Latif Anshori Kurniawan

FLOSS

Bismillah.

Berbicara mengenai FLOSS, tentu tidak terlepas dari pengembangan perangkat lunak (software) dengan kode-sumber (source-code) bersifat terbuka untuk publik. Esensi dari sumber-terbuka (dalam konteks teknologi informasi) adalah siapa saja, baik perorangan maupun kelompok (organisasi, lembaga, instansi perusahaan), secara ‘bebas’ dapat menggunakan perangkat lunak terbuka itu, mendistribusikannya (di bawah lisensi bebas dan terbuka), serta mempelajari kode sumber perangkat tersebut (sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut secara gotong-royong).

Pengembangan teknologi berbasis terbuka tersebut, selain populer diistilahkan sebagai open-source, dikenal pula dengan beberapa singkatan, di antaranya: OSS (Open-Source Software), FOSS (Free & Open-Source Software), dan FLOSS (Free/Libre & Open-Source Software). Esensinya serupa, sama-sama berkait dengan sumber-terbuka. Namun, di kalangan komunitas open-source sendiri, lebih disukai menggunakan istilah FLOSS alih-alih FOSS lantaran dimaknai lebih mengandung nilai (values) yang lekat dengan ‘kebebasan’ dan ‘keterbukaan’ yang sesungguhnya. Hal ini sebagaimana yang ditandaskan oleh Richard Stallman (Bapak Perangkat Lunak Bebas, pendiri Free Software Foundation/FSF).

Perangkat lunak (dapat pula dalam rupa yang lebih kompleks seperti sistem operasi/operating system komputer) open-source yang dimaksud tersebut ‘selalu’ menyertakan lisensi (atau beberapa lisensi sekaligus) yang bersifat bebas dan terbuka. Inisiasi lisensi terbuka dimulai dari GNU Public License (GPL), di bawah payung koordinasi FSF. Terilis menjadi beberapa versi numerasi, lisensi ini digunakan oleh jamak perangkat lunak yang dikembangkan secara terbuka. Tiap nomor rilis berbeda pernyataan kebijakannya sehingga penggunaannya pun disesuaikan dengan tujuan pengembang; tetap bebas dan terbuka, hanya beberapa poin perincian perlu diperhatikan dengan saksama.

Lawan dari pengembangan perangkat lunak secara terbuka adalah tertutup (close-source). Biasanya, pengembangan secara tertutup disertai dengan lisensi yang tertutup. Dalam arti, pengguna dibatasi sedemikian rupa, bahkan sifatnya cenderung komersial. Selain itu, tidak jarang perangkat lunak tertutup ini memiliki banyak batasan, salah satunya adalah kurang dapat dikembangkan (tidak dapat dilihat kode sumbernya sehingga tidak ada kesempatan untuk dipelajari) lebih lanjut. Lebih-lebih, seringkali dinyatakan sebagai produk yang tidak dapat didistribusikan kembali (misalnya: pernyataan satu lisensi untuk satu pengguna pada satu perangkat).

Selain GPL, terdapat lisensi terbuka lainnya, di antaranya: MIT License, Creative Commons, dan banyak lainnya. Masing-masing lisensi memiliki kebijakan karakter yang beraneka rupa. Penghargaan atas lisensi itu sangat penting dan genting, tidak boleh abai sedikit pun. Hal ini lantaran berkait dengan hak asasi setiap individu yang hidup di muka bumi ini. Apabila terdapat lisensi yang menyertai sebuah perangkat lunak/produk tulisan/atau apa pun itu, elok kita cermati dengan baik dan kita patuhi segala ketentuannya. Seperti halnya ketika kita melakukan visitasi di dunia maya ataupun dunia nyata, tempat tujuan tersebut tidak jarang memiliki code-of-conduct, syarat dan ketentuan, serta/atau kebijakan lainnya, sebagai pijakan tata aturan sehingga tidak ada hak yang ‘dilanggar’.

Sebagai individu manusia, tentu kita wajib saling menghargai sesama kita, baik dalam rupa karya maupun hal lainnya. Sebuah karya produk yang dibaluti oleh lisensi yang disertakan berkencenderungan dilindungi oleh undang-undang yang berlaku. Oleh karena itu, wajib bagi siapa pun untuk menghargai produk berlisensi tersebut sebagaimana mestinya.

Kembali pada esensi FLOSS, sejatinya penggunaan istilah ini ditujukan bagi komunitas (yang terdiri dari banyak pihak/kalangan) FLOSS itu sendiri. Hal ini lantaran FLOSS berasal dari komunitas dan untuk komunitas. Dengan demikian, diharapkan banyak orang memperoleh faedah dari perangkat lunak terbuka tersebut. Penggunanya pun leluasa menggunakan, mendistribusikan ulang, dan/atau dapat pula sekaligus mempelajarinya (sesuai pernyataan lisensi yang disertakan).

Laman ini didedikasikan bagi Anda yang ingin mengenal dunia open-source. Dimulai dari sharing perjalanan awal mula menggunakannya hingga sampai sekarang pun—atas Izin-Nya—masih dapat menggunakannya. Masih dalam rupa asalinya (dalam bahasa Inggris), disengaja demikian (belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia) supaya tidak menghilangkan nilai rasa maknanya (sekalipun tampak kurang rapi). Atas Izin-Nya, tulisan recount di bawah ini merupakan kombinasi beberapa tulisan pribadi pada catatan pribadi atau wacana dalam forum komunitas open-source.

. . .

Saya bersemuka awal mula dengan sistem operasi komputer berbasis kernel Linux ketika masa remaja (memasuki jenjang pendidikan menengah pertama). Kala itu, saya bermain ke rumah salah seorang kakak sepupu sekitar 2003. Pertama kali menyentuh dan belajar komputer menggunakan komputer pribadinya (personal computer, PC). Pada suatu hari yang random, dia menunjukkkan sebuah majalah yang membahasa khusus Linux dan open-source waktu, yaitu majalah InfoLINUX, dengan dua keping compact disc (CD) sebagai bonusnya.

Bonus CD pertama tersebut merupakan bootable sistem operasi ber-kernel Linux. Distribusi Linux yang disematkan adalah Linux Mandrake 8.2 (salah satu distribusi Linux populer di Prancis). Sebagai orang yang baru belajar komputer, saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Di sekolah, saat itu Diberi kesempatan oleh-Nya belajar pada jenjang lanjut tingkat pertama (SLTP, kini SMP), diberikan pelajaran mulok pengoperasian komputer berbasis disc-operating-system (DOS), selaik WordStar dan Lotus123, tanpa tetikus (peranti mouse).

Beberapa majalah dan tabloid komputer terfaedahi, dari majalah Komputeraktif!, Info Komputer, atau PC-Media, hingga tabloid PCplus, PC-Mild, atau Komputek, tidak lebih ditunggu daripada InfoLINUX yang keredaksiaannya dipimpin oleh Pak Rusmanto Maryanto ketika itu. Yang ditunggu-tunggu dari majalah yang dicetak oleh PT Dian Rakyat tersebut adalah bonus citra ISO CD/DVD distribusi Linux yang sedang hangat tiap bulannya. Saya pun tahu Knoppix, salah satu distribusi Linux populer—setelah SüSE—dari Jerman) dan beberapa distribusi Linux mayor lainnya melalui telaah yang diketengahkan oleh para kontributor majalah tersebut.

Masih ingat betul beberapa nama penulis yang pernah menghiasi InfoLINUX. Yang acap muncul, ada Pak Noprianto (sekarang sebagai dosen di Universitas Bina Nusantara) dan Pak Supriyanto, beliau berdua jamak menulis perihal kiat-kiat (tips & tricks). Tidak kalah ditunggu pula pendapat atau sudut pandang kepakaran sekaligus sebagai kolumnis, di antaranya Pak I Made Wiryana (dosen Universitas Gunadharma), Pak Budi Rahardjo (dosen Institut Teknologi Bandung), dan Pak Michael S. Sunggiardi (praktisi teknologi informasi).

Selain InfoLINUX, pada majalah PC-Media (di bawah pimpinan redaksi Pak Anton Reinhard Pardede) juga tidak kalah menarik, terutama dari Pak Steven Haryanto. Untuk tabloid, yakni PCplus, saya antusias dengan tulisan-tulisan Pak Aloysius Heriyanto. Lantaran penasaran berlebih atas suatu pembahasan, saya tidak malu berkorespondensi. Salah satunya Pak Noprianto perihal Linux Singkong (turunan Slackware) beliau. Dengan nama ‘singkong’ pun, beliau mengkreasi banyak hal—dapat ditelusuri melalui laman web pribadi atau akun GitHub beliau.

Histori Linux

Awal mulanya Linux hanyalah sebuah clone dari UNIX/Unix. Linux sendiri diinisiasi dengan utilities dari GNU (GNU’s Not Unix). Ada satu distribusi Unix yang diturunkan langsung darinya (bukan clone), yakni sistem BSD (Berkeley Software Distribution). Sebagaimana telah disebut sebelumnya, Linux sejatinya adalah sebuah kernel (‘jantung’ sistem operasi). Oleh karena itu, sistem operasi lengkap disebut sebagai distribusi (atau distro) Linux merupakan gabungan antara kernel Linux dan beberapa aplikasi penunjang. Untuk informasi lebih lengkap perihal distro Linux (dan juga BSD), sila visitasi laman DistroWatch.com.

Setelah ibunda menghadiahi kami sebuah komputer—semoga Allah Menjaga dan Melindungi beliau, saya pun mencoba beberapa varian distro Linux yang di-dualboot-kan dengan sistem DOS/Windows. Tugas sekolah jamak di DOS/Windows, tetapi banyak waktu dihabiskan guna mengulik Linux lebih dalam. Hal ini lantaran referensi perihal Linux, terutama melalui antarmuka baris perintah (command-line interface) tersedia secara asali (default) di dalam sistem. Selain itu, tentu saja—sifat seperti remaja umumnya, games yang tersedia (terutama dari komunitas KDE) di platform terbuka tersebut pun terfaedahi.

Kami sebutkan beberapa distro pernah terpasang pada komputer kami. Tersebutlah seperti Slackware, Fedora (proyek open-source dari perusahaan teknologi Red Hat Inc.), openSUSE (oleh perusahaan SUSE, sebelumnya bernama SüSE), dan keluarga Unix BSD (FreeBSD, OpenBSD/NetBSD). Linux SüSE cukup lama mengagumkan saya hingga sebelum menyelesaikan jenjang pendidikan menengah atas—masyaallah. Beriring tahun-tahun dilalui atas Izin-Nya, saya lebih jamak bercengkerama dengan Linux Slackware, serta FreeBSD dan OpenBSD.

Saya memiliki prolong engagement dengan Slackware dan sistem BSD. Terkhusus BSD, tampaknya porsinya lebih dominan, selaik macOS (turunan BSD Darwin), FreeBSD, atau OpenBSD. macOS digunakan on a daily basis guna menyelesaikan tugas-tugas di kantor. Saya pribadi masih sering challenging diri sendiri dengan Slackware, FreeBSD/OpenBSD, dan atau sistem FLOSS lainnya.

From Unix with Love

Unix (atau UNIX; diturunkan/derived dari Unix milik perusahaan AT&T) dikreasi dan dikembangkan oleh Ken Thompson, Dennis Ritchie, dan tim, di pusat penelitian Bell (Bell Labs Research Center). Ken dan Dennis merupakan penemu bahasa pemrograman C—”bahasa ibu/induk” (mother-tongue) dari bahasa pemrograman lainnya hingga kini. Tentu saja, Unix murni berbasis C, dan filosofi pengembangannya pun berbasis pada kesederhanaan standar POSIX (POSIX standardization).

Waktu berlalu begitu cepat—masyaallah, banyak pihak atau organisasi mengkreasi turunan (derivatives) dan/atau clone dari Unix. Di Berkeley, proyek BSD. Proyek open-source ini merupakan induk dari pelbagai sistem terbuka di kemudian hari. Salah satu distro Linux yang mengikuti konsep filosofis kesederhanaan Unix, dengan POSIX-nya, adalah Slackware.

Long Journey dengan Linux

Walaupun “Bapak Linux” dunia, yakni Linus Benedict Torvalds (Linux Torvalds, seorang ilmuwan komputer yang berasa dari Finlandia dan kini tinggal di Amerika Serikat), menggunakan Linux Fedora bertahun-tahun, saya masih memiliki banyak alasan untuk menggunakan Slackware. Patrick Volkerding (PV) telah membangun Slackware dalam paradigma kebersahajaannya dengan konsep standar tradisional.

Semenjak 1993, ketika Ian Murdoc masih hidup dan masih membangun Debian, PV belum mengubah banyak hal pada Slackware hingga hari ini. Dari prosedur instalasi hingga peningkatan/upgrade sistem, Anda tidak akan menemukan banyak hal berubah. Untuk versi stabil (stable) hingga terbaru/terkini (current), PV merawati/me-maintain semua bagian dari tangan dinginnya sendiri bersama tim kecil (core-team, yang tidak banyak perubahan).

Tidak sedikit kalangan menandaskan bahwa apabila Anda ingin mendalami Linux, sila mempelajari Slackware. Bersama Slackware, memang banyak hal perlu dilakukan. Seringkali beberapa bagian sistem perlu ditata terlebih dahulu sehingga baru dapat berjalan secara otomatis. Ketika Anda telah menguasai hal-hal krusial di dalamnya, selamat, Anda kemungkinan besar dapat beradaptasi dengan cepat ketika meng-handle sistem operasi Linux dan non-Linux kekinian—insyaallah. Terima kasih, PV!

Komunitas pengguna dan pemerhati Slackware di Indonesia tergabung melalui grup Komunitas Slackware Indonesia, yang jamak terkover melalui laman agregasi Planet Slackware Indonesia. Anda pun dapat berbincang-bincang dengan mereka melalui grup Google (id-slackware) atau grup Telegram. Para penggawa dan senior terkemuka di antaranya Pak Willy Sudiarto Rahardjo (SlackBlogs), Pak Widya Walesa, serta senior dan pengguna lainnya. Selaik komunitas Linux di seluruh dunia, mereka luar biasa.

Kebersahajaan BSD

Sekitar lebih dari satu dekade lampau, komunitas pengguna dan pemerhati sistem operasi komputer berbasis keluarga BSD sangat aktif di Indonesia, di antaranya id-openbsd dan id-freebsd (melalui milis di Yahoo! mailing lists). Teringat salah seorang senior, yakni Pak Jim Geovedi, dan senior lainnya mengajari kita guna membangun how to fish gaya tiap diri (secara mandiri). Kini, komunitas pengguna BSD di Indonesia adalah Komunitas Belajar FreeBSD Indonesia yang diasuh Pak Andy Hidayat.

Sistem Unix BSD dikenal robust (“bandel”) dan menyenangkan. FreeBSD dengan lingkungan GNOME merupakan desktop BSD pertama saya. Dokumentasi resmi di dalam handbook tim FreeBSD pun sangat membantu (sangat terperinci lengkap). Kemudian, mencoba KDE pada FreeBSD, masih saja fantastically awesome. FreeBSD, dan OpenBSD, masih sangat menyenangkan bagi saya.

Terkhusus OpenBSD, saya menyarankan untuk digunakan oleh Anda yang mengedepankan aspek keamanan, ia pun dikenal sebagai the most secure open-source operating-system. Tim pengembangan OpenBSD dipimpin oleh Theo de Raadt.

KDE pada Linux

Perjalanan bersama komunitas open-source pun masih berlangsung hingga kini—masyaallah. Saya merasa banyak belajar bersama komunitas KDE. Lebih dari satu dekade, saya menggunakan KDE. Semenjak menggunakan Mandrake, awal mula menggunakan Linux, saya telah memantapkan diri dengan KDE. Terlebih, komunitas pengembang KDE, yang jamak dapat ditemui di Planet KDE—insyaallah, jamak mudah diajak beramah-tamah.

KDE dikembangkan dengan basis kerangka perangkat lunak Qt. Apabila Anda menggunakan KDE atau bahkan ingin develop/deploy kode-sumber (source-code) aplikasi KDE, Anda cukup mendalami Qt. Qt sendiri sejatinya merupakan C++ framework yang cross-platform. Dalam arti, ketika Anda mengembangkan aplikasi berbasis Qt pada sistem Linux, dapat dimungkinkan—insyaallah—Anda dapat men-deploy-nya pada Windows.

Berasal dari perusahaan Trolltech di Norway, sempat di bawah payung organisasi perusahaan besar Nokia di Finland, lalu menjadi independen setelah bersama Digia, Qt memantapkan diri sebagai bagian dari pelbagai ranah pengembangan teknologi mutakhir. Dari peranti embedded dan mobile, IoT, hingga kendaraan otonom/autonomous (self-driving vehicles) dewasa ini, Qt terimplementasikan secara proaktif. Terima kasih kepada Haavard Nord dan Eirik Chambe-Eng, para penemu/pendiri Qt.

Salah seorang penggawa teknologi informasi yang membuat saya ber-KDE/Qt dalam waktu lama adalah Pak Ariya Hidayat. Beliau menulis perlbagai tutorial pemrograman, terutama berbasis Qt atau KDE, dalam majalah InfoLINUX dan/atau dibagikan pada blog beliau. Salah satu karya beliau yang saya gemari adalah kalkulator sederhana berbasis Qt, yakni SpeedCrunch. Currently, beliau menggeluti teknologi web (PhantomJS dan Esprima nan luar biasa) dan motivator pengembangan perangkat lunak terbuka, dan beliau masih dikenal sebagai legenda di KDE.

Sampai sekarang, selama sistem/mesin komputasi masih dapat mendukung, saya masih ber-KDE. Atas Izin-Nya, mengenal developer di balik KDE adalah kesempatan yang tidak dapat dilupakan. KDE, (tentu saja) bersama komunitasnya, masih tetap solid dan luar biasa. Tidak jarang ditekankan bahwa KDE bukan hanya soal teknologi yang dikembangkan bersama, melainkan pulan peran serta (kontribusi) komunitas adalah yang dijunjung tinggi. Seperti komunitas open-source lainnya, komunitas KDE juga tersebar di seluruh dunia, salah satunya di Indonesia, yakni Komunitas KDE Indonesia (Indonesian KDE Community, KDE-ID). At current, KDE-ID dapat ditemui di dalam grup Telegram atau bahkan grup Facebook. Setiap pengguna atau pemerhati KDE dan open-source dapat bergabung di dalamnya, welcome to join the chat and share every KDE stuffs there.

KDE is collaborative, open, and privacy aware. With a vast scope of interesting projects after 22 years, we continue to push the boundaries of what is possible and fun.”

Jonathan Riddel, Leader tim pengembang KDE neon, salah satu senior KDE

Walaupun ber-KDE dan KDE lebih populer di Jerman dan Eropa, saya tentu tidak melupakan serba-serbi open-source dari Amerika Serikat, selain Slackware. Salah satunya adalah Fedora. Lantaran ingin ber-KDE dengan Fedora, tentu disediakan pula Fedora-KDE, dan insights menarik dapat ditengok dari blog Danie Vrátil (salah seorang developer KDE dan pengguna Fedora). Selain Fedora, FreeBSD-KDE pun tidak kalah menarik. Untuk versi ini, barangkali blog Adriaan de Groot dapat dijadikan pengantar. Yup, pengembangan dan komunitas KDE masih sangat aktif hingga kini. Hal ini dapat ditengok pada web Planet KDE.

Concern on Security

Teknologi yang dikembangkan dengan/dalam konsep FLOSS menjadi sangat kuat, salah satunya, disebabkan setiap pihak yang berpartisipasi di dalamnya peduli dengan keamanan jaringan infrastruktur komputer, baik berskala kecil maupun lebih-lebih berskala besar dan global. Hal ini mengingat teknologi dikreasi sedemikian rupa bukan hanya membantu kehidupan menjadi lebih mudah, tetapi juga tetap memperhatikan pelbagai aspek yang melindungi privasi para penggunanya. Oleh karena itu, hal ini sangat menjadi pertimbangan utama dalam dunia open-source.

Dalam pengembangan open-source, keamanan privatif Anda, dari data, jaringan, hingga layanan, perlu terjamin ketersediaannya. Hal inilah yang menjadi prioritas utama mengapa jamak pihak/organisasi telah beralih ke sistem/platform yang dikembangkan secara open-source. Development (dan deployment) perangkat lunak/keras pun terbuka lebar (wide open) sehingga ketika ditemukan sebuah celah atau kekeliruan pengodean (diistilahkan sebagai bug atau security hole), siapa pun dapat menyumbangkan penambalnya (patch-nya). Tidak jarang, developer dari perusahaan teknologi besar, seperti Google, Microsoft, Facebook, dan/atau lainnya, berkontribusi dengan energi dan waktunya untuk turut serta memberikan patch yang diperlukan.

Siapa pun dapat turut serta. Bahkan, seorang dokter spesialis tertentu saja, tidak jarang didapati juga ikut urun rembug. Kontribusi pun bervariatif, tidak melulu soal coding, dapat pula menyumbang beberapa patah kata untuk dokumentasi yang diperlukan. Kemudian, pembaruan (updates) teranyar pun dapat segera dirilis guna meminimalisasi mudarat lebih lanjut. Luar biasa, bukan? Well, Anda menggunakan produk open-source saja sudah cukup membantu pengembang, lo, lebih-lebih bila berkenan berbuat lebih.

Why Linux & FLOSS?

The open-source communities are fantastic. They are always believe in sharing & openness. They share code freely, being volunteer for any kind of open-source events, they born to code (for humanity). They contribute to the projects is not for money, mostly have the motivation to make a better world with technology. They believe in it. The FLOSS communities serve anyone with patience and/or give great insights for every BSD/Linux users. By Allah’s Hand, they made the communities alive and made sense that BSD/Linux is really easy for use. All issues are answered well—walhamdulillah. Thank you, thank you, thank you very much to them—the communities.

Open-source is not only about the licenses, but importantly about the community. From the community, many developers born and giving very great support to push the technology-based start-ups business successfully across the globe these days. In the other word, the open-source people are the part of the great-unicorn start-ups these days. And sure, mostly in international big tech companies today, that popular build in Silicon Valley, from the founders (and co-founders) to the employees, are taken from and/or being part of the open-source world.

Your language programming, from Python, Ruby on Rails, PHP, and many more, are develop in open-source models. Your mobile systems maybe mostly are open-sourced too. The founders/developers learn from the open-source communities & resources, and mostly give feedback back to the communities in various contributions. Everyone can contribute, everyone can use. By Allah’s Hand, we can not imagine how the world today without the open-source movement.