Latif Anshori Kurniawan

Tiada Cela Berpagi

Diterbitkan pada dalam Blog.

Mohon dimaafkan, pos ini kami mulai dengan penafian bahwa kami tidak mempermasalahkan sebagian kita yang berprofesi lain yang bekerja pada waktu-waktu selain pagi atau siang hari. Pos ini sekadar pengingat kami pribadi dan barangkali dapat berfaedah bagi sebagian yang jamak berpagi-pagi (terlepas apa pun aktivitas/kesibukan yang dilakukan). Terima kasih.

Kita tentu masih ingat masa-masa tumbuh kembang dari kecil sampai dengan menjelang dewasa. Serbaneka hiasan aktivitas berkehidupan menyertai dan tidak pernah sama setiap harinya (meskipun terkadang diprasangkakan penamaannya dengan kegiatan yang serupa). Ada duka, ada suka. Terdapat aktivitas berat, tetapi masih berlimpah yang lebih ringan daripada yang sukar. Tidak jarang, kita dibiasakan, baik oleh orang-orang terdekat maupun keadaan, untuk berpagi-pagi melakukan banyak hal. Tentu saja, bangun pagi adalah masih menjadi primadona kehidupan.

Tidak sedikit dari Anda bangun pagi dan mengisi waktu dengan beribadah. Salat tahajud, witir, dua rakaat sebelum dan subuh, zikir pagi, serta lainnya, barangkali menjadi bagian yang tidak pernah henti-hentinya Anda lakukan—insyaallah. Tidak jarang, bagi sebagian ibu, sebagai seksi ‘si paling sibuk’ di dalam rumah, menyiapkan banyak hal dan beraktivitas berlebih daripada anggota keluarga yang lain. Alih-alih membangunkan anggota keluarga lain, lebih acap sang ibu melakukannya dengan penuh ketulusan seorang diri—masyaallah. Belum peran ayah yang tidak kalah turut berbagi tugas dengan ibu, meskipun masih berlimpah tugas ibu daripada tugas ayah.

Berpagi-pagi adalah nikmat yang tiada duanya bagi semua. Bersyukurlah bagi teman-teman yang memperoleh kesempatan dari-Nya mendapati pagi. Lebih-lebih, mendapati awal fajar pagi yang penuh keheningan dan ketenangan, belum terdengar suar-suar yang mengabarkan bahwa subuh sebentar lagi menyingsing. Udaranya begitu sejuk, menyegarkan ruang-ruang tubuh kita—masyaallah, alhamdulillah.

Aktivitas pagi cukup membuat hectic bagi sebagian kita, terlebih bila putra-putri masih dalam tumbuh-kembang bersekolah. Anak-anak berangkat ke sekolah, para pekerja juga turut beranjak, meskipun barangkali jam pagi mereka tidak seketat anak-anak yang lebih pagi lagi. Jalanan penuh sesak berpadat kendaraan, baik kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Semua terfaedahi penuh sesak. Nyaris-nyaris seakan tiada jeda untuk berhenti sejenak. Kemacetan adalah keniscayaan, kesabaran dan saling menghargai antarsesama pengguna jalan teramat acap ditekankan.

Tiada cela bagi yang berangkat pagi, meskipun terlambat. Namun, terlepas dari saudara-saudari kita yang bekerja secara shift, tiada jaminan tiada cela bagi yang berangkat siang bila memang jam aktivitas telah dapat dimulai sejak pagi. Kesiangan sekali-dua kali bisa jadi tidak mengapa, tetapi tidak untuk terlalu rutin dilakukan bila memang jam normatif kebersamaan di luar ruang kita adalah pagi. Barangkali, memang sebagian memiliki priroritas yang beraneka rupa dalam berpagi, dan bisa saja tiba di kantor pun mendekati siang atau bahkan hampir sore lantaran terdapat kewajiban dan tanggung jawab lain yang mesti dipenuhi. Manasuka menjalani.

Nan pokok, bagi sebagian kita, bangun pagi masih terbilang istimewa. Keistikamahannya memang tidak mudah, tetapi juga tidak sukar untuk dilakukan sejatinya. Hanya saja, kita acap mendistraksi diri sendiri dengan distraksi yang, pada dasarnya, dapat disiasati. Konsistensi teramat berat, tetapi paling tidak, kadar kita berpagi-pagi tidak terlalu melenceng. Masih terbilang pagi, masih dalam waktu pagi, dan mentari belum begitu menggeliat petanda bahwa zuhur makin dekat. Nikmat pagi mana lagi yang kita dustakan? Ia adalah nikmat yang tiada nilainya sebagai bagian dari rona kehidupan hingg tiba saat kita memang benar-benar pulang. Selamat memfaedahi pagi!