Islam

Bismillah.

Berislam adalah berkehidupan—masyaallah. Tanpa Allah Menganugerahkan Islam, entah bagaimana kehidupan duniawi manusia dan segenap makhluk-Nya. Alhamdulillah atas nikmat Allah berupa agama nan mulia ini. Segala Puji bagi Allah, Dia Menganugerahkan Hidayah-Nya kepada kita (semoga terus-menerus, selamanya, dan hingga akhir hayat—amin).

Salah satu kewajiban kita, sebagai salah satu wujud rasa syukur kita kepada Allah lantaran salah satu Karunia-Nya berupa Hidayah-Nya (keimanan), di samping peribadatan nan utama, adalah menuntut ilmu (Islam) nan sahih (bersumber pada Quran dan Sunnah yang autentik). Salah seorang ulama pendahulu (Salafush-Shālih, salaf saleh), yakni Muhammad bin Sirin (atau dikenal pula dengan panggilan Ibnu Sirin)—rahimahullah, mengatakan (dalam “Muqaddimah” Sahih Muslim): “Sesungguhnya, ilmu ini adalah agama, hendaklah kalian melihat dari siapa kalian mengambil agama kalian.” Oleh karena itu, dimohon berkonsultasi kepada para ulama, asatiza (para ustaz), dan para ikhwan se-manhaj terdekat perihal kajian Islam sahih dan tepercaya di daerah tinggal Anda.

Se-manhaj adalah kemestian. Apabila se-manhaj, niscaya akan didapati ketenangan—insyaallah. Adapun rambu-rambu ringkas yang kiranya dapat dijadikan rujukan bagaimana kajian Islam se-manhaj yang baik sebagai berikut.

Tiada Bermaksiat, Tidak Berinovasi, dan Tidak Menyekutukan Allah
Dakwah yang baik adalah tidak dihiasi: maksiat, inovasi yang tidak berdasar pada Quran dan Sunah sahih, serta/atau hingga/bahkan ‘ritual/amalan’ menyekutukan Allah Ta’alawallahul musta’ān. Dakwah yang Haqq dibangun tidak di atas kemaksiatan, inovasi dalam beribadah, dan/atau penyekutuan kepada selain-Nya sedikit pun. Islam telah datang dengan sempurna dari-Nya—dengan penuh kedamaian dan keadilan. Islam tidak perlu dimodifikasi, ia sudah sesuai untuk seluruh makhluk/ciptaan-Nya (manusia dan semesta) serta sesuai untuk serbaneka konteks waktu/kehidupan atas Izin-Nya.

Islam yang Haqq niscaya disampaikan dengan penuh kelembutan dan cinta kasih bila berpegang pada Quran dan Sunnah sesuai tuntunan para Salaf sehingga tidak perlu ditambah-tambah dengan pelbagai rupa hiburan—yang tidak jarang melenakan atau bahkan melamapui batas. Selama dakwah tauhid sungguh-sungguh ditegakkan dengan Al-Haqq (‘kebenaran’ digigit dengan geraham kesabaran dan digenggam dengan pegangan kesungguhan di atas Jalan-Nya), berjalan bersama para ulama pendahulu dan ulama kibar dunia kekinian, insyaallah, Allah senantiasa Membersamai. Selalulah—tiada letih—memohon agar Allah senantiasa Mencurahkan Hidayah-Nya kepada kita; senantiasa Dikuatkan-Nya di atas pelbagai Jalan Kebaikan-Nya. Bersabarlah, hayyākumullah!

Tidak Banyak Canda
Barangkali, sesekali canda adalah tanda cinta, tetapi lebih utama untuk tidak berlebihan atasnya. Tidak jarang, berlebih dalam canda menggiring pada kegiatan yang sia-sia. Astagfirullah, banyak canda dan tawa merupakan salah satu sebab hati menjadi beku, lebih-lebih matiwallahul musta’ān, sedangkan perbuatan sia-sia hanyalah membuang waktu dan menguras energi yang semestinya elok digunakan untuk hal-hal yang lebih berfaedah. Allahu Akbar, Dia senantiasa Mengawasi kita dan hanya Dialah yang Dapat Membaca relung hati kita—istigfar.

Tiada Olok-olokan
Wujud lebih lanjut dari keacapan dalam canda adalah menjadikan hal-hal bernuansa syariat sebagai bahan candaan/olokan. Seorang muslim tentu tidak akan pernah mengolok-olok: ayat-ayat Quran, serbaneka syariatnya, sabda Rasulullah dan kalam para Sahabat beliau, serta nasihat para alim ulama. Sekecil apa pun rupa olokan tersebut adalah amat Dienggani-Nya. Astaghfirullah.

Antidusta
Tidaklah elok bila dakwah Islam dihiasi dengan aktivitas mendistribusikan/menyebarkan kabar (warta, berita) dusta (palsu, bohong, fake newshoax). Rasulullah amat menekankan agar kita tidak berdusta, sekalipun untuk bercanda (membuat tertawa orang lain). Beribu-ribu tahun yang lalu, Rasulullah selalu mewanti-wanti agar berhati-hati kala menerima kabar/informasi. Para Salaf telah mengajarkan kepada kita untuk memeriksa setiap perkataan dan memastikan perincian penisbatannya. Masyaallah, sebelum fenomena kabar bohong yang menggejala dewasa ini, Islam telah lama hadir dengan mengedepankan nilai-nilai uji validitas (kesahihan) dan reliabilitas (dapat dipercaya) atas beragam pengetahuan/ilmu yang tertuang dalam syariat.

Acap-acaplah memeriksa, mengklarifikasi, mengonfirmasi, atau tabayyun atas keabsahan (validitas) suatu informasi yang tersebar, lebih-lebih dari layanan daring. Janganlah bermudah-mudah mengalihkan (melakukan forward) konten elektronik/digital sebelum terbukti kesahihannya. Berhati-hatilah! Terlepas dari UU ITE Indonesia yang wajib kita patuhi, Allah senantiasa Menghasung kita untuk berhati-hati dan acap menahan diri (bersabar) kala memperoleh kabar apa pun.

Taat Pemerintah dan Antiprovokasi
Sikap yang baik ketika berdakwah adalah tidak provokatif, tidak menyebar propaganda. Hal ini termasuk tidak membuat pernyataan ketidaksukaan duniawi kepada persona atau individu, atau bahkan kelompok (organisasi, lembaga) duniawi tertentu—yang masih diakui, diizinkan, dilindungi, dan dijamin keamanannya oleh pemerintah/negara.

Syariat menandaskan agar dakwah Islam tidak memuat perkataan/kalam cibiran/celaan kepada penguasa/pemerintah, baik kepada segenap (baik individual maupun kelompok) aparat pemerintah maupun pada kebijakan mereka. Wajib bagi kaum muslimin untuk taat kepada pemerintah. Alhamdulillah, dapat dikatakan bahwa Indonesia merupakan negeri Islam (dengan mayoritas penduduk beragama Islam, dengan Pancasila yang sarat nilai-nilai Islam), kita wajib taat kepada Bapak Presiden Indonesia dan segenap aparat pemerintahan, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah, baik pengampu terdahulu, kekinian, maupun yang akan datang.

Kita Dilarang Allah untuk memberontak kepada pemerintah, sekalipun baru berbatas perkataan di forum-forum kecil, sekalipun bercanda. Kita Dilarang-Nya mencibir (lebih-lebih menghina) pemerintah di media mana pun, lebih-lebih media daring kekinian—yang tidak berbatas ruang dan waktu. Kita Dilarang-Nya berdemonstrasi di jalanan untuk mengkritik pemerintah (entah apa pun penamaan aksinya), lebih-lebih bila dihiasi dengan ujaran kebencian (hate-speeches) kepada mereka.

Alhamdulillah, telah ada ruang-ruang khusus bila ingin menasihati pemerintah, salah satu di antaranya adalah melalui para alim ulama kita. Saling nasihat-menasihati tetaplah perlu digaungkan, tetapi dengan cara-cara yang baik dan meminimalisasi mudarat. Terngiangkanlah selalu nasihat-Nya: janganlah kita membuat kerusakan di muka Bumi.

Antiradikalisme
Tidak mengandung pemikiran ekstremisme, terorisme, atau radikalisme atas nama Islam, yang jamak disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Prinsip keras dan penuh mudarat ini tidak jauh dari pemahaman kaum Khawārij. Pionir Khawarij telah muncul bahkan sejak Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—masih hidup. Kepada para Shahābah Rasulullah, Khawarij membenci dan menghinakan (merendahkan) para Sahabat, padahal Allah Memerintahkan kita agar tidak mencibir satu pun Sahabat Rasulullah—radhiyallahu ‘anhum.

Kepada pemerintah Indonesia, salah satu indikator karakteristik (sifat, tabiat) Khawarij adalah gemar mengkritik pemerintah (di media mana pun, baik lisan maupun tulis), mencari-cari aib pemerintah, bahkan mengafirkan (‘menghalalkan’ darah) pemerintah. Kepada para nonmuslim di Indonesia, Khawarij berani berbuat zalim (padahal Allah Memerintahkan kepada kita agar berbuat baik dan adil kepada siapa pun).

Kepada kaum muslimin di negeri-negeri Islam, Khawarij pun tidak jarang menumpahkan darah (bahkan dengan segala cara, termasuk menghalalkan aksi bunuh diri, bahkan bekerja sama dengan penganut agama Syiah)—mereka amat membenci pemerintah Arab Saudi, Indonesia, dan sekutunya. Berhati-hatilah dan waspadalah dengan pemahaman/sifat/sikap Khawarij. Ulama menandaskan bahwa salah satu golongan yang amat kuat memegang pemahaman Khawarij adalah Ikhwani dan pelbagai subturunannya. Wallahul musta’ān.

Jihad atas Izin Pemerintah
Tidak ada kalam jihād fī sabīlillah (sabilillah: for the Sake of Allāh) ke medan perang untuk membela kaum muslimin, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, kecuali atas izin penguasa/pemerintah/negara setelah atas rida orang tua, keluarga, sahabat, dan segenap asatiza berlandaskan nasihat para ulama. Apabila ada sebagian kaum muslimin yang tertindas di sebuah negeri dan tiada anjuran dari pemerintah Indonesia untuk memberikan ta’āwun (bantuan) fisik, yang paling pokok dilakukan adalah menguatkan doa-doa kebaikan bagi saudara/saudari kita yang tertimpa musibah dengan sebaik-baik doa kita (apalagi bila dihasung pula oleh asatiza dan masyaikh). Dapat pula melalui serbaneka rupa bantuan (infāq, shadaqah) semampu kita melalui pelbagai saluran yang diizinkan pemerintah.

Anti-organisasi Terlarang
Islam bukanlah organisasi atau partai, Islam tidak butuh grup-grup Hizbiyyah. Islam lebih menekankan persatuan, bukan perpecahan melalui corong-corong Hizbiyyah.

Dakwah Islam yang baik tidak dihiasi pula dengan serbaneka bentuk dukungan terhadap paham-paham duniawi yang telah dilarang keberadaannya secara konstitusi, peraturan perundang-undangan, dan/atau hukum nasional yang berlaku di Indonesia, seperti komunisme, atau bahkan separatisme (pemisahan diri secara kewilayahan dengan berkudeta—memaksa masyarakat setempat untuk berpisah dari Indonesia, tanpa izin pemerintah).

Perlu selalu untuk diingat bahwa Indonesia adalah negeri Pancasila, yang sarat atas nilai-nilai Islam serta antiperpecahan dan antikomunisme. Referensi perihal penyimpangan, kesesatan, dan kejahatan komunisme dapat merujuk pada laman web Antikomunisme. Indonesia juga merupakan negeri yang sarat atas persatuan dan kesatuan bangsa, elok kita tetap bersatu padu (tidak memisahkan diri dari pemerintah Indonesia). Salah satu wujud yang paling mungil dari hal ini adalah beribadah bersama (mengikuti waktu yang ditetapkan) pemerintah. Dengan demikian, atas Izin-Nya, terwujudlah persatuan yang melahirkan ketenangan dan perdamaian di Bumi Nusantara.

Jangan terhasut dengan peristilahan daulah dan khilafah yang dibawa oleh grup-grup tertentu yang sejatinya condong pada pemahaman Khawarij. Indonesia adalah negeri kaum muslimin yang sudah sah berdiri dan berdaulat sebagai negeri Islam yang mendamaikan, di antaranya melalui implementasi nilai-nilai Pancasila dan “Pembukaan” Undang-Undang Dasar 1945 yang sangat kuat keislamannya. Selesai.

Perlu ditandaskan bahwa tiada kalam ‘menegakkan khilafah’ untuk Indonesia, Negeri Tauhid Arab Saudi, dan negeri-negeri kaum muslimin yang telah berdaulat utuh—yang sesungguhnya telah lama ber-‘khilafah’ mapan, kokoh, dan khair atas Izin-Nya. Fakta yang terjadi, ketika seseorang disibukkan dengan istilah khilafah, ia malah terjatuh pada permainan politis (politik praktis) sesaat dan mengabaikan nilai-nilai esensial tauhid dalam Islam. Jangan teperdaya dengan muslihat orang itu yang seolah membawa ‘kalam tauhid’, padahal sesungguhnya ia tidak mewakili Islam sedikit pun. Memperberat diri (sehingga memaksa semua pihak) dengan istilah kekhilafahan adalah kemudaratan dan hal ini telah ditegaskan oleh para ulama kibar.

Mengikuti Nasihat Ulama
Selalu berpegang pada nasihat yang “paling baru”, kekinian, atau mutakhir dari para Salaf, jumhur ulama, asatiza, dan segenap ikhwah shalih lainnya. Bersatulah bersama mereka! Hayyākumullah (semoga Allah Menguatkan Anda semua)!

Apabila ruang dan waktu begitu berbatas, apabila belum mudah bersemuka dengan para alim di tempat kita bermukim, subhaanallahwalhamdulillah, Dia Mengakomodasi kita dengan serbaneka Kemahapemurahan-Nya. Salah satu nikmat Allah kekinian adalah jamak kaum muslimin dapat dengan mudah mengakses serbaneka perbendaharaan ilmu sahih Islam melalui pelbagai layanan yang tersedia di dalam ruang maya (internet).

Anjuran dari para ulama dan asatiza kepada kita, sekalipun telah Dimudahkan Allah sehingga kita dapat mengakses ilmu melalui medium internet dari pelbagai peranti dan/atau perangkat gawai nan praktis, hendaknya kita tetap berupaya menghadiri majelis ilmu dan ber-mulazamah langsung di depan ustaz (atau ustazah khusus untuk para ummahat), lebih-lebih Diizinkan-Nya bermajelis bersama beberapa ulama—hal ini sebagai pengingat pokok kami pribadi. Selain itu, elok kita senantiasa berhati-hati dalam mengambil ilmu sebab tidak semua majelis kajian atas nama Islam bersungguh hati membawa amanah agama Islam kita nan mulia.

Berikut beberapa pranala (tautan, links) laman situs web ihwal khazanah pengetahuan Islam nan sahih dan kredibel—insyaallah. Pranala-pranala, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, atas Kuasa dan Bantuan Allah, dikumpulkan atau disarikan sedemikian rupa. Semoga pranala-pranala pustaka Islam di bawah ini dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya sehingga dapat dituai serbaneka faedah kehidupan darinya.

Pranala Laman Para Ulama Islam (Jamak Berbahasa Arab)

Pranala Laman Asatiza dan Komunitas/Marakiz Muslimin di Barat (Jamak Berbahasa Inggris)

Pranala Laman Asatiza Ahlussunnah Indonesia

Alhamdulillah, atas izin-Nya, masih banyak ulama kibar yang dapat dijadikan rujukan ilmu dewasa ini. Beberapa ulama tersebut jamak masih dapat dibersemukai di Negeri Tauhid dan negeri Islam sekitarnya. Berikut beberapa di antaranya.

  • Al-‘Allamah Asy-Syaikh Hasan bin ‘Abdulwahhab Marzuq al-Banna حفظه الله.
  • Al-‘Allamah Asy-Syaikh Salih al-Luhaidan حفظه الله.
  • Al-‘Allamah Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umair al-Madkhali حفظه الله.
  • Al-‘Allamah Asy-Syaikh ‘Abdulmuhsin al-‘Abbad حفظه الله.
  • Al-‘Allamah Asy-Syaikh Salih al-Fauzan حفظه الله.
  • Al-‘Allamah Asy-Syaikh ‘Ali bin Nasr al-Faqihi حفظه الله.
  • Al-‘Allamah Asy-Syaikh ‘Ubaid al-Jabiri حفظه الله.
  • Al-‘Allamah Asy-Syaikh ‘Abdulaziz bin ‘Abdullah Alu Syaikh حفظه الله.

Penandas:
Alhamdulillah, sesungguhnya, terdapat banyak laman rujukan atau referensi ihwal kajian Islam daring yang se-manhaj lainnya, baik internasional maupun lokal. Mohon dimaafkan bila kurang dapat menampung semua pihak yang terafiliasi atau di atas jalan manhaj Al-Haqq yang sama.

Atas Izin-Nya, pada laman ini, hanya dapat ditampilkan beberapa pranala sumber pokok dan telah diketahui/dikenal baik oleh segenap alim ulama dan asatiza—insyaallah. Oleh karena itu, sebab keberbatasan kami, dimohon untuk menyampaikan koreksi bila mendapati hal yang perlu diluruskan, misalnya barangkali pula terdapat pranala yang tidak berfungsi dengan semestinya, serta bisa jadi terdapat pembaruan (update) bila dimungkinkan—insyaallah. Dimohon untuk tidak sungkan-sungkan menyambung wicara dengan kami. Wallahu A’lamu bishshawāb.

Perlu ditandaskan berulang-ulang dan tidak letih-letih agar kita berupaya dapat bermajelis ilmu secara langsung bersama asatiza dan ikhwah terdekat sebab hal ini lebih utama daripada sekadar mengambil faedah melalui wasilah daring atau elektronik. Fitnah-fitnah yang mudah menyambar-nyambar terkini lebih dapat disikapi dengan bijak—insyaallah—bila langsung dapat dikonsultasikan kepada ustaz-ustaz Ahlussunnah di wilayah Anda. Jalinlah dan tingkatkanlah ukhuwah di belahan dunia mana pun kita Ditempatkan-Nya. Hayyākumullah!

Semoga senantiasa berfaedah, baik di dunia maupun di akhirat. Terima kasih, jazākumullah khairan katsiran (semoga Allah Membalas Anda dengan kebaikan dan pahala).

Nas-‘alullah as-salāmah wal-‘āfiyah.
(Kita memohon—hanya—kepada Allah: keselamatan dan perlindungan.)