya nyaris terpecahkan ketika mendapati putra-putri bangsa yang peduli atas hal ini mengupayakan kemandirian bangsa ini. Namun, agaknya sebagian besar (kami pun masih menjadi bagian ini pula—astagfirullah) masih kurang memahami bagaimana kita mesti mengencangkan ikat pinggang untuk benar-benar merdeka. Bagaimana kita tidak bergantung dengan pelbagai produk teknologi dari luar. Adakah kita pernah mendukung produk teknologi dalam negeri?

Adakah kita berkenan menggunakan layanan lokal berlebih, perangkat/gawai yang diproduksi oleh manufaktur lokal berjenama teramat Indonesia? Sejauh mana kita dapat mengupayakan kemandirian bersama, sedangkan kita masih terninabobokan dengan kenyamanan yang ada? Adakah kita pernah memimpikan teknologi yang terdistribusi di negeri ini adalah karya anak-anak Indonesia dan mendukung penuh antarmukanya/tampilannya dalam bahasa Indonesia (syukur bahasa Nusantara)? Mari berefleksi bersama!

Deaktivasi Akun Instagram

Mohon izin kami rehat dari Instagram (akun @latifanshori) entah sampai kapan. Putusan ini sudah menjadi pertimbangan kami jauh-jauh hari sebelumnya. Kami bukanlah selebgram, lebih-lebih influencer. Bukan sebab kami anti-Instagram pula, sekalipun kami masih enggan dengan perusahaan Meta/Facebook, he-he-he. Ya, sebelum diakuisi Meta/Facebook, kami cukup apresiatif dengan duo ko-pendiri Instagram, terutama dengan konsep teknologi berbagi foto (awalnya) yang mereka tawarkan. Lebih kami apresiasi lagi sebab mereka terinspirasi dari platform Tumblr; suatu kerendahan hati mereka dengan menyebut platform yang saat itu belum diakuisisi Yahoo! (sebelum akhirnya dipinang terakhir oleh Auttomatic—perusahaan di balik teknologi WordPress).

Kami sekadar tidak ingin terdistraksi berlebih. Twitter barangkali cukup mewakili ranah-ranah mengikuti perkembangan yang ada dan mengover kebutuhan komunikatif bermedia sosial. Apabila memang membutuhkan aspek visual video, kami mencukupkan diri dengan YouTube (sekalipun kami sekadar penikmat biasa pada umumnya, bukan sebagai kreator konten vlog di dalam platform ini—populer disebut sebagai vloger). Instagram memang masih menarik. Tidak jarang, kami ingin kembali mengaktifkannya. Namun, putusan kami sementara masih bertahan untuk belum memfaedahi platform berbagi foto ini.

Omong-omong, khusus platform berbagi foto, sejatinya, kami lebih tertarik dengan Flickr dan/atau VSCO, ya; meskipun kami juga kurang aktif di sana, he-he-he.

Koda

Sebagai penafian, kami jamak berbahasa Indonesia di blog ini, Latif.id. Hal ini sebab blog kami ini berpeladen/berserver di Indonesia sehingga independensi berkarya di sini lebih memerdekakan—insyaallah. Sejatinya, tidak masalah dengan media sosial populer yang ada. Sayangnya, media sosial tersebut masih jamak dikreasi dan disokong oleh pihak-pihak di luar Indonesia sehingga kami pun sekadar membatasi diri dengan sedikit bermedia sosial, salah satunya di Twitter. Sekali lagi, mohon dimaafkan bila kurang begitu aktif di banyak platform media sosial. Sekadar di Twitter pun, cukup menguras energi berlebih, alhamdulillah.

“Media sosial itu jendela kecil untuk menafsir siapa kita. Rawatlah demi masa depan yang lebih baik.”

Kalam Pak Nukman Luthfie—rahimahullah—pada bio Twitter beliau (@nukman).

Twitter dan blog ini, rasanya cukup—insyaallah. Selebihnya obrolan privat melalui FaceTime, WhatsApp, dan/atau Telegram. Semoga Anda memaklumi putusan kecil kami ini. Semoga kita tetap dapat menjalin silaturahmi, syukur terkoneksi secara langsung atau dapat bersemuka di dunia nyata. Obrolan langsung di dunia nyata terasa lebih nyaman dan hangat, serta terindukan kekinian—alhamdulillah. Salam sehat & takzim kami, tabik!