Blog

Ada Batas ‘Percaya Diri’?

Hidup ini penuh dengan kebelumtentuan. Dalam kenyataannya, dengan mudah kita dapati ketidaktentuan. Semuanya serba tidak pasti, semua hal tidak dapat dikadarkan dengan ukuran kita yang masih acap semena-mena.

Tidak dapat dimungkiri bahwa Allah-lah yang Mengetahui hal-hal tentu dan pasti. Dialah yang menakar semuanya dengan takaran-Nya yang pas dan sesuai untuk segenap makhluk-Nya. Pada sisi lain, kita sendiri pun sejatinya tidak dapat menakar diri sendiri, apalagi menakar orang lain dan segala ciptaan-Nya di semesta raya.

Batasan kita hanyalah prasangka (zhan). Ada kala prasangka itu benar, ada kala pula kurang sesuai yang semestinya. Namun, siapa di antara kita yang dapat menjamin bahwa setiap prasangka yang kita betikkan adalah tepat? Siapa yang dapat menjamin segala prasangka manusiawi yang ada masih berada di atas koridor kebenaran? Kebenaran yang mana dan seperti apa? Kebenaran dari sudut pandang atau prasangka siapa? Alhamdulillah, hanya kepada Allah-lah tempat kita berpulang.

Segala hal Diciptakan-Nya agar kita kembali kepada-Nya, agar kita tersadar bahwa kita tidak kuasa sehingga wajib untuk mengingat-Nya dan menyandarkan diri hanya kepada-Nya. Sekuat dan sehebat apa pun kita, tiada daya dan upaya sedikit put, kecuali atas pertolongan-Nya yang tiada henti.

Masihkah ada di antara kita yang akan membilang bahwa segala apa yang melekat pada diri adalah atas upaya atau ikhtiar pribadi? Masihkah terdapat keberanian dalam diri kita untuk menyatakan bahwa rezeki fisik yang ada (harta, karier, dan banyak lainnya) adalah atas upaya dan kerja keras sendiri? Sampai kapan melupakan-Nya, tanpa ‘melibatkan’-Nya sama sekali? Atau, barangkali tetap ‘menyebut’-Nya, tetapi tetap disertakan usaha sendiri atas nama ‘ikhtiar’?

Tentulah, dari kehidupan ini, segelintir saja yang dapat kita pelajari hikmahnya, hanya beberapa hal yang telah Disebutkan-Nya dalam banyak Risalah-Nya, di antaranya seputar masa, rezeki, dan kematian. Siapa yang dapat mengendalikan masa atau waktu? Kita semua dapat dikata sekadar mengisi waktu semampu kita, entah digunakan untuk hal sia-sia ataupun untuk hal-hal yang lebih berfaedah.

Siapa yang menjamin rezeki kita? Tentu saja Allah Ta‘ala. Semua yang kita peroleh selama berkehidupan ini adalah rezeki-Nya. Rezeki bukan hanya berarti harta benda, melainkan seluruh hal yang dianugerahkan-Nya kepada kita. Kita dapat bernapas, ini nikmat rezeki yang tiada tara. Lebih-lebih bila kita dapat merasakan nikmat beribadah kepada-Nya merupakan salah satu wujud rezeki-Nya yang termanis.

Sekali lagi, segala hal yang Dikaruniakan-Nya kepada kita di dunia ini adalah rezeki, tidak mesti perihal harta. Justru, harta yang hakiki adalah sebagian rezeki dari-Nya yang kita sedekahkan bagi sesama. Yang disedekahkan tersebut akan menjadi saksi dan timbangan berat-baik kita, juga akan menjadi wasilah kebaikan bagi orang-orang terdekat pula—insyaallah.

Sedekah yang dilakukan elok masih dalam koridor yang telah dituntunkan-Nya sedemikian rupa. Selaik hal ibadah, ada koridor dan norma yang perlu kita taati. Dari mana lagi kita dapat mengetahui norma sedekah ini dan norma-norma ibadah lainnya kalau bukan dari majelis ilmu agama yang sahih, sesuai Quran dan Sunnah, yang mengajarkan semua hal yang berguna bagi perikehidupan kita.

Harta yang Hakiki
Perlu kita ingat bersama bahwa harta kita yang hakiki adalah yang kita sedekahkan, yang ‘dibelanjakan’ di jalan Allah. Sementara apa yang kita ikhtiarkan atas Izin-Nya dalam upaya penerimaan atas serbaneka rezeki fisik yang disebut harta benda itu sendiri, yang kita kumpulkan dari bekerja/berusaha/berniaga/berdagang, sejatinya untuk para ahli waris kita, untuk orang-orang yang tinggalkan.

Pelbagai rupa wujud rezeki fisik. Pada dasarnya, pelbagai barang yang kita terima adalah titipan-Nya semata. Kita hanya Dititipi-Nya. Lantaran hanya ‘Dititipi’, bukan hak kita untuk membawanya hingga ajal menjemput. Tiada barang duniawi yang kita bawa pulang ke Alam Barzakh. Yang menemani, di antaranya, adalah amal yang pernah kita perbuat.

Barang-barang fisik duniawi tersebut tiada bernilai sama sekali. Yang menjadi pertanggungjawaban kita kelak adalah mengapa dan bagaimana kita mendapati barang-barang duniawi tersebut, mengapa kita mengupayakannya, bagaimana kondisi halal-haramnya, dan seterusnya. Justru, serbaneka upaya duniawi, hanya akan memuarakan pertanyaan dari-Nya pada Hari Pertanggungjawaban kelak.

Mati, dikenang? Selesai?
Barangkali, kita memang meninggalkan hal-hal yang dikenang oleh khalayak ramain pasca-ketiadaan kita. Namun, dapatkah kita menjamin kenang-kenangan tersebut adalah ‘baik’ di Mata-Nya? Dapatkah kita menjamin atas pelbagai hal yang kita tinggal adalah berfaedah bagi sesama?

Dapatkah kita menjamin kadar penerimaan ‘baik’ oleh-Nya adalah sama dengan prasangka kita? Sungguh, Allah Telah jamak Mengisahkan betapa banyak orang-orang terdahulu yang ‘terlalu percaya diri’. Hal ini tentulah bukan sikap pesimis, melainkan malah sikap motivasi agar berhati-hati atas pelbagai hal yang diperbuat.

Sudah ada Quran dan Sunnah sebagai petunjuk hidup kita, telah banyak alim ulama dan asatiza yang menerangkan samudera ilmu Islam sahih kepada kita. Kita tinggal memeganginya, tinggal menggigit dengan gigi geraham kita, sambil terus berupaya untuk menempuh jalan-jalan menuju majelis ilmu agama. Hal ini dilakukan, salah satu faedahnya adalah, agar kita tetap terarah dalam mempersiapkan kematian kita, kita masih dalam naungan Rida-Nya dan Kebaikan-Nya.

Sejatinya, majelis ilmu Islam adalah majelis rahmah, yang Dirahmati Allah, dan para malaikat menaungi segenap hadirinnya dengan sayap-sayap mereka. Di majelis ilmu pula, kita dapat bersua dengan orang-orang shalih, yang barangkali bisa jadi saling menguatkan, saling ta’awun, terutama pemantapan hati-hati antarkita agar senantiasa Ditenangkan-Nya dan Didamaikan-Nya.

(*Untaian nasihat sederhana melalui tulisan di atas ditujukan kepada diri pribadi penulis terlebih dahulu. Semoga dapat dituai ibrah dan berfaedah bagi semua.)

‘Diet’ Ponsel

Beberapa hari, seorang teman menyatakan bahwa ia tidak menyentuh telepon seluler (ponsel) bersistem operasi terkininya selama beberapa hari. Semula tidak disengaja, sebab ponselnya tidak dapat dioperasikan sebagaimana mestinya, kemudian mendadak ia pun melanjutkan menonaktifkan ponselnya dan belum sempat mendatangi reparasi ponsel untuk diperbaiki.

Singkat cerita, ia pun berdamai dengan hidupnya. Ia tidak lagi terdistraksi dengan notifikasi pesan instan WhatsApp yang setiap hari nyaris tidak berhenti berdenting, sekalipun semua grup di dalamnya telah disenyapkan. Ia tidak lagi merasa harus menonton serbaneka video di YouTube yang setiap hari menghiburnya.

Ia juga tidak perlu membuka laptopnya untuk mengakses internet. Ia merasa bebas, dan pikirannya lebih terkendali sehingga lebih tenang menjalani hidup. Demikian penuturannya.

Saya cukup terkesima dengan upayanya tersebut. Jujur, sekalipun tidak pegang ponsel, saya masih dapat menggunakan Mac untuk sekadar menulis ringan, dan sesekali berselancar di dunia maya sekadar membaca-baca beberapa hal. Saya termasuk yang masih tercandukan oleh gawai-gawai berinternet ini.

Bagaimana, tidak? Sekalipun sekadar melihat pesan singkat dari beberapa kanal Ahlussunnah di Twitter dan Telegram, aktivitas ini masih saya kategorikan ‘belum dapat lepas dari ponsel’. Sungguh luar biasa bila mendapati, “Ada, ya, orang yang biasanya pegang ponsel lalu lepas begitu saja selama beberapa hari,” atau bahkan sepekan, bahkan beberapa bulan berikutnya. Kalau yang saya sebut terakhir, adakah (dalam keadaan normatif menyengaja tidak memegang ponsel berbulan-bulan)?

Saya tidak tahu harus merespons bagaimana, apakah saya mengikuti gaya teman saya tersebut atau tidak. Yang pasti, sebab ponsel pribadi telah cukup menua, saya amat jarang memegangnya. Beberapa aplikasi yang dirasa cukup memberatkan ponsel, di antaranya adalah Facebook dan Instagram, saya lepas darinya.

Kebutuhan untuk mengakses dan membaca-baca lini masa akun pribadi di media sosial tidak begitu acap dilakukan sehingga melepas nyaris semua aplikasi mobile medsos adalah bukan masalah. Ponsel pun ringan sebab tidak banyak aplikasi. Yang jamak berdentang pun masih hanya WhatsApp, Telegram masih ada sekalipun tidak acap ditengok.

Untuk catat-mencatat, masih mengandalkan Simplenote kekinian. Namun, apabila kebutuhan mencatat cukup berlebih, saya cenderung menggunakan Simplenote di Mac. Hal ini sudah mencukupi. Sejak menggunakan Simplenote, gaya mencatat pun sedikit berubah. Acap jamak tulisan dibuat di Simplenote dahulu, baru kemudian disalin-tempelkan ke media lain, salah satunya tulisan untuk blog ini.

Hingga kini, belum memasang WordPress di Mac. Khawatir terlalu banyak aplikasi yang terinstal, di samping memang saya lebih suka bila satu aplikasi untuk mengerjakan satu tugas. Akhirnya, Simplenote masih terandalkan untuk menulis. Bagaimana dengan Evernote? Barangkali, memang lebih kaya fitur dan lebih unggul pada beberapa hal, tetapi saya belum memerlukannya.

Yah, bagi saya, ‘diet’ ponsel cukup menarik, mengingat jamak orang kekinian tercandukan atas ponsel. Banyak temuan data yang menyatakan bahwa setiap tidak lebih dari 10 menit, jamak orang akan menengok ponsel masing-masing, sekalipun tiada notifikasi, sekalipun tidak diperlukan. Paling sedikitnya adalah ponsel hanya dipegang-pegang sedimikian rupa.

Bagaimana dengan Anda? Adakah yang pernah tidak memegang ponsel selama beberapa hari dan memperoleh dampak positif? Adakah yang menyadari rasa kencanduan gawai sehingga perlu untuk melakukan terapi?