Blog

‘Chatbot’ yang Makin Menawan

Hei, sungguh saya kurang dapat bersabar menunggu Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa merilis padanan kata untuk chatbot (chat-based robot) sehingga kiranya diizinkan menyentil diksi yang dapat mewakili, saya mengusulkan ‘botobrol’. Agak memaksa, ya, tetapi tidak mengapa, bukan, untuk coba diusulkan? Barangkali, dapat diusulkan nanti, eh ‘kelak’–wallahualam.

Sebelum memperoleh padanan yang pas untuk chatbot, masih jamak kosakata dalam dunia teknologi informasi (TI) yang belum diserap atau ditemukan padanannya dalam bahasa Indonesia, salah satunya adalah sumber-terbuka alih-alih open-source. Terlepas dari itu, saya belum ingin memperpanjang diskusi ihwal logawiah ini, langsung kita merapat pada pewicaraan chatbot yang makin menarik dari hari ke hari.

Berbicara mengenai chatbot, mengingatkan saya pada obrolan yang terjadi beberapa tahun lalu di salah satu kantin kampus di Kota Semarang. Perbincangan yang dilakukan bersama teman sejawat sesama ‘anak bahasa’ yang memiliki asa ingin mengembangkan sesuatu, dalam ranah TI, yang masih berkait dengan dunia kebahasaan, syukur dapat dirintiskan (menjadi start-up). Namun, nyaris jamak teman menyerah lantaran sudah banyak produk TI yang nyaris ‘menghegemoni’ ranah kebahasaan kita, terutama dalam bahasa Indonesia. Betapa tidak, banyak produk TI kekinian, yang telah menjamur sedemikian rupa sehingga tidak dapat dihitung dengan jari lagi, telah tersedia dalam antarmuka bahasa Indonesia. Yang lebih mengerikan lagi, jamak di antaranya adalah produk andalan bukan dari dalam negeri sendiri.

Siapa yang dapat menepis bila Google Assistant kekinian telah mahir berbahasa Indonesia? Siapa yang dapat mengelak bahwa kita cukup terbantu dengan kecanggihan teknologi Google Translate ketika menerjemahkan banyak hal ke dalam bahasa Indonesia? Sebelum kedua produk Google tersebut dimutakhirkan pada awal tahun ini, saya sedikit memberikan asa kala mengobrol di kantin itu, ada yang masih kita ‘kuasai’ dan dapat kita kembangkan secara mandiri, di antaranya adalah khazanah konten kearifan lokal dan potensi dari kegemaran kita mengobrol.

Kita tidak dapat memungkiri bahwa serbaneka konten lokal adalah kita yang pegang, semestinya ini menjadi ‘senjata pamungkas’ yang baik untuk kemandirian kita ke depan. Tidak masalah, telah banyak putra-putri bangsa yang mengkreasi pelbagai konten yang amat atraktif di media sosial berbasis pada video semacam YouTube dan foto-video semacam Instagram. Saya fokuskan pembicaraan pada hal yang kedua, yaitu kegemaran masyarakat kita yang suka mengobrol, apalagi mengobrol ngalur-ngidul, baik dalam ranah lisan maupun tulis.

Kalau ranah lisan, semua jamak mengetahui dan mudah mendapatinya di warung-warung kopi atau di tempat ramai. Barangkali, hal ini telah lama menjadi tradisi. Begitu pula dalam ranah tulis, betapa para pendahulu kita acap menggemari berkirim pesan surat untuk sekadar menanyakan kabar kerabat keluarga dan sahabat, lebih-lebih kala teknologi berkirim pesan singkat sms mem-booming.

Siapa yang tidak tergila-gila dengan sms pada masa-masa kejayaannya? Nyaris setiap insan Tanah Air, yang memiliki ponsel yang dapat digunakan untuk bersmsan, riang gembira dengan salah satu fitur komunikasi teks dalam ponsel berlayar monokrom waktu itu. Kebiasaan ini terus melebar lebih luas pada ranah yang lebih masif dan dapat dilakukan melalui perangkat komputer personal yang menyajikan pelbagai kanal internet relay chat yang ada. Layanan mengobrol melalui pesan pada layar komputer pun makin berkembang, jamak kelahiran media sosial tidak mengabaikan fitur berkirim pesan, hingga pada akhirnya masyarakat mulai terbiasa dengan BBM dan WhatsApp (WA).

Barangkali, WA yang masih dapat bertahan hingga kekiniaan, penggunanya terus tumbuh dari waktu ke waktu. Sekalipun telah diakuisisi oleh Facebook, WA makin menancapkan akarnya sebagai platform mengobrol via pesan teks (yang kemudian pula layanan pesan suara melalui panggilan audio ataupun video). Kehadiran BBM, Line, Facebook Messenger, fitur Direct Message (DM) Twitter, Telegram, WeChat, dan beberapa pesan instan (instant messaging) lainnya seolah belum mampu menggeser kedigdayaan WA hingga sekarang.

Kembali pada pembahasan chatbot. Chatbot lahir bukan tanpa sebab, ia muncul lantaran teknologi pesan instan yang ada dikembangkan sedemikian rupa atas kebiasaan orang yang nyaris menanyakan hal serupa dari waktu ke waktu. Alih-alih manusia yang mesti merespons sebuah obrolan yang nyaris serupa, yang biasanya dilakukan oleh para penjual jasa atau produk tertentu, dicetuskanlah sebuah ide bagaimana bila yang menanggapi adalah sistem yang telah diatur sedemikian rupa. Salah satu hal inilah yang ditangkap dan dibidik para penyedia layanan pesan instan, dan hal inilah yang pernah saya ‘gadang-gadang’ dalam obrolan bersama rekan ‘anak bahasa’ di kantin kampus tersebut.

Sebagai ‘anak bahasa’, apabila ia adalah Anda, pengembangan chatbot tentu lebih lekat dengan Anda. Bagaimana tidak? Anda yang mempelajari bahasa secara mendalam. Anda yang mengetahui bagaimana rona wicara komunikasi manusia, terutama dalam ranah teks/tulis, lebih mudah diarahkan pengembangannya. Anda yang memiliki ilmu bahasanya, tinggal bersemuka dengan orang-orang TI, lalu berembug bersama.

Omong-omong, berpanjang lebar membicarakan chatbot hingga beberapa paragraf ini, kesejatian esensi chatbot selaik bagaimana, sih? Mudahnya, chatbot merupakan sebuah program yang disematkan ke dalam sebuah aplikasi–jamak aplikasi pesan instan–yang ditujukan untuk membuat rekaan atau simulasi percakapan dengan algoritme kecerdasan buatan (artificial intelligence). Di Tanah Air, chatbot sudah memegang peran penting untuk mendukung roda bisnis dan industri yang ada.

Pengembangan chatbot pun sudah mulai marak, banyak pelaku bisnis telah mengetahui potensi chatbot ini dan telah memasuki ceruk yang serupa. Jangan salah, beberapa pebisnis besar di Indonesia tidak memandang remeh sama sekali atas potensi chatbot.

Mungkin saja para pelaku bisnis telah menyediakan laman frequently asked questions (FAQ, daftar pertanyaan yang acap ditanyakan), tetapi selalu saja pelanggan lebih tertarik untuk bertanya pada layanan pelanggan (customer service). Di sinilah, si chatbot dapat berperan, ia membantu organisasi perseorangan atau perusahaan untuk berkomunikasi dengan pelanggan.

Teknologi di dalam chatbot, sejatinya, bukanlah hal baru. Pada awal kelahiran komputer terdahulu pun, telah dikembangkan teknologi kecerdasan buatan yang merespons perintah dari pengguna komputer, mirip interaksi kita dengan chatbot kekinian. Interaksi inilah yang menjadi salah satu fondasi utama dalam pengembangan chatbot. Bukan teknologi baru memang, tetapi sekadar baru disadari kala beberapa penyedia pesan instan populer, selaik LINE dan Messenger dari Facebook, mengembangkannya dengan keren.

Kalau kita membaca media warta digital daring, kita akan dengan mudah mendapati beberapa perusahaan rintisan lokal telah berfokus pada pengembangan chatbot ini. Ada Bang Joni (yang fokus di LINE), ada start-up kata.ai, dan banyak lainnya. Kalau kita menengok di luar, ada Woebot yang telah dikembangkan oleh para peneliti kecerdasan buatan di Stanford University. Sebenarnya, tidak hanya Woebot, masih ada Simsimi (meskipun sekadar permainan, yang telah mendukung banyak bahasa–tidak sekadar bahasa Inggris), ada banyak lainnya dengan tujuan pengembangan yang bervariatif. Siapa yang dapat menampung semua yang ada?

Lalu, bagaimana dengan Anda, sebagai ‘anak bahasa’, ketika mendapati fenomena chatbot ini? Inginkah mengembangkannya pula? Bagaimana kalau ditanggapi, “Yuk!”

Homebrew dan Git di macOS

Lama menggunakan sistem berbasis kernel Linux, apalagi lebih menggemari pengaturan melalui antarmuka baris perintah (command line interface, CLI), membuat saya ingin mengubah beberapa nuansa serupa agar dapat dieksekusi di macOS. Sejatinya, macOS memiliki shell sendiri, begitu pula dengan serbaneka distribusi Linux, Windows, atau bahkan sistem lainnya (baik pengembangannya bersifat open-source maupun close-source). Acap pengaturan atau konfigurasi sistem secara mendalam ‘mengharuskan’ pengguna untuk bercengkerama dengan beberapa baris perintah yang perlu dieksekusi sehingga menuntut jari-jemari pengguna menari di atas papan ketik laptop/komputer.

Terutama pascainstalasi sistem Linux misalnya, bak kurang afdal bila tidak mengetik-ketik sesuatu di prompt shell yang ada. Jamak distribusi mayor atau bahkan populer masih ‘memerlukan beberapa hal’ agar dapat digunakan (mengikuti kaidah aktivitas penggunaan secara umum), selaik memainkan/memutar berkas audio-video (beformat MP3, MP4, dan lain-lain), perangkat lunak tambahan dan pernak-pernik dependensinya, dukungan driver untuk perangkat yang belum terdeteksi, dan banyak lainnya. Kekinian, biasanya, sih, sudah tersedia perangkat lunak berbasis grafis (graphical user interface, GUI), tetapi dasar memang lebih nyaman dengan tik-ketik sehingga saya lebih memilih opsi ini daripada antarmuka berbasis grafis. Begitu pula kala mengulik macOS pasca-pembaruan sistem yang terkini (dari fresh-install), saya ingin melakukan beberapa hal melalui shell-nya.

Lantaran macOS merupakan salah satu turunan (derivative) Unix BSD (sistem mirip Unix atau Unix-like a la BSD) dan CLI Unix tidak jauh berbeda dengan CLI yang terdapat di dalam sistem ber-kernel Linux, tidak memerlukan waktu lama untuk beradaptasi, apalagi sempat pernah menggunakan FreeBSD dan OpenBSD. Namun, masih terdapat beberapa hal yang kurang. Shell yang terdapat di dalam sistem macOS secara standar (default) belum menyajikan banyak hal, selaik yang terdapat di Linux atau OpenBSD.

Alhamdulillah, atas Izin-Nya, tersedia beberapa dukungan untuk mengakomodasi hal ini, salah satunya adalah dengan memasang fondasi Homebrew. Amat mudah memasangnya. Sebagai catatan awal, barangkali Anda perlu memastikan kata-pas atau password yang digunakan sebagai administrator di dalam sistem macOS Anda, beberapa perintah yang berhubungan dengan pengubahan sistem jamak akan diminta untuk memasukkan password. Di samping itu, sila pastikan pula akses internet Anda masih dalam kondisi stabil (lancar).

$ /usr/bin/ruby -e "$(curl -fsSL https://raw.githubusercontent.com/Homebrew/install/master/install)"

Cukup memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk instalasi fondasi Homebrew (brew) di awal, bergantung pada akses internet dan juga performa perangkat keras (hardware) Mac Anda. Tidak masalah bila sejenak Anda tinggal sekadar untuk membuat secangkir kopi di dapur—elok macOS perlu diatur agar selalu sedia (Stand by) atau tidak mudah memasuki moda Sleep.

Selesai proses pemasangan, Anda dapat bereksperimen atau bereksplorasi beberapa hal, terutama hal-hal berkait dengan beberapa baris perintah bila Anda telah terbiasa dengan shell keluarga *BSD atau Linux sebelumnya. Kita coba salah satu perintah yang umum terdapat di sistem Unix-like, yaitu top. Barangkali, Anda merasa tampilan (hasil dari perintah) program top tidak semenarik dan semeriah perintah htop yang terdapat pada Linux Anda, Anda pun dapat memasangnya melalui wasilah Homebrew.

$ brew install htop

Selesai pemasangan, program htop pun dapat dijalankan di shell dalam aplikasi Terminal macOS Anda. Apabila Anda menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar baris perintah bawaan Homebrew, barangkali Anda dapat mencoba dengan memasang Homebrew-Cask.

Homebrew-Cask ini, sejatinya, tidak jauh berbeda dengan fungsionalitas Hombrew standar yang telah terpasang, tetapi ia menawarkan manajemen yang lebih baik dan pemasangan perangkat yang lebih lekas. Dengan kata lain, Cask lebih memudahkan pengguna untuk mengakses fungsionalitasi Homebrew dan lebih mengedepankan sisi grafis (GUI).

$ brew tap caskroom/cask
$ brew install brew-cask-completion

Apabila Anda ingin menggunakan fitur Homebrew-Cask untuk pemasangan perangkat/program/aplikasi, cukup jalankan perintah sederhana.

$ brew cask install nama-program/aplikasi

Homebrew dan Homebrew-Cask telah tertanam dengan baik di dalam sistem macOS Anda, sila bebas mencoba memasang beberapa utilitas (utility) tambahan yang belum terpasang, yang terdapat pada shell Unix-like pada umumnya. Anda dapat memulai dengan memasang wget, atau bahkan git.

$ brew install git

Git bukan hal baru lagi bagi pengembang perangkat lunak, sejak lama ia menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan komunitas sumber-terbuka. Melalui laman GitHub, lumbung (atau populer disebut repository) perangkat lunak telah banyak memberikan sumbangsih bagi kemajuan teknologi open-source. Hal ini tidak lepas dari sokongan perseorangan (individual) dan organisasi/korporasi, baik skala kecil nirlaba maupun profitable global.

Tidak hanya melalui Homebrew, Anda pun dapat langsung menggunakan Git bila sistem macOS Anda telah Anda upgrade ke versi yang lebih tinggi (kekinian: High Sierra). Secara default, Git telah tersedia pada versi macOS terbaru tersebut, ia merupakan salah satu bagian/bawaan dari kit-peralatan Xcode (dari Apple).

Barangkali, Anda ingin memasang Git selain dari Homebrew, misalnya melalui MacPorts, atau dapat pula merujuk laman Bitbucket ini untuk referensi lebih lengkap. Selamat berinteraksi dengan Homebrew dan Git di macOS!

Bahasa yang ‘Mengancam’?

Berbahasa adalah hak setiap individu. Tiap orang bebas berbahasa, berhak manasuka dalam bertutur kata, baik lisan maupun tulis, sesuai kebutuhan komunikasi. Ada kala para pengguna bahasa perlu saksama dalam menggunakannya, apakah telah sesuai konteks yang ada atau tidak. Ruang konteks acap diakomodasi oleh aktivitasnya dalam ranah formal (resmi) dan nonformal (tidak resmi). Porsi yang digunakan mesti pas. Namun, pada faktanya, hal ini tidak mudah dilakukan.

Ada kala orang bertutur tidak sesuai konteks tuturan, ada kala pula sudah berupaya empan-papan berbahasa, tetapi masih saja keliru. Sejatinya, kekeliruan ini dapat diminimalisasi sedemikian rupa dengan memedomani ‘tata-aturan’ yang diberlakukan pada bahasa tersebut. Tentu saja jamak bahasa di dunia memiliki pedoman aturan yang dapat ditaati, ada asas-asas yang dapat dipijaki sehingga—di antara faedahnya—bahasa tersebut digunakan sebagaimana mestinya dan dapat dipelajari oleh para penutur bahasa lain.

Kita tentu tidak melupakan bahasa Indonesia, bahasa tercinta kita. Ia juga memiliki pedoman kaidah yang dapat dipegangi. Teringat salah satu ujaran yang amat populer bagi penutur bahasa Indonesia pada masa lalu, yaitu berbahasa Indonesia yang baik dan benar, rasanya masih melekat dalam benak kita. Ada pedoman yang dirujuk kala itu, yaitu Pedoman EYD (EYD atau EyD: ejaan yang disempurnakan).

Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dimaknai bahwa bahasa Indonesia dituturkan sesuai konteksnya. Kalau kita bersemuka orang yang lebih senior, tentu elok menggunakan bahasa yang lebih santun, lebih tertata, dan/atau lebih benorma. Ketika bersemuka teman sejawat, bukan masalah bila menggunakan bahasa ragam nonformal selaik bahasa gaul. Begitulah berbahasa yang baik dan benar diimplementasikan.

Saya pribadi tidak memberatkan istilah untuk penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ada kala, sebagian kalangan, malah merasa terbebani dengan istilah ini sehingga saya sekadar menekankan: pergunakanlah bahasa Indonesia (saja). Saya tidak peduli ragam bahasa Indonesia apa yang digunakan, dalam ranah apa ia dituturkan (baik formal maupun nonformal), cukup menandaskan: berbahasa Indonesialah!

Sepanjang tujuan dan maksud dari komunikasi yang dilakukan tercapai, sesuai norma yang berlaku di lingkungan masyarakat setempat, serta ada ‘keselarasan’ pemaknaan antara penutur dan mitra/lawan tutur, selesai sudah salah satu capaian fungsi berbahasa yang hakiki. Selama bahasa Indonesia digunakan sesuai porsinya, tentu diharapkan tidak akan memunculkan perdebatan yang berkepanjangan lagi.

Sebagai sistem ujaran, bahasa memang terkesan tidak mudah dipelajari. Kajiannya yang amat bervariatif pun membuat para pemelajar dan penggemar bahasa tidak jemu-jemu membicarakan fenomena kebahasaan yang terjadi di lingkungan masyarakat. Salah satu fenomena yang menarik untuk didiskusikan perihal penggunaan bahasa Indonesia, misalnya, adalah serba-serbi penggunaan bahasa gaul yang makin menggejala.

Nyaris pada setiap bahasa terdapat ragam/variasi bahasa gaul, ‘kreasi’ bahasa yang dirasa lebih komunikatif—kata sebagian kalangan, tidak terkecuali dalam bahasa Indonesia. Tentu saja porsi dan kadar bahasa gaul yang digunakan pada masing-masing bahasa cukup beragam. Beberapa munsyi menyatakan bahwa kadar bahasa gaul yang ‘membersamai’ perkembangan bahasa Indonesia lebih majemuk daripada bahasa lainnya. Hal ini dapat dibuktikan dari fenomena beberapa kata bahasa gaul yang beragam, entah diturunkan dari variasi sebelumnya ataupun memang memiliki padanan yang terbaru.

Permainan kata yang jamak terjadi dalam bahasa gaul, dalam ragam nonformal bahasa mana pun, adalah lumrah adanya. Hal ini dapat dimaklumi dari sifat dasar manusia yang ingin bermain-main pada banyak hal, termasuk kata-kata. Entah bagaimana kata-kata divariasikan dan digaulkan sedemikian rupa hingga tersebar pada kalangan yang lebih meluas.

Tidak dapat dimungkiri bahwa fenomena bahasa gaul tidak terjadi pada saat ini saja. Dari perkembangan awal bahasa Indonesia, telah lahir beberapa peristilahan gaul. Istilah-istilah gaul tersebut, sebelum muncul ke permukaan, biasanya merupakan peristilahan yang dibentuk oleh sekelompok orang dalam sebuah komunitas. Dari komunitas yang satu berpindah ke komunitas yang lain, dari wilayah yang satu menyebar ke wilayah lainnya, yang akhirnya populer bagi banyak kalangan di banyak tempat lainnya.

Apalagi, kala budaya populer memasuki Indonesia, terutama pada era ’80—’90-an, kala musik-musik asing jamak menghiasi radio anak muda pada masa itu, selaik Prambors. Acara-acara di televisi pun, terutama sinetron dan komedi situasi, jamak dihiasi dengan penggunaan ragam bahasa gaul a la Ibu Kota Jakarta. Penggunaan gue-elu marak terjadi. Anak-anak muda pun jamak meniru fenomena yang ada. Tentu banyak variasi kata yang dihasilkan dalam perkembangan awal bahasa gaul di Indonesia, yang tidak sedikit mencampur-kodekan pula beberapa kosakata bahasa Inggris.

Hal ini, secara tidak langsung, mengingatkan pula aspek kesejarahan bahasa Indonesia terdahulu, lebih lama lagi, terutama ketika masa prakemerdekaan, jamak beberapa pemuda Indonesia belum sepenuhnya berbahasa Indonesia. Masih ada beberapa istilah dalam bahasa Belanda yang digunakan, atau bahkan sepenuhnya masih berbahasa Belanda. Hal ini dapat dimaklumi sebab jamak hal dikabarkan dalam bahasa bekas penjajah Tanah Air tersebut sebab mereka yang mengalunkan roda pemerintahan pada waktu itu.

Kalau menengok arsip sejarah lebih dalam, ada beberapa temuan yang menyebutkan bahwa, sejatinya, Belanda tidak suka bila orang Indonesia kala itu dapat berbahasa Belanda sebab mereka khawatir bila banyak sumber pustaka dalam bahasa Belanda dapat mereka pelajarai. Sesuatu hal yang tidak mereka inginkan bila rakyat Indonesia yang telah mereka jajah sekian lama dapat belajar dan lebih berpengetahuan. Tentu saja hal itu akan meluruhkan kuasa mereka di Nusantara.

Perlu dikembalikan kepada esensi istilah bahasa gaul itu sendiri, terdapat unsur kata ‘gaul’ di dalamnya. Hal ini mengindikasikan bahwa bahasa gaul memang digunakan untuk menunjang komunikasi dalam pergaulan. Pergaulan yang dimaksud sejatinya tidak dibatasi oleh usia, tetapi tidak dapat dimungkiri bahwa para pengusung perdananya adalah kalangan remaja dan muda-mudi. Perkembangan bahasa gaul makin meningkat dari hari ke hari pada era ’90-an, hingga membuat Debby Sahertian merilis buku yang membahas bahasa gaul (atau prokem) secara khusus.

Fenomena bahasa gaul pada sebelum 2000-an tersebut memang masih menyisakan pesona gejala kebahasaan tahun ’80-an. Jamak merupakan derivative (turunan) dari bahasa Betawi, ada campuran dengan bahasa Inggris (well, entah mengapa tiada sisa untuk bahasa Belanda, selain beberapa kosakata yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia), dan beberapa pemendekan kata-kata yang ‘diinspirasi’ dari bahasa sms (layanan pesan singkat, short message service). Tujuan awal dari bahasa sms tentunya untuk menghemat jatah ruang ber-sms yang dibatasi 160 karakter. Bagi Anda yang pernah menggunakan layanan sms pada masa kepopulerannya, tentu masih ingat beberapa singkatan: as, ak/aq, km/u, yg, dng, olh, ttdj, otw, y, g, dan banyak lainnya (jamak kata diringkas, terutama dengan menghilangkan vokalnya dan menyisakan konsonan, ini pun dapat manasuka-bebas bergantung kebiasaan).

Entah bagaimana bahasa gaul yang digunakan, tetapi fenomena penggunaan bahasa Inggris, agaknya, keduanya diparadigmakan berbeda. Barangkali, jamak pihak masih memaafkan popularitas bahasa gaul, tetapi belum tentu dengan bahasa Inggris. Selaik yang telah saya sampaikan sebelumnya, mengapa mesti bahasa Inggris, bukan bahasa Belanda, atau mungkin bahasa asing lainnya. Bisa jadi lantaran gema yang digaungkan bahwa bahasa Inggris merupakan bahasa internasional, bahasa global, sehingga seolah mau atau tidak mau mesti dikuasai.

Saya masih geli sendiri hingga sekarang bila mendapati ujaran dari sebuah obrolan ringan beberapa waktu terakhir, yakni perihal eksistensi bahasa Indonesia. Salah satu ujaran yang dimaksud menandaskan bahwa bahasa Indonesia mesti waspada sebab bahasa Inggris berpotensi mengancam. Sontak saya tertegun, lebih tepatnya terpingkal-tertahan di dalam hati, bila mendengar pernyataan tersebut. Perlu kita luruskan kembali esensi ‘mengancam’ yang dimaksud bagaimana.

Ancaman biasanya memang bersifat membahayakan, keberadaannya sungguh mengkhawatirkan, hingga barangkali perlu ada upaya agar ancaman tersebut tidak betul-betul terjadi. Apa sebab kita mudah membuat pernyataan-pernyataan dengan unsur kosakata ‘ancam’ tersebut? Bukankah sayur ‘terancam’ lebih maknyus bila disantap dengan nasi hangat—yang baru saja diangkat dari wadah penanaknya?

Tidak dimungkiri, bukan, bahwa kata ‘ancaman’ nyaris mudah kita dapati dalam tiap perbincangan, baik dalam taraf ringan maupun berat, baik dalam lingkup rumah tangga maupun permasalahan multinasional. Ringkasnya, semestinya kita tidak bermudah-mudah dengan kosakata ini bila tidak dapat menyertakan evidensi untuk memperkuat penyebutan kosakata tersebut. Dengan kata lain pula, hati-hati ketika menyebut ‘ancaman’.

Kalau dikata bahwa bahasa Inggris mengancam kedigdayaan bahasa Indonesia, kalau masih mempertahankan kata ‘mengancam’, sebelum jauh menyimpulkan, kita tengok pula bahwa dengan kata lain bahasa Indonesia juga dapat mengancam. Lo, bagaimana bisa bahasa Indonesia dapat mengancam? Tidak ingatkah Anda dengan bahasa-bahasa daerah? Adakah di antara Anda yang pernah merasa bahwa bahasa Indonesia mengancam bahasa daerah?

Kita sedikit mengingat perkembangan bahasa nasional tercinta kita, bahasa Indonesia, yang telah disahkan oleh peraturan perundangan yang berlaku di Tanah Air, bahwa bahasa ini digunakan secara resmi dan sadar pada setiap aktivitas keseharian kita di bumi Nusantara. Kita tentu tidak lupa bahwa nenek moyang bahasa tersayang ini adalah dari bahasa Melayu (sebagian Melayu Tinggi, jamak diturunkan dari Melayu “pasar”). Dalam bahasa Melayu sendiri, sudah terdapat jamak kosakata yang diserap dari bahasa Arab, bahasa Indonesia sendiri juga menyerap beberapa kata-kata berbahasa Arab lainnya secara mandiri. Apalagi, sebab pernah mengalami masa lalu dengan pemerintah Belanda, beberapa kosakata dalam bahasa Belanda pun asik-masyuk masuk ke dalam perbendaharaan bahasa Indonesia. Bagaimana dengan bahasa daerah? Ia juga tidak luput memperkaya khazanah bahasa pemersatu bangsa ini.

Kita dapat menengok sebagian istilah dalam salah satu bahasa daerah yang cukup jamak mengambil porsi besar, yaitu bahasa Jawa. Betapa banyak kosakata yang diambil dari bahasa yang jamak dituturkan di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur ini diserap ke dalam bahasa Indonesia. Di sisi lain, jamak orang tua Jawa (yang terlahir dari tanah Jawa asli serta masih memegang kuat tradisi dan budaya Jawa), yang tidak letih memberi wejangan, bahwa para pemuda, dari waktu ke waktu, dinilai jamak tidak peduli dengan bahasa Jawa dan hal-hal yang menghiasinya.

Hal tersebut didukung makin sedikit orang yang dapat berbahasa Jawa ragam Krama-Inggil. Hal ini pun belum menyinggung makin sedikit pula yang masih memiliki hasrat/gairah (passion) untuk mempelajari atau bahkan peduli dengan bahasa Jawa serta unggah-ungguh-nya. Yang menjadi ‘tersangka’, masih generasi muda, tetapi memang tidak dapat dimungkiri bahwa fakta di lapangan menunjukkan realitanya. Selain para duta bahasa, jamak pemuda/pemudi sudah tidak peduli dengan bahasa Jawa. Beberapa telah melupakan nilai-nilai yang terkandung dalam Macapat (belum perihal bagaimana tatanan kalimatnya), bisa jadi kurang dapat menikmati geguritan yang acap mengandung beberapa nilai kehidupan, dan banyak lainnya. Bagaimana dengan kondisi bahasa daerah lainnya, apakah mengalami hal yang serupa?

Fakta mengejutkan lainnya adalah, ternyata, jamak pemuda/pemudi yang dilahirkan di Jawa kekinian telah dikenalkan bahasa Indonesia sejak dini, tidak memandang ia dibesarkan di desa ataupun di kota. Bahasa Jawa atau bahasa daerah lainnya tidak diajarkan sebagai bahasa ibu mereka, tidak dilatihkan sebagai bahasa pertama mereka, bukan menjadi pilihan menarik bagi orang tua terkini untuk mengenalkan bahasa Jawa pada awal perkembangan putra-putri mereka. Bukankah fenomena ini menjadi bukti bahwa bahasa Jawa cukup ‘terancam’ dengan bahasa Indonesia—bila masih ingin menggunakan istilah ‘ancaman’? Pendek kata, kalau kita mengatakan bahwa bahasa Inggris mengancam bahasa Indonesia, bahasa Indonesia pun sejatinya juga mengancam bahasa daerah. Pada simpulannya, akan dikata bahwa antarbahasa akan saling mengancam. Tidak lucu, bukan?

Bahasa Diciptakan-Nya, dengan salah satu tujuan, untuk memudahkan kita berkomunikasi. Tidak ada unsur ancaman di sana, sama sekali tidak ada. Kalau bahasa Inggris dinilai mengancam, semestinya bahasa Belanda kala masa kolonialisme dahulu juga menjadi bahasa yang mengancam—pada kenyataannya, tidak ada literatur yang mengatakan demikian. Kalau bahasa Inggris dapat mengancam, bagaimana dengan bahasa Melayu, bagaimana dengan bahasa Korea dan bahasa Jepang, serta—yang barangkali lebih ‘mengancam dan berbahaya’, yaitu—bahasa Mandarin? Sungguh tidak lucu bila antarbahasa dikata saling memberi ancaman.

Bukan bahasanya yang mengancam, melainkan manusianya.

Tiada ancaman dalam penggunaan bahasa. Apabila kita minder dengan bahasa Indonesia dan seolah ingin memperjuangkan bahasa Indonesia (sebab dianggap tertinggal daripada bahasa lainnya), perlu adanya upaya-upaya agar muncul lagi kecintaan terhadap bahasa Indonesia ini. Tidak dimungkiri lagi bahwa penggunaan bahasa gaul lebih mewabah daripada penggunaan bahasa Indonesia. Tidak dapat dinafikan lagi bahwa, ketika kita membiarkan para generasi muda berbahasa gaul, kita tidak dapat memastikan bahwa pengetahuan atas empan-papan berbahasa telah ada di dalam diri mereka.

Kalau kita ‘anak bahasa’, barangkali kita sangat memahami bahwa penggunaan bahasa Indonesia ada empan-papan-nya, perlu disesuaikan konteksnya apakah termasuk dalam ranah formal atau nonformal. Barangkali, kita sangat mengetahui hal ini dan dapat menempatkan diri ketika berbahasa. Namun, adakah jaminan bahwa saudara-saudara kita yang lain dapat berbahasa Indonesia dengan semestinya? Siapa dapat menjamin?

Sungguh, sejatinya, tiada masalah dengan keberadaan beberapa bahasa selain bahasa Indonesia. Bahasa lain itu pun tidak akan mengancam eksistensi bahasa Indonesia, bahasa Indonesia pun dapat menjadi bahasa yang ‘tangguh’ dan disegani di kancah internasional. Teringat wejangan dari Prof. Anton M. Moeliono yang pernah menyatakan—kurang lebih atau pada intinya—bahwa, kalau bahasa Indonesia ingin menjadi bahasa internasional, bukan kuantitasnya (jumlah penuturnya) yang ditekankan, melainkan kepiawaian, kecendekiaan, dan kemahiran ketika menggunakan bahasa Indonesia. Sekali lagi, bukan jumlah penuturnya.

Kita dapat menengok bahasa Jepang, bahasa yang tidak lebih banyak daripada bahasa Inggris ataupun bahasa Mandarin. Namun, bahasa ini menjadi perhatian tersendiri, terlepas dari kiprah orang Jepang yang dikenal tekun, tangguh, dan pekerja keras. Begitu pula dengan bahasa Jerman, barangkali tidak banyak negara selain Jerman yang menggunakan bahasa ini, tetapi bahasa resmi Negeri Panzer ini cukup disegani. Kemudian, salahkah bila ada orang Indonesia yang belajar (melalui praktik) berbahasa Jepang dan Jerman sebab ia memang memiliki kebutuhan atas dua bahasa tersebut? Mengapa, tidak?

Hak setiap orang belajar berbahasa asing mana pun, sesuai kebutuhannya. Namun, barangkali memang perlu diingatkan pula untuk tidak melupakan bahasa sendiri, baik bahasa resmi negara (bahasa Indonesia) maupun bahasa daerah/lokal. Hal ini yang—barangkali—perlu digalakkan lagi: bagaimana bahasa Indonesia dan bahasa daerah diindahkan kembali, dipelajari lagi, serta lebih dipedulikan lagi; bagaimana saja upaya yang perlu dilakukan agar setiap pemelajar dan pengguna bahasa Indonesia dan daerah dapat menggunakan bahasa sesuai dengan porsi dan penempatannya.

Selaik dalam kehidupan ini, semua harus sesuai kadarnya, mesti pas. Tidak perlu mengkhawatirkan eksistensi bahasa lain selain bahasa Indonesia. Bahasa-bahasa tersebut tidak akan pernah mengancam bahasa Indonesia selama kita masih peduli dengan bahasa resmi negara Indonesia ini. Tidak perlu mengancam atau merasa terancam atas keberadaan bahasa asing. Selama kita masih berkenan mendalami, peduli, dan menggunakan bahasa Indonesia dengan semestinya, hal ini sudah lebih dari cukup. Mengutip intisari kalam Prof. Anton sebagaimana telah disebutkan di atas, tentu ada asa bagi bahasa Indonesia untuk dipandang menjadi penting bagi penutur aslinya, yaitu rakyat Indonesia.

Mari lebih peduli dengan bahasa Indonesia! Memang tidak mesti berbahasa Indonesia setiap saat, setiap waktu, di setiap tempat, tetapi sedikitnya kita awali dengan ‘peduli’. Awal kepedulian ini nanti barangkali—atas Izin-Nya—akan menginisiasi pelbagai hal atau kegiatan yang mengerenkan bahasa Indonesia. Ayo berbahasa Indonesia!