Mengamankan Privasi Anda di Ruang Maya

Kali ini, saya tidak akan grambyang perihal privasi selaik sebelumnya. Pembahasan sebelumnya tersebut terinspirasi dari hasungan pihak WordPress yang menandaskan bagi penggunanya untuk menampilkan laman khusus perihal kebijakan privasi. Well, barangkali diskusi dan perdebatan perihal privasi bakal tiada habis. Yang pokok dari hal ini, semestinya kita perlu lekas ‘bertindak’.

Upaya yang dilakukan tidaklah berat sejatinya. Sekadar pengingat edukatif bagi saya–sebagai catatan pribadi–dan barangkali dapat dipetik pula oleh pembaca yang budiman. Ihwal keamanan privasi memang perlu untuk tidak letih digemakan. Selain itu, elok pula untuk ‘melakukan sesuatu hal’ sedini mungkin guna mengamankan privasi Anda di internet. Hal yang perlu dilakukan dapat bervariatif, berikut dari kami.

Pilih Software dan OS yang ‘Aman’
Saya concern dengan keamanan. Itulah mengapa lebih memilih berjamak-jamak waktu bersama perangkat lunak atau sistem operasi komputasional yang kiranya mempertimbangkan faktor keamanan. Hal ini mengingatkan pada perangkat lunak yang diikhtiari mengamankan pelbagai aktivitas meramban web kita. Pada sisi sistem operasi, terdapat sistem berbasis Unix BSD yang fokus keamanan sistem yang lebih kompleks, salah satunya yaitu OpenBSD.

Pada dasarnya, setiap perangkat lunak ataupun sistem operasi yang masih eksis di dunia ini mengedepankan aspek-aspek keamanan bagi segenap penggunanya. Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa proyek komunitas open-source-lah yang cenderung dan jamak berkontribusi dominan atas pengamanan privasi dan data/informasi segenap pengguna di blantika dunia maya.

Selaik yang dilakukan para pengembang open-source lainnya, kala ditemukan awakutu (bug) pada perangkat lunak atau sistem, lekas-lekas dicari solusi bersama guna menambalnya (melalui patch). Syukur, persona yang mendapati dan melapor, berkenan sekalian memberikan patch yang diperlukan–biasanya memang selaik demikian.

Saya menyebut OpenBSD di atas sekadar menyuratkan di antara bejibun proyek pengembangan terbuka yang berspesifikasi pada faktor keamanan (security). Keduanya bersifat open-source. Dengan kata lain, selaik jamak pengembangan berbasis sumber-terbuka lainnya, selaik sistem ber-kernel Linux (GNU/Linux), sistem keluarga Unix BSD, dan perangkat lunak yang jamak dirumahkan dalam repositori GitHub dan/atau GitLab, amat memperhatikan segala hal yang berkait dengan security.

Perdalam Pemahaman Perihal Keamanan Privasi
Saya tidak akan menjelaskan belebar dan panjang ihwal keamanan privasi di sini. Terdapat banyak resources yang dapat dimanfaatkan, di antaranya selaik beberapa artikel yang dipublikasikan oleh Electronic Frontier Foundation (EFF), The Internet Defense League, bahkan sekelas Dyne.org. Untuk yang terakhir, barangkali bukan berfokus hanya pada keamanan, selaik komunitas BerliOS lebih dari satu dekade lalu atau komunitas open-source-nya, tetapi mereka tidak mengabaikan esensi security.

EFF merupakan salah satu di antara organisasi berbasis komunitas yang peduli dengan pengguna dunia maya dan dengan tidak tanggung-tanggung mengibarkan bendera perang atas pelanggaran terhadap privasi dan hak-hak pengguna internet lainnya agar tetap terjaga. Anda dapat memulai pada laman “Surveillance Self-Defense” (SSD) mereka–atau sila pula merujuk laman “Security Education Companion” (SEC) mereka bila Anda adalah seorang pendidik dan ingin membelajarkan perihal keamanan data pada siswa/mahasiswa Anda.

Berlainan hal dengan Dyne.org, sebuah organisasi nirlaba terbuka berbasis di Belanda, barangkali memang berkecimpung pokok di dunia open-source., tetapi mereka juga tidak kalah peduli dengan pengembangan peranti peduli privasi. Lantaran berbasis di Belanda dan fokus dominan mereka di Eropa (dengan tidak menutup kemungkinan bagi seluruh negara di dunia), mereka mengembangkan D-CENT.

Tidak Berbagi Hal-hal Privatif
Saya dahului dengan diksi dilema. Kadang, bisa jadi acap kali, kita kurang dapat membedakan mana saja hal-hal berbau privatif dan perlu untuk tidak dibagikan kepada yang lain. Ada kala, barangkali lantaran Orang Timur–menukil pendapat beberapa orang, rasa percaya terhadap orang lain adalah dinomorsatukan. Pada muara berikutnya, apapun dapat terjadi. Dapat membuat kita bersedih, dapat pula membuat kepercayaan kita makin terpupuk untuk mempercayakan hal-hal lainnya.

Perlu ada sosialisasi edukatif perihal hal-hal berbau privasi. Jangan sampai pula kita malah menjadi fobia dan sangat ketat berbagi. Untuk hal terakhir, malah bagus bila empan-papan (sesuai pada tempatnya, sesuai konteks situasi dan kondisi, dan seterusnya). Namun, sungguh, kita perlu berhati-hati ketika berbagi informasi yang bersifat privatif (selaik yang sempat disampaikan pada pos sebelumnya, seperti: tempat dan tanggal kelahiran, nama lengkap orang tua dan hubungan kekeluargaan, nomor identitas kependudukan, dan lain-lain).

Hal ini merupakan proteksi secara manusiawi. Betapa pun canggih peralatan (tools) yang digunakan untuk mengamankan privasi kita, tetapi sikap atau perilaku kita tidak mendukung, entah bagaimana muara akhirnya nanti. Nan pokok, tools memang perlu disandingkan dengan pengarahan sikap baik agar keduanya dapat saling melengkapi harmoni yang ada. Selanjutnya, kita pun dapat mengajak yang lain untuk lebih peduli dengan keamanan privasi. Kita dapat menjadi bagian mengedukasi khalayak untuk hal ini sehingga masyarakat menjadi lebih aware atas privasi dan langkah-langkah komprehensif dalam upaya mengamankannya.

Coda
Upaya pengamanan privasi dan data lain pengguna memang tidak boleh diabaikan. Kita tetap mesti menjunjung tinggi proses pengamanan yang terus-menerus (berkelanjutan) dari waktu ke waktu. Hal ini pun perlu melibatkan semua elemen, dari tools yang menunjang hingga pada sisi hubungan antarsesama.

Akan ada batas bagaimana privasi itu memang perlu diungkap. Sebagai contoh, kala data yang ada amat genting dibutuhkan oleh pemerintah Indonesia. Elok memang bila berkenan bekerja sama yang baik dengan pemerintah untuk kebaikan bersama.

Hal tersebut juga sebagai wujud ketaatan dan penghormatan kita kepada pemerintah sehingga–mudah-mudahan–akan menghasilkan maslahat dan meminimalisasikan mudarat yang lebih besar–insyaallah. Semoga berfaedah!

macOS Mojave dan iOS 12: Pembaruan Sistem Apple Tahun Ini

Rencana pembaruan sistem-operasi Apple terbaru, baik untuk desktop (seri MacBook Pro/Air dan MacPro) maupun mobile (baik iOS, watchOS, maupun tvOS), telah diumumkan. Walaupun belum dirilis (masih dalam tahap uji-coba), telah diperkenalkan nama kode pengembangannya, di antaranya macOS Mojave dan iOS 12.

Pembaruan (upgrade) ke macOS Mojave dan iOS 12 dijanjikan ketersediaan keduanya pada tahun ini. Ihwal fitur-fitur yang telah dipertunjukkan, dapat Anda simak melalui media warta digital/daring. Kita tengok nanti bagaimana rupa tiap-tiap fitur baru tersebut.

Fitur baru belum tentu diperlukan dan belum tentu sesuai dengan peranti yang digunakan, sekalipun masuk dalam senarai peranti atau perangkat keras yang didukung. Yang disayangkan, beberapa peranti lama—pada tahun-tahun sebelumnya—belum tentu terdapat di dalam daftar.

Kami acap memilih untuk menunggu kestabilan, belum melakukan pembaruan bila baru saja dirilis. Hal ini pun masih dihantui kalau-kalau peranti kami tidak termasuk dalam daftar perangkat yang dapat menjalankan upgrade sistem terbaru. Di samping itu, belum tentu peripheral per bagian perangkat, selaik ruang penyimpanan, mengakomodasi kebutuhan.

Apabila Anda ingin upgrade versi sistem-operasi terbaru iOS, berdasarkan dari jamak pengalaman pengguna, elok menyediakan ruang penyimpanan yang cukup lega, minimal sekitar di atas 16 gigabita. Apabila memungkinkan, elok di atas 16 gigabita, selaik 32–64 gigabita, syukur sudah 128 gigabita.

Lain kasus bila menggunakan macOS, kecenderungan pembaruan yang dilakukan tidak memerlukan space berlebih. Hal ini mengingat kapasitas storage yang telah terpasang secara standar (default) pada MacBook Pro/Air atau MacPro sudah lebih dari bergiga-gigabita–berkonteks pada perangakt yang dikeluar minimal sekitar 2009/2010.

Tidak semua orang terburu untuk upgrade atau update sistem-operasi atau perangkat lunak Apple. Bergantung pada kebutuhan tiap individu yang cenderung bervariatif. Bagaimana dengan Anda; seberapa acap Anda memperbarui sistem-operasi peranti/perangkat Apple Anda?

Perlukah Segera Bermigrasi dari GitHub ke GitLab?

Santer dikabarkan bahwa Microsoft telah mengakuisisi GitHub. Awal kabar ini diembuskan oleh Bloomberg. Sebagaimana yang diketahui, GitHub merupakan layanan daring yang mengizinkan para pengembang perangkat lunak (software developers) untuk merumahkan (meng-host-kan) atau melumbungkan (merepositorikan) kode mereka dengan basis komputasi awan (cloud-computing atau sekadar disebut cloud). Dengan kata lain, GitHub merupakan sistem manajemen kode sumber (source-code) untuk Git. Git, awal mulanya, diinisiasi oleh Bapak Linux internasional, yakni Linus Benedict Torvalds pada sekitar 2005.

Seiring waktu berlalu, sejak dirilis pertama kali, layanan GitHub makin populer di kalangan pengembang. Nyaris jamak proyek sumber-terbuka (open-source) dan bahkan beberapa proyek semi-tertutup, baik bersifat pribadi/personal pengembang maupun enterprise (guna menunjang kebutuhan korporasi/perusahaan), telah memanfaatkan GitHub. Jamak pihak pun mengenal dan mempopulerkan GitHub sebagai sentra pengembangan perangkat lunak semesta.

Kabar Microsoft ‘membeli’ GitHub memantik pelbagai respons. Sebagian kalangan merasa kecewa dengan deal yang terjadi, terutama jamak dari para aktivis sumber-terbuka, sedangkan sebagiannya lagi tidak begitu mempermasalahkan. Bagi kalangan yang kurang rida dengan akuisisi tersebut, jamak telah memigrasikan lumbung perangkat lunak mereka dari GitHub ke GitLab atau penyedia repositori lainnya.

Bagi kalangan yang menyambut positif, akuisisi tersebut dimaknai sebagai kemajuan dukungan dari dunia korporasi terhadap proyek dan komunitas sumber-terbuka. Microsoft sendiri, pada beberapa tahun terakhir, aktif berkecimpung dan mendekat dengan proyek/komunitas open-source. Microsoft pun telah menjadi salah satu di antara jajaran sponsor utama yayasan Linux global, yaitu Linux Foundation, yang berpusat di Amerika Serikat.

Microsoft pun, di bawah kepemimpunan Satya Nadella kekinian, telah menyatakan bahwa mereka mencintai Linux melalui slogan: Microsoft ❤ Linux. Wujud kecintaan perusahaan yang didirikan Bill Gates ini pun dalam pelbagai rupa, di antaranya adalah mereka mengimplementasikan agar Ubuntu dan shell BASH dapat berjalan di atas Windows 10. Beberapa proyek mereka pun bersifat terbuka, salah satunya adalah PowerShell. Selain itu, mereka juga mengustomisasi kernel Linux guna menunjang peranti Internet-of-Things (IoT) Azure.

Beberapa kalangan kurang dapat menerima atas langkah-langkah yang ditempuh Microsoft memasuki ranah-ranah sumber-terbuka. Hal ini dapat dimaklumi sebab orientasi pengembangan perangkat lunak yang dilakukan oleh Microsoft adalah proprietary tertutup (close-source) dan memiliki kecondongan pada motif bisnis. Ada pula kekhawatiran bila nilai-nilai pengembangan sumber-terbuka akan bergeser dari yang semestinya. Wallahu A’lam.

Selaik yang disampaikan di atas, sebab pemberitaan akuisisi GitHub oleh Microsoft adalah bukan sekadar rumor, sebagian pengembang sumber-terbuka pun ramai-ramai memindahkan repositori mereka dari GitHub ke GitLab. GitLab bukanlah layanan yang baru, yang baru dikreasi atas isu kesepakatan Microsoft ini. Jamak pengembang telah memfungsikan GitLab untuk keperluan pengembangan mereka, selaik yang dilakukan di GitHub. Tidak dapat dimungkiri bahwa GitHub lebih difavoritkan oleh para pengembang sebelum akuisisi tersebut.

Perihal langkah-langkah migrasi dari GitHub ke GitLab, Anda dapat membaca—salah satunya—dari dokumentasi GitLab. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah harus segera memigrasikan lumbung/repositori perangkat lunak kita ke GitLab? Manasuka setiap pengembang, lagi-lagi bergantung pada kebutuhan.

GitHub masih memiliki porsi yang masih sayang untuk ditinggalkan. Lagipula, layanan GitHub bisa jadi tidak akan banyak ‘berubah’ pascaakuisisi sebab para petinggi dan pengurus utama pun masih menggerakkan operasional harian secara normatif. Wallahu A’lam. Bagaimana menurut Anda?