Latif Anshori Kurniawan

FOSS

Bismillah.

Barangkali, saat ini, Anda sedang mengakses laman ini melalui perangkat atau peranti gawai bersistem iOS atau Android. Tahukah Anda bahwa keduanya “berasal dari” sistem terbuka BSD dan Linux® (BSD sebagai fondasi dasar pengembangan awal macOS [sebelumnya bernama OS X] dan iOS/iPadOS, sedangkan Android berbasis kernel Linux)? Berbicara mengenai sistem operasi BSD dan Linux, tentu tidak terlepas dari topik dunia pengembangan perangkat lunak (software) dengan kode-sumber (source-code) bersifat terbuka untuk publik. Esensi dari sumber-terbuka (dalam konteks teknologi informasi) adalah siapa saja, baik perorangan maupun kelompok/perkumpulan/perhimpunan (organisasi, lembaga, instansi perusahaan swasta), secara ‘bebas’ dapat menggunakan perangkat lunak terbuka itu, dapat mendistribusikannya (di bawah lisensi bebas dan terbuka), serta dapat mempelajari kode-sumber perangkat tersebut (sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut secara gotong-royong).

Pengembangan teknologi berbasis terbuka tersebut, selain populer diistilahkan sebagai open-source, dikenal pula dengan beberapa singkatan, di antaranya: OSS (Open-Source Software), FOSS (Free & Open-Source Software), dan FLOSS (Free/Libre & Open-Source Software). Di kalangan komunitas open-source sendiri, barangkali tidak begitu mempermasalahkan penggunaannya, mungkin lebih mudah mendapati penggunaan FOSS alih-alih FLOSS. Bagi penggemar free software, barangkali lebih memilih abreviasi FLOSS lantaran dimaknai lebih mengandung nilai (values) yang lekat dengan ‘kebebasan’ dan ‘keterbukaan’ yang sesungguhnya sebagaimana yang ditandaskan oleh Richard Stallman (“Bapak Perangkat Lunak Bebas”, pendiri Free Software Foundation/FSF). Baik FOSS maupun FLOSS, manasuka.

Perangkat lunak (dapat pula dalam rupa yang lebih kompleks seperti sistem operasi [operating system] komputer) open-source yang dimaksud tersebut ‘selalu’ menyertakan lisensi (atau beberapa lisensi sekaligus) yang bersifat bebas dan terbuka. Inisiasi lisensi terbuka dimulai dari GNU Public License (GPL, dengan variasi versi), di bawah payung koordinasi FSF. Terilis menjadi beberapa versi numerasi, lisensi ini digunakan oleh jamak perangkat lunak yang dikembangkan secara terbuka. Tiap nomor rilis berbeda pernyataan kebijakannya sehingga penggunaannya pun disesuaikan dengan tujuan pengembangan; tetap bebas dan terbuka, hanya beberapa poin perincian yang barangkali bervariatif.

Lawan dari pengembangan perangkat lunak secara terbuka adalah close-source. Biasanya, pengembangan secara tertutup disertai dengan lisensi yang tertutup pula. Dalam arti, pengguna dibatasi sedemikian rupa, bahkan sifatnya cenderung komersial. Tidak jarang perangkat lunak tertutup ini memiliki banyak batasan, salah satunya adalah kurang dapat dikembangkan (tidak dapat dilihat kode sumbernya sehingga tidak ada kesempatan untuk dipelajari) lebih lanjut. Lebih-lebih, seringkali dinyatakan sebagai produk yang tidak dapat didistribusikan kembali (misalnya: satu lisensi untuk satu pengguna pada satu perangkat).

Terdapat lisensi terbuka lainnya selain GPL, di antaranya: Creative Commons (CC), MIT License, BSD License, Mozilla Public License (MPL), dan banyak lainnya (panduan memilih lisensi dapat mengunjungi laman berikut). Masing-masing lisensi memiliki karakteristik kebijakan yang beraneka rupa. Penghargaan atas lisensi itu tidak kalah penting, hal ini lantaran berkait dengan hak-hak pelbagai pihak. Apabila terdapat lisensi yang menyertai sebuah perangkat lunak/produk tulisan/atau apa pun itu, elok kita cermati dengan baik dan kita patuhi segala ketentuannya. Seperti halnya ketika kita melakukan visitasi di dunia maya ataupun dunia nyata, tempat tujuan tersebut tidak jarang memiliki code-of-conduct atau agreementagreement, syarat dan ketentuan (term-of-use), serta/atau kebijakan lainnya, sebagai pijakan tata aturan sehingga diharapkan tiada hak yang ‘dilanggar’ (win-win solution, semua nyaman). Sebagai individu manusia, tentu elok saling menghargai sesama kita, baik dalam rupa karya maupun hal lainnya. Sebuah karya produk yang dibaluti oleh lisensi yang disertakan berkencenderungan dilindungi oleh perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu, dianjurkan bagi siapa pun untuk menghargai produk berlisensi tersebut sebagaimana mestinya.

Kembali pada esensi FOSS, sejatinya penggunaan istilah ini ditujukan bagi komunitas (yang terdiri dari banyak pihak/kalangan) FOSS itu sendiri. Hal ini lantaran nilai-nilai yang diusung FOSS berasal dari komunitas dan untuk komunitas. Dengan demikian, diharapkan banyak orang memperoleh faedah dari perangkat lunak terbuka tersebut. Penggunanya pun leluasa menggunakan, mendistribusikan ulang, dan/atau dapat pula sekaligus mempelajarinya (sesuai pernyataan lisensi yang disertakan). Sementara itu, bagi yang meminati proses pengembangannya, teramat diizinkan untuk turut serta berkontribusi positif (yang membangun) guna kemaslahatan bersama.

. . .

Awal mula bersemuka dengan sistem operasi komputer berbasis kernel Linux ketika masa remaja (memasuki jenjang pendidikan menengah pertama). Masa-masa inilah mulai mengenal dan belajar komputer. Kala itu, acap bermain ke rumah Pak Agus Haryawan dan Pak Hary Kastoro, sekitar 2003. Pertama kali menyentuh dan belajar komputer menggunakan komputer pribadi (personal computer, PC) adalah bersama beliau berdua. Pada suatu hari yang random di rumah Pak Hary, saya mendapati sebuah majalah yang membahas khusus Linux dan open-source waktu itu, yaitu majalah InfoLINUX, dengan dua keping compact disc (CD) sebagai bonusnya (ihwal perjalanan tim redaksi InfoLINUX dalam ber-Linux, dapat ditengok pada laman ini).

Bonus CD (sebelum beberapa tahun kemudian dalam rupa DVD) pertama tersebut merupakan bootable sistem operasi ber-kernel Linux. Distribusi Linux yang disematkan adalah Linux Mandrake 8.2 (salah satu distribusi Linux populer saat itu, berasal dari Prancis). Sebagai orang yang baru belajar komputer, saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Linux. Di sekolah, saat itu Diberi-Nya kesempatan belajar pada jenjang lanjut tingkat pertama (SLTP, kini SMP), diberikan pelajaran mulok pengoperasian perangkat lunak komputer berbasis disk-operating-system (DOS), selaik WordStar dan Lotus 1-2-3, tanpa tetikus (peranti mouse).

Sempat mendapati beberapa majalah dan tabloid komputer, dari majalah Komputeraktif!, Info Komputer (masih dirilis hingga sekarang), PCMedia, hingga tabloid PCplus, PCMild (satu unit dengan PCMedia), atau Komputek (berasal dari Surabaya), setelah mendapati InfoLINUX yang keredaksiaannya dipimpin oleh Pak Rusmanto Maryanto ketika itu. Yang ditunggu-tunggu dari majalah yang dicetak oleh PT Dian Rakyat tersebut adalah bonus citra ISO dan beberapa aplikasi (tentu saja: free) CD/DVD distribusi Linux yang sedang hangat tiap bulannya. Akses internet masih berbatas di desa saat itu sehingga banyak informasi lebih mudah didapati melalui ragam media cetak yang ada. Dengan kehadiran InfoLINUX, kami menjadi tahu Knoppix (salah satu distribusi Linux populer saat itu, dikembangkan di Jerman [selain SüSE]) dan beberapa distribusi Linux mayor lainnya melalui telaah yang diketengahkan oleh para kontributor majalah tersebut.

Masih ingat betul beberapa nama penulis yang pernah menghiasi InfoLINUX. Yang acap muncul, ada Pak Noprianto (sekarang sebagai dosen di Universitas Bina Nusantara [Binus], kreator Linux Singkong dan bahasa pemrograman Singkong) dan Pak Supriyanto, beliau berdua jamak menulis perihal kiat-kiat (tips & tricks) teknis. Tidak kalah ditunggu pula pendapat atau sudut pandang kepakaran sekaligus sebagai kolumnis, di antaranya Pak I Made Wiryana (dosen Universitas Gunadharma), Pak Budi Rahardjo (dosen Institut Teknologi Bandung, masih acap mengeblog dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, tergabung pula ke dalam Planet Terasi), serta Pak Michael S. Sunggiardi (praktisi teknologi informasi).

Tidak kalah menarik, selain tulisan pakar open-source pada InfoLINUX, adalah tulisan-tulisan ahli IT Indonesia pada majalah PCMedia (di bawah pimpinan redaksi Pak Anton Reinhard Pardede), terutama dari Pak Steven Haryanto. Untuk tabloid, yakni PCplus, saya antusias dengan tulisan-tulisan Pak Aloysius Heriyanto. Tidak jarang pula menunggu tulisan-tulisan menarik dan berfaedah dari para penggawa telematika Tanah Air lainnya, seperti: Pak Rahmat M. Samik-Ibrahim (dosen Universitas Indonesia, “Bapak Linux Indonesia”, penggawa VLSM), Pak Onno W. Purbo (“Bapak Open-Source dan Kemandirian Teknologi Indonesia”, yang juga tidak kalah aktif berbagi pengetahuan melalui kanal YouTube beliaumasihkah ada yang belum mengetahui beliau?), Pak Rusmanto Maryanto (pemimpin redaksi majalah InfoLINUX pada masanya), Pak Andika Triwidada (penggawa penerjemah antarmuka perangkat lunak open-source dan sistem operasi terbuka Linux/BSD, masih sangat aktif hingga kini), para senior di ID-CERT, serta lainnya.

Histori UNIX dan Linux

Unix (atau UNIX; diturunkan/derived dari Unix milik perusahaan AT&T) dikreasi dan dikembangkan oleh Ken Thompson, Dennis Ritchie, beserta tim, di pusat penelitian Bell (Bell Labs Research Center). Ken dan Dennis merupakan penemu bahasa pemrograman C—”bahasa ibu/induk” (mother-tongue) dari bahasa pemrograman lainnya hingga kini. Tentu saja, Unix murni berbasis C, dan filosofi pengembangannya pun berbasis pada kesederhanaan standar POSIX (POSIX standardization).

Waktu berlalu begitu cepat—masyaallah, banyak pihak atau organisasi mengkreasi turunan (derivatives) dan/atau clone dari Unix. Di Berkeley, lahirlah proyek BSD. Proyek open-source ini merupakan induk dari pelbagai sistem terbuka di kemudian hari. Hingga kini, sistem BSD pun masih sangat populer, yang teramat menonjol terutama pengembangan BSD Darwin oleh Apple. Serba-serbi diskusi BSD, dapat Anda simak melalui siniar BSD Talk. Salah satu distro Linux yang mengikuti konsep filosofis kesederhanaan Unix, dengan POSIX-nya, adalah Slackware. Untuk forum yang membahas Unix dan Linux sekaligus, The Unix and Linux Forums tidak kalah menarik untuk difaedahi.

Awal mulanya Linux hanyalah sebuah clone dari UNIX/Unix, sedangkan sistem yang diturunkan langsung dari Unix (bukan clone), yakni sistem BSD (Berkeley Software Distribution). Sebagaimana telah disebut sebelumnya, Linux sejatinya adalah sebuah kernel (‘jantung’ sistem operasi). Oleh karena itu, sistem operasi lengkap disebut sebagai distribusi (atau distro) Linux merupakan gabungan antara kernel Linux dan beberapa aplikasi penunjang. Untuk informasi lebih lengkap perihal distro Linux (dan juga BSD), sila visitasi web DistroWatch.com. Linux sendiri, pada awal mulanya, diinisiasi dengan utilities dari GNU (GNU’s Not Unix) sehingga populer diistilahkan sebagai “GNU/Linux”. Kemudian, penyebutan istilah GNU/Linux pun berangsur-angsur sekadar disebut sebagai Linux, misalnya dari Debian GNU/Linux menjadi Debian Linux. Salah satu sistem Linux yang masih menggunakan diksi GNU adalah Trisquel GNU/Linux.

Setelah ibunda menghadiahi kami sebuah komputer—semoga Allah Menjaga dan Melindungi beliau, saya pun mencoba beberapa varian distro Linux yang di-dualboot-kan dengan sistem DOS/Windows. Tugas sekolah jamak dioperasikan di atas sistem DOS/Windows, tetapi saat di rumah Pak Hary atau Pak Agus, lebih tertarik belajar Linux. Menurut hemat saya ketika itu, referensi perihal Linux, terutama melalui antarmuka baris perintah (command-line interface), tersedia secara asali (default) di dalam sistem sehingga hal ini sangat memudahkan kita dalam mempelajarinya (tidak perlu capek-capek mencari dokumentasinya melalui mesin pencari Yahoo!—yang masih populer pada masanya). Selain itu, tentu saja—sifat seperti remaja umumnya, games yang tersedia di Linux, terutama yang berbalut lingkungan desktop KDE, sangat menyenangkan guna mengisi waktu.

Tidak semua distribusi Linux sempat pernah terfaedahi, terlalu berlimpah eksistensinya, perangkat kami pun masih begitu berbatas kala itu. Tersebutlah Slackware, Fedora (proyek open-source dari perusahaan teknologi Red Hat Inc.), openSUSE (oleh perusahaan SUSE, sebelumnya bernama SüSE), dan keluarga Unix BSD (FreeBSD, OpenBSD/NetBSD). Masyaallah, Linux SüSE agak lama terfaedahi atas Izin-Nya hingga sebelum menyelesaikan jenjang pendidikan menengah atas. Beriring tahun-tahun dilalui berikutnya, atas Izin-Nya, kami lebih jamak bercengkerama dengan Linux Slackware dan sistem BSD.

Distro Linux pun bervariatif. Salah satu yang populer adalah Ubuntu. Saking populernya, sebagian orang, apabila mendapati istilah Linux, sebagian terbayang sistem yang basis pengembangannya berada di United Kingdom ini. Melalui perusahaan Cannonical, Mark Shuttleworth merilis dan mendistribusikan sistem yang sejatinya berpondasi dasar Debian ini. Beberapa tahun terakhir, tidak jarang kita dapati sebagian laptop yang dirilis oleh perusahaan teknologi terkemuka, di antaranya Dell, HP, dan Lenovo, menyematkan Ubuntu sebagai sistem operasi default. Ubuntu menjadi populer pun bukan tanpa sebab, ia berkeselarasan dengan eksistensi Debian yang memiliki basis pengguna lebih berlimpah. Hal ini pun menyebabkan tidak sedikit pihak yang merilis dukungan untuk perangkat di Linux, salah satunya Linux on Laptops. Untuk perangkat keras yang mendukung/didukung Linux, web Phoronix (salah satu portal kawakan) rutin menyajikan pelbagai pembahasan terkini yang teramat menarik.

Petualangan Panjang Bersama Slackware

Walaupun “Bapak Linux” dunia, yakni Linus Benedict Torvalds (Linus Torvalds, seorang ilmuwan komputer yang berasa dari Finlandia dan kini tinggal di Amerika Serikat/AS), menggunakan Linux Fedora bertahun-tahun, saya masih memiliki banyak alasan untuk menggunakan Linux Slackware. Patrick John Volkerding (Patrick Volkerding, PV) telah membangun Slackware dalam paradigma kebersahajaannya dengan konsep standar tradisional.

Semenjak 1993, ketika Ian Murdoc masih hidup dan masih membangun Debian, PV belum mengubah banyak hal pada Slackware hingga hari ini. Dokumentasinya pun terbilang sangat lengkap. Dari prosedur instalasi hingga peningkatan/upgrade sistem, Anda tidak akan menemukan banyak hal berubah. Untuk versi stabil (stable) hingga terbaru/terkini (current), PV merawati/me-maintain semua bagian dari tangan dinginnya sendiri bersama tim kecil (core-team, yang tidak banyak perubahan).

Tidak sedikit kalangan menandaskan bahwa apabila Anda ingin mendalami Linux, sila mempelajari Slackware. Bersama Slackware, memang banyak hal perlu dilakukan. Seringkali beberapa bagian sistem perlu ditata terlebih dahulu sehingga baru dapat berjalan secara otomatis. Ketika Anda telah menguasai hal-hal krusial di dalamnya, selamat, Anda kemungkinan besar dapat beradaptasi dengan cepat ketika meng-handle sistem operasi Linux dan non-Linux kekinian—insyaallah. Terima kasih (PayPal), PV!

Komunitas pengguna dan pemerhati Slackware di Indonesia tergabung melalui grup Komunitas Slackware Indonesia, yang jamak terkover melalui laman agregasi Planet Slackware Indonesia. Anda pun dapat berbincang-bincang dengan mereka melalui grup Google (id-slackware) atau grup Telegram. Para penggawa dan senior terkemuka dari komunitas yang telah lama eksis ini, di antaranya Pak Willy Sudiarto Rahardjo (SlackBlogs), Pak Anjar Hardiena, Pak Widya Walesa, serta senior dan pengguna lainnya. Selaik individu di dalam komunitas global (di seluruh dunia, terdapat pula di grup Facebook), mereka luar biasa.

Bagi Anda yang ingin mendalami Slackware, berikut informasi lumbung (repository, repo) yang mendukung perangkat lunak (software) dan sistem Linux tua ini. Beberapa di antaranya sebagai berikut.

Selain melalui saluran PayPal, Anda dapat pula mendukung PV melalui laman Patreon-nya.

Patreon merupakan platform/portal urun dana yang dibuat oleh Jack Conte dan Sam Yam.

Salah satu co-founder pemodal ventura besar (venture capital, VC) Indonesia, yakni East Ventures (EV), selaku managing partner-nya (diketahui pula beliau sebagai founder EV Growth), yaitu Pak Willson Cuaca, mengisahkan pengalaman beliau bersama Slackware. Pak Willson dan EV diketahui melalukan banyak investment, bahkan acap dilabeli sebagai perusahaan modal ventura terproduktif, pada beberapa perusahaan rintisan berbasis teknologi (tech startups). Beberapa di antaranya pun telah bervaluasi triliunan rupiah, sebut saja selaik Tokopedia, IDN Media, Ruangguru, dan sebagainya.

EV pun menjembatani banyak investor asing, termasuk di antaranya SoftBank dan lainnya. Namun, luar biasa beliau juga memiliki perhatian dengan Linux, tidak tanggung-tanggung dan malu-malu untuk menyebut Slackware. Selain Pak Willson, former CEO perusahaan solusi open-source Red Hat Inc. (sekarang menjadi bagian perusahaan teknologi multinasional terkemuka IBM), Jim Whitehurst, pun juga pernah sempat ‘bersentuhan’ dengan Slackware ketika awal mula mengenal Linux.

Unix BSD

Saat masih ber-Slackware ria, sekitar lebih dari satu dekade lampau, komunitas pengguna dan pemerhati sistem operasi komputer berbasis keluarga Unix BSD sangat aktif di Indonesia, di antaranya id-openbsd dan id-freebsd (melalui milis di Yahoo! mailing lists). Teringat salah seorang senior, yakni Pak Jim Geovedi, dan senior lainnya mengajari kita guna membangun how to fish gaya tiap diri (secara mandiri). Kini, komunitas pengguna BSD di Indonesia adalah Komunitas Belajar FreeBSD Indonesia yang diasuh Pak Andy Hidayat. Sebagai wadah bernostalgia antarpengguna sistem BSD di Indonesia, dapat visitasi CoreBSD.or.id. Omong-omong, portal/forum diskusi lawas khusus BSD pun masih aktif hingga sekarang, selaik: OpenBSD Journal, dan/atau pelbagai presentasi yang diselenggarakan oleh NYBUG.

Sistem Unix BSD dikenal robust (“bandel”) dan menyenangkan, 11-12 dengan Slackware. FreeBSD dengan lingkungan GNOME merupakan desktop BSD pertama saya. Dokumentasi resmi di dalam handbook tim FreeBSD pun sangat membantu (sangat terperinci lengkap). Kemudian, mencoba KDE pada FreeBSD, masih saja fantastically awesome. Yang saya gemari dari sistem BSD adalah kebersahajaannya. Bahkan, melalui tangan-tangan dingin engineer Apple, BSD yang sederhana dapat dipoles sedemikian rupa hingga menjadi ciamik dan menarik, dan masih tampak kesederhanaannya. Itulah mengapa, apabila kita mendapati macOS atau iOS/iPadOS, fungsionalitas fitur-fiturnya dikreasi sesimpel-simpelnya, tetapi tetap berdaya guna.

Saya memiliki prolong engagement dengan Slackware dan sistem BSD. Terkhusus BSD, tampaknya porsinya lebih dominan, selaik macOS, FreeBSD, atau OpenBSD. macOS digunakan on a daily basis guna menyelesaikan tugas-tugas di kantor. Saya pribadi masih sering challenging diri sendiri dengan Slackware, terlebih versi current-nya yang selalu dinantikan oleh segenap Slackers dari penjuru dunia.

Salah satu hal yang menarik dari dunia BSD, di samping segala apa yang telah dilakukan Apple, terutama dari FreeBSD, adalah ia digunakan beberapa perusahaan teknologi guna mengembangkan produk mereka. Biasanya, kita mengenal sistem Linux dan BSD adalah untuk mendukung peladen/server atau workstation dari basis pusat data perusahaan. Ya, alih-alih Windows (versi server), sistem server yang digunakan di seluruh dunia masih didominasi Linux dan BSD (salah satu bacaan wajib penggemar Unix BSD: UNIX manpage compiler).

FreeBSD mengambil porsi besar mewakili sistem BSD. Kanal YouTube proyek open-source yang berbasis di AS ini pun aktif informasi berkait FreeBSD. Yang menarik dari FreeBSD, ia merupakan basis peranti konsol game populer PlayStation (Sony), Swtich (Nintendo), bahkan penopang utama layanan Netflix dan WhatsApp. Luar biasa! Barangkali, inilah dalih mengapa begitu mudah mendapati orang Jepang di dalam komunitas BSD, salah satunya adalah Jun-ichiro “itojun” Itoh Hagino.

Mac yang Open-Source

Apabila ada sebagian Anda yang telah menggunakan sistem BSD selaik macOS, hal ini tentu lebih mudah dalam melakukan adaptasi sebab pada dasarnya sistem yang dikembangkan Apple ini bersifat terbuka. Anda pun dapat dengan bebas mendapati kode-sumbernya. Tidak sedikit beberapa aplikasi open-source, yang jamak tersedia pada platform Linux-BSD, pun tersedia versi untuk platform macOS.

Anda pun dapat memfaedahi Open Source Mac. Apabila ingin mendapati kelengkapan lainnya, sila kunjungi MacUpdate dan FileHorse; berlimpah aplikasi Mac dapat dicoba (sila unduh sesuai dengan kapabilitas pembaruan sistem terakhir macOS Anda). Aplikasi favorit kami, di antaranya: Alfred, Things, Bear, Overcast, dan lainnya. Bacaan yang selalu hangat dengan isu-isu Mac, yang dapat difaedahi, di antaranya: 9to5Mac, MacRumors, Cult of Mac, favorit kami: kanal iPad di Reddit, serta (tentu saja) Official Apple Support (lainnya mungkin dapat merujuk di sini).

Banyak proyek lain yang mendukung ke-open-source-an di Mac. MacPorts dan Homebrew merupakan sekian proyek yang menjembatani agar Anda dapat tetap menggunakan perangkat utilitas open-source umumnya di Mac. Sebagian antusias atau pehobi pun masih sangat perhatian dengan macOS versi awal—dengan induk BSD Darwin. Mereka pun masih aktif dalam proyek PureDarwin. Sistem Mac pun cukup andal sebagai peladen/server (salah satunya diakomodasi oleh MacStadium). Pada akhirnya, Anda pun mengetahui bahwa perangkat dan peranti Apple menjadi andal bukan atas kemewahan-nya, melainkan memang benar-benar sistem dan software yang memang dapat diandalkan sebab sifatnya yang open-source. Terima kasih, Steve Jobs!

Lingkungan Desktop KDE

Perjalanan bersama komunitas open-source pun masih berlangsung hingga kini—masyaallah. Saya merasa banyak belajar bersama komunitas KDE internasional. Lebih dari satu dekade, saya menggunakan KDE. Semenjak menggunakan Mandrake, awal mula menggunakan Linux (sebelum konsisten bersama Slackware), saya telah memantapkan diri dengan KDE. Terlebih, komunitas pengembang KDE, yang jamak dapat ditemui di Planet KDE—insyaallah, jamak komunikatif. Lebih-lebih, lingkungan desktop unggulan di Slackware pun masih KDE—alhamdulillah.

KDE dikembangkan dengan basis kerangka perangkat lunak Qt, diinisiasi awal mula oleh Matthias Ettrich. Apabila Anda menggunakan KDE atau bahkan ingin develop/deploy kode-sumber (source-code) aplikasi KDE, Anda cukup mendalami Qt. Qt sendiri sejatinya merupakan C++ framework yang cross-platform. Dalam arti, ketika Anda mengembangkan aplikasi berbasis Qt pada sistem Linux, dapat dimungkinkan—insyaallah—Anda dapat men-deploy-nya pada Windows.

Berasal dari perusahaan Trolltech di Norway, sempat di bawah payung organisasi perusahaan besar Nokia di Finland, lalu menjadi independen setelah bersama Digia, Qt memantapkan diri sebagai bagian dari pelbagai ranah pengembangan teknologi mutakhir. Dari peranti embedded dan mobile, IoT, hingga kendaraan otonom/autonomous (self-driving vehicles) dewasa ini, Qt terimplementasikan secara proaktif. Terima kasih kepada Haavard Nord dan Eirik Chambe-Eng, para penemu/pendiri Qt.

Salah seorang penggawa teknologi informasi yang membuat saya ber-KDE/Qt dalam waktu lama adalah Pak Ariya Hidayat. Beliau menulis perlbagai tutorial pemrograman, terutama berbasis Qt atau KDE, dalam majalah InfoLINUX dan/atau dibagikan pada blog beliau. Salah satu karya beliau yang saya gemari adalah kalkulator sederhana berbasis Qt, yakni SpeedCrunch. Currently, beliau menggeluti teknologi web (PhantomJS dan Esprima nan luar biasa) dan motivator pengembangan perangkat lunak terbuka, dan beliau masih dikenal sebagai legenda di KDE.

Sampai sekarang, selama sistem/mesin komputasi masih dapat mendukung, saya masih ber-KDE. Atas Izin-Nya, mengenal developer di balik KDE adalah kesempatan yang tidak dapat dilupakan. KDE, (tentu saja) bersama komunitasnya, masih tetap solid dan luar biasa. Tidak jarang ditekankan bahwa KDE bukan hanya soal teknologi yang dikembangkan bersama, melainkan pulan peran serta (kontribusi) komunitas adalah yang dijunjung tinggi. Seperti komunitas open-source lainnya, komunitas KDE juga tersebar di seluruh dunia, salah satunya di Indonesia, yakni Komunitas KDE Indonesia (Indonesian KDE Community, KDE-ID). At current, KDE-ID dapat ditemui di dalam grup Telegram atau bahkan grup Facebook. Setiap pengguna atau pemerhati KDE dan open-source dapat bergabung di dalamnya, welcome to join the chat and share every KDE stuffs there.

KDE is collaborative, open, and privacy aware. With a vast scope of interesting projects after 22 years, we continue to push the boundaries of what is possible and fun.”

Jonathan Riddel, Leader tim pengembang KDE neon, salah satu senior KDE

Walaupun KDE lebih populer di Jerman dan Eropa, saya tentu tidak melupakan serba-serbi open-source dari AS, selain Slackware. Salah satunya adalah Fedora. Apabila ingin ber-KDE di Fedora, telah disediakan variannya dalam rupa spin, yakni Fedora-KDE. Pelbagai insights menarik dari Fedora-KDE ini dapat ditengok pada blog Danie Vrátil (salah seorang developer KDE yang bekerja di Red Hat Ceko). Selain Fedora, FreeBSD-KDE pun tidak kalah menarik. Untuk versi ini, barangkali blog Adriaan de Groot (dari Belanda) dapat dijadikan pengantar. Yup, pengembangan dan komunitas KDE masih sangat aktif hingga kini. Hal ini dapat ditengok pada web Planet KDE.

Insyaallah, tidak melupakan kenangan bersama KDE. Sebab beberapa teman dan kenalan lebih acap ber-GNOME, sedikit demi sedikit saya mencoba bersahabat dengan lingkungan desktop yang pengembangannya berbasis di Negeri Paman Sam ini. Tidak kalah dengan KDE, Planet GNOME (global) pun masih meriah. Berbasis GTK, desktop GNOME lebih populer daripada KDE. Terlebih sistem-sistem populer didistribusikan secara asali dengan GNOME. Omong-omong, Miguel de Icaza, pendiri GNOME, kekinian ternyata memiliki preferensi atas perangkat dan peranti Apple kekinian.

Cermin-cermin Lokal (Indonesia)

Berikut senarai cermin (mirror) untuk berkas citra ISO sistem operasi terbuka (terutama BSD dan Linux) dan sekaligus sebagai repositori banyak hal terkhusus perangkat lunak sumber-terbuka yang tersedia di Indonesia. Dengan memfaedahi cermin lokal, salah satu maslahatnya adalah kita dapat menghemat pita-lebar (bandwidth) internet ke luar negeri, hal ini mengingat berkas citra ISO yang jamak berukuran tidak kecil (bergigabita). Sekalipun ada yang ke luar negeri, kita masih dapat memanfaatkan cermin yang tersedia terdekat wilayah Tanah Air, salah satunya adalah dari Singapura. Berikut beberapa di antaranya.

Mengapa BSD-Linux dan FOSS

Sebelum Anda melanjutkan, barangkali dapat membaca terlebih dahulu salah satu laman dari Pak Jan Peter Alexander dengan topik “Mengapa FOSS Penting”. Banyak indikator kebermanfaatan bila jamak pengguna teknologi informasi mengetahui faedah dari pemanfaatan FOSS. FOSS tidak sekadar soal penggunaan sistem berbasis kernel Linux atau sistem BSD saja, ia pun mengait pelbagai banyak hal, dari remah-remah hingga berskala besar selaik infrastruktur sistem informasi organisasi/institusi perusahaan swasta, baik nirlaba maupun prolaba, yang menginginkan mayoritas operasionalitasnya stabil dan robust, termasuk di dalamnya bagaimana supaya hal-hal krusial di dalam tubuh organisasi tetap safe dan secure.

Teknologi yang dikembangkan dengan/dalam konsep FOSS menjadi sangat kuat, salah satunya, disebabkan setiap pihak yang berpartisipasi di dalamnya peduli dengan keamanan jaringan infrastruktur komputer, baik berskala kecil maupun lebih-lebih berskala besar dan global. Hal ini mengingat teknologi dikreasi sedemikian rupa bukan hanya membantu kehidupan menjadi lebih mudah, tetapi juga tetap memperhatikan pelbagai aspek yang melindungi privasi para penggunanya. Oleh karena itu, hal ini sangat menjadi pertimbangan utama dalam dunia open-source.

Dalam pengembangan open-source, keamanan privatif Anda, dari data, jaringan, hingga layanan, perlu terjamin ketersediaannya. Hal inilah yang menjadi prioritas utama mengapa jamak pihak/organisasi telah beralih ke sistem/platform yang dikembangkan secara open-source. Salah satu organisasi yang tidak kalah berperan di dunia sumber-terbuka dan lebih menandaskan pada aspek privasi dan bagaimana mengamankannya adalah Electronic Frontier Foundation (EFF). Organisasi nirlaba yang berbasis di AS ini tidak jarang merilis pelbagai panduan dan pedoman bagaimana memanfaatkan pelbagai tools open-source guna mengamankan aktivitas berinternet.

Development (dan deployment) perangkat lunak/keras pun terbuka lebar (wide open) sehingga ketika ditemukan sebuah celah atau kekeliruan pengodean (diistilahkan sebagai bug atau security hole), siapa pun dapat menyumbangkan penambalnya (patch-nya). Tidak jarang, developer dari perusahaan teknologi besar, seperti Google (induk YouTube dan sistem Android), Microsoft, Facebook (induk Instagram dan WhatsApp), Twitter, serta/atau lainnya, berkontribusi dengan energi dan waktunya untuk turut serta memberikan patch yang diperlukan. Bahkan, mereka pun bergabung dengan Linux Foundation.

Tidak salah sebut Microsoft, perusahaan teknologi yang (barangkali) dikenal sebagai pengembang close-source dan propietary-software sebelumnya. Tidak dapat dimungkiri awal mula kelahiran open-source lebih dari dua dekade lalu tidak jauh dari benturan dengan mereka. Salah satu hal yang teramat terasa adalah saat di Indonesia sekitar 2000-an, betapa tidak mudah menyadarkan masyarakat atas legalitas perangkat lunak. Perusahaan yang berasal dari Redmond tersebut pun mendistribusikan software mereka dengan lisensi tertutup dan berbiaya tidak murah. Saat itu, seolah menghiasi laman-laman warta digital lokal yang mengetengahkan beberapa aktivitas penindakan atas penggunaan software bajakan, terutama area kota-kota besar.

Alhamdulillah, open-source dan Linux pun sedikit demi sedikit mulai memperoleh perhatiannya di Indonesia, beriring dengan awal-awal penetrasi penggunaan internet melalui ruang-ruang warung internet, yang dibersamai pula kehadiran pusat permainan berbasis internet dan intranet (game center). Kehadiran Linux di sini pun tidak sekadar menjadi alternatif, tetapi juga membuka positivisme baru bahwa menggunakan software perlu diberi ruang kebebasan yang memadai tanpa mengabaikan legalitasnya. Orang-orang pun tidak perlu khawatir dengan komersialisasi Microsoft melalui produk-produk mereka sebab di Linux pun mereka dapat melakukan banyak hal—alhamdulillah.

Siapa pun dapat berubah, siapa pun boleh mengambil jalan lain di kemudian hari. Seperti apa yang telah dilakukan Microsoft merupakan hal yang wajar (lumrah dapat terjadi). Bahkan, mereka pun menunjukkan kelebihseriusan mereka pada open-source, selain bergabung di Linux Foundation, melalui akuisisi GitHub—salah satu portal berbagi kode-sumber antarpengembang (yang tentu saja: sangat open-source). Serius, mereka pun banyak merilis beberapa produk andalan menjadi open-source—terima kasih kepada Satya Nadella. Melalui kanal YouTube, CNBC memberikan ulasan menarik perihal bagaimana keadaan dunia berteknologi modern sekarang tidak dapat mengesampingkan peran serta open-source dan Linux.

Tidak hanya perusahaan yang telah disebut di atas, atau beberapa perusahaan teknologi besar lainnya, seperti Apple, tentu Google (yang lebih banyak porsi kontribusi mereka di dunia open-source), Facebook, dan lain-lain. Bahkan, sekelas NASA sekalipun, perusahaan antariksa di bawah pemerintah AS, juga beralih ke Linux sekitar 2013 yang lalu, terutama untuk lini International Space Station (ISS).

Jangan ditanya di AS, nyaris jamak perusahaan teknologi besar dan beberapa departemen di pemerintahan yang mengurusi pelbagai permasalahan krusil mempercayakan pondasi sistem Linux-BSD) guna mengakomodasi pelbagai data penting internal perusahaan. Di Eropa pun, badan nuklir mereka, yakni CERN, mengandalkan open-source Linux. Perusahaan swasta bonafide HashiCorp pun turut mengembangkan produk-produk mereka dengan basis open-source. Tidak sedikit berpendapat bahwa open-source software took over the world, salah satunya sebagaimana disampaikan Mike Volpi Techcrunch. Pada 2017, Datamation (melalui Cynthia Harvey) merilis senarai 35 perusahaan terkemuka dunia yang memfaedahi perangkat lunak open-source.

Bukan menjadi rahasia umum lagi bila software terbuka menjadi bagian dari dominasi pergerakan bisnis kekinian. Pendek kata, roda bisnis dunia dapat dikata sudah terbiasa dengan FOSS, baik sekadar memanfaatkan, mengimplementasikan, maupun turut serta dalam serba-serbi pengembangannya. Menukil dari WhiteSource, minimalnya terdapat 10 perusahaan populer besar dunia yang turut serta berkontribusi dalam pengembangan perangkat lunak sumber-terbuka. Hal ini menandaskan bahwa nyaris tiada perusahaan besar yang tidak mengimplementasikan open-source, terutama di dalam tubuh perusahaannya. Kalangan industri makin tidak terpisahkan dengan ranah pengembangan teknologi sumber-terbuka.

Peladen pemerintah Indonesia pun telah disokong oleh workstation bersistem Linux. Alhamdulillah, departemen lain di pusat pemerintahan juga telah menggunakan Linux untuk mendukung pelbagai banyak tugas harian. Kita pun masih berharap semoga digalakkan lagi dan makin menggeliat gerakan Indonesia Goes Open-Source (IGOS) selaik satu dekade lampau. Terima kasih kepada LIPI (terutama kepada Pak Nana SuryanaTwitter, Pak Ibnu Yahya, dan segenap tim) yang masih aktif mengembangkan Linux IGOS Nusantara (IGN) hingga hari ini. Selain IGN, ada pula BlankOn (terima kasih kepada Pak Estu Fardani, Pak Herpiko Dwi Aguno, dan segenap tim)—Anda dapat membantu pengembangan Linux kreasi lokal ini melalui laman Kitabisa.com.

Gratis

Sistem Linux-BSD yang bersifat gratis acap memperoleh pandangan tersendiri. Linux-BSD memanglah gratis, tetapi paradigma gratis di sini bukan berarti dikaitkan dengan pembiayaan, tetapi lebih ditekankan pada kebebasan untuk mempelajarinya dan mendistribusikannya. Kendali distribusi Linux-BSD adalah di bawah lisensi terbuka yang disematkanya sehingga Linux-BSD pun dapat dikenal secara masif. Siapa pun dapat dengan bebas menggunakannya, mempelajarinya, bahkan bisa jadi menjadi sumber inspirasi untuk pengembangan serbaneka produk open-source lainnya. Mengapa tidak?

Tentu saja masih saja yang didapati sebagian orang menyangsikan keandalan Linux-BSD. Tidak perlu dibuktikan bahwa divisi pertahanan AS, serta/atau pemerintah negara-negara maju lainnya, selaik Jepang, Singapura, dan beberapa negara lainnya juga percaya pada keandalan Linux-BSD. Pemerintah negara maju demikian, lebih-lebih perusahaan swasta startup, baik yang baru merintis maupun sudah melangkah lebih jauh ke arah publik, seperti Gojek, Tokopedia, dan kawan-kawan-nya pun menggunakan Linux dan perangkat/peranti open-source lainnya. Perihal IT Governance, artikel Pak Muki (Arrianto Mukti Wibowo) berikut dapat dijadikan rujukan.

Kami pun masih memotivasi mahasiswa untuk tidak asing dengan Linux-BSD, sekalipun mereka masih sepenuhnya ber-Windows. Bukan masalah, semua orang berhak memilih. Mengapa kami memotivasi agar mereka ber-Linux-BSD adalah karena kebutuhan untuk belajar. Secara otomatis, apabila menggunakan Linux-BSD, tidak pantang untuk banyak belajar hal-hal baru, benar-benar lain dari sistem sebelumnya. Barangkali, paradigma awal dan utamanya adalah mahasiswa peduli apakah Windows dan perangkat Office yang mereka gunakan genuine atau tidak sebelum benar-benar memutuskan diri untuk menggunakan Linux-BSD.

Coda

Siapa pun dapat turut serta berkontribusi di dunia open-source Linux-BSD. Bahkan, seorang dokter spesialis tertentu atau apa pun profesi Anda, tidak tidak menutup kemungkinan untuk urun rembug bersama di dunia yang teramat terbuka ini. Kontribusi yang dapat dilakukan tidak sekadar perihal pemrograman atau coding, menyumbang beberapa kata atau kalimat untuk dokumentasi yang diperlukan pun dapat. Well, kita menggunakan produk open-source Linux-BSD saja sudah cukup membantu pengembangan berikutnya.

The open-source & BSD-Linux communities are fantastic. They are always believe in sharing & openness. They share code freely, being volunteer for any kind of open-source events, they born to code (for humanity). They contribute to the projects is not for money, mostly have the motivation to make a better world with technology. They believe in it. The FLOSS communities serve anyone with patience and/or give great insights for every BSD-Linux users. By Allah’s Hand, they made the communities alive and made sense that BSD-Linux is really easy for use. All issues are answered well—walhamdulillah. Thank you, thank you, thank you very much to them—the communities.

Open-source is not only about the licenses, but importantly about the community. From the community, many developers born and giving very great support to push the technology-based start-ups business successfully across the globe these days. In the other word, the open-source people are the part of the great-unicorn start-ups these days. And sure, mostly in international big tech companies today, that popular build in Silicon Valley, from the founders (and co-founders) to the employees, are taken from and/or being part of the open-source world.

Your language programming, from Python, Ruby on Rails, PHP, and many more, are develop in open-source models. Your mobile systems maybe mostly are open-sourced too. The founders/developers learn from the open-source communities & resources, and mostly give feedback back to the communities in various contributions. Everyone can contribute, everyone can use. By Allah’s Hand, we can not imagine how the world today without the open-source movement.

Selamat ber-FOSS! Selamat menuai pelbagai faedah dari pengembangan teknologi open-source!