Latif Anshori Kurniawan

Faedah Berbahasa Indonesia

Page 14 of 34

Bertanya

Pernah, pada suatu ketika, saya melayangkan kesempatan untuk bertanya kepada teman-teman mahasiswa. Namun, ada hal yang mengganjal, seakan mereka sebenarnya ingin bertanya, tetapi kurang greget untuk mengutarakannya. Hal ini tampak dari perubahan respons mimik mereka. Tentu saya tidak dapat membaca isi hati mereka, hanya dapat melihat pergerakan wajah yang terjadi, menandakan suatu hal yang entah apa.

Kalaupun ada yang bertanya, yang mengajukan pertanyaan pun masih kurang variatif. Dengan kata lain, masih didominasi oleh yang itu-itu saja. Kalau mendapati sedikit mahasiswa yang bertanya atau bahkan tidak ada yang bertanya sama sekali, saya acap berasumsi pada beberapa kemungkinan, di antaranya: mereka memahami pokok pembicaraan atau mereka memang kebingungan (dan sungkan jujur untuk menyampaikannya—he he he).

Beberapa kali saya lecut mereka untuk ‘sedikit bersuara’, sekalipun itu sekadar bercoletah canda tidak begitu penting. Entahlah, saya lebih menyukai kelas yang ramai (penuh gairah). Untuk memuluskan hal ini, intonasi suara kerap saya tinggikan—kalau tidak boleh dikatakan berteriak-teriak. Jika ada suara lantang yang digemakan, cukup dapat menarik perhatian, bukan?

Aktivitas bertanya merupakan salah satu bagian aktivitas berdiskusi yang menuntut respons jawaban dari siapa pun yang menyimaknya. Kadang kala, banyak yang beranggapan sebagai berikut.

  • “Untuk apa bertanya jika hal itu malah membuat masalah?”
  • “Untuk apa bertanya terlalu banyak jika hal itu malah membuat malu (malu-maluin).”
  • “Untuk apa bertanya jika sudah tahu jawabannya?”
  • “Untuk apa bertanya jika kita dapat mencari jawabannya nanti?”
  • Lainnya?

Barangkali, di antara beberapa ujaran di atas, pernah terlintas dalam benak Anda. Apapun alasannya, rasanya, tidak ada salahnya bertanya. Dengan syarat, harus dapat mengendalikan diri.

Mengendalikan diri yang dimaksud adalah bagaimana kita dapat menempatkan diri ketika bertanya. Dengan kata lain, kita harus melihat konteksnya. Tidak mungkin, bukan, ketika berlangsung perkuliahan Apresiasi Prosa Fiksi misalnya, hal yang ditanyakan berkait dengan harga sembako di pasar? Kalaupun terpaksanya ada yang sedikit slenco seperti itu, bukan masalah bagi saya, sebagai selingan. Pendek kata, saya sudah cukup senang jika ada yang bersuara.

Kalau sekadar meperturutkan kesenangan saya, tentu hal ini sangat egois. Baik, kemungkinan saya yang akan berbanyak tanya kepada teman-teman mahasiswa dalam sesi diskusi di kelas atau di mana pun–insya Allah. He he he.

Bertanya merupakan salah satu aktivitas interaksi dalam pergaulan sosial antarsesama kita di mana pun tempat yang memungkinkan untuk berkomunikasi. Baik diprakarsai oleh penutur maupun ditanggapi oleh mitra tutur, kegiatan tanya-tanya selalu menghiasi. Mau tidak mau, atas Izin-Nya, akan senantiasa ada aktivitas tanya-jawab antarkita pada ruang apa pun dan media mana pun.

Minimal kepada diri sendiri, cobalah bertanya! Sudahkah Anda bertanya hari ini?

Surel

“Kita sambung wicara lewat udara, ya Bung! Saya tunggu e-mail Anda.”

Barangkali, Anda pernah mendapati percakapan di atas, atau bahkan Anda sendiri pernah mengalaminya. Hal yang tidak dapat dilepaskan dari aktivitas keseharian kita, para pengguna jejaring maya, dalam berkomunikasi menggunakan surat elektronik (surel). Dalam bahasa Inggris, surel diistilahkan sebagai e-mail atau email. Keduanya, baik e-mail maupun email, dapat digunakan dalam bahasa asing tersebut. Perbedaannya hanya pada kebiasaan penggunaannya. Ketika ada orang yang bertutur dalam ranah bahasa Inggris ragam Kerajaan Inggris Britania Raya (United Kingdom, UK), mereka biasa menggunakan kosakata e-mail (ada tanda/garis pemisah: []). Lain halnya ketika di Amerika Serikat, orang-orang di sana cukup familiar dengan email atau hanya mail.

Masihkah Anda mengingat ketika memiliki alamat surel untuk pertama kali? Rasanya, bagi Anda yang berkelahiran `80-an atau `90-an, hal ini akan mengingatkan pada pengalaman menggunakan surel dari beberapa layanan yang mahsyur kala itu, seperti Yahoo! Mail, Hotmail oleh Microsoft, Mail.com, GMX.de dari Jerman, Lycos yang cukup populer di Inggris, dan lain-lain.

Kita tidak lupa bagaimana Tekom.net Mail, Plasa.com (kekinian telah berganti nama menjadi Plasa MSN), Indo.net.id, dan lain-lain, cukup banyak digunakan rakyat Indonesia pada masa itu–atau mungkin hingga sekarang. Gmail bukanlah pionir, tetapi cukup sukses dan mendominasi pada beberapa tahun terakhir—untuk layanan ini, saya masih sangat mengingat awal mula memiliki akun surel dari Google ini, yakni atas jasa baik Pak Aloysius Heriyanto; terima kasih, Bapak.

Kita tidak akan membahas perihal hakikat surel pada tulisan ini, sudah ada begitu banyak pustaka perihal layanan ini di internet. Fokus pembicaraan kita pada kosakata surel dalam bahasa Indonesia.

Lembaga yang menangani dan bertanggung jawab atas eksistensi bahasa Indonesia, Badan Bahasa, telah merumuskan padanan kata surel, yakni pos-el (kependekan dari pos elektronik). Namun, menurut saya, kosakata ini masih kurang dikenal oleh para pengguna internet di Indonesia.

Surel masih populer dan jamak digunakan. Barangkali, hal ini digara-garai—dengan Izin-Nya—oleh para penggemar bahasa Indonesia di media sosial dan para wartawan koran/majalah digital. Entah sejak kapan awal mulanya digaungkan hingga relatif menyebar luas pada dewasa ini sehingga surel lebih dapat mengakrab dan menjadi lazim daripada pos-el. Sebuah fenomena atau gejala yang tidak dapat disangkal. Barangkali, bisa jadi, kelak kosakata ini akan diusulkan kuat sehingga dimasukkan ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi mendatang. Mengapa tidak…?

Medium

Evan Williams, salah seorang pendiri Blogger dan Twitter, mendirikan perusahaan digital rintisan (startup) baru, yakni Medium. Medium berkonsep sederhana: berbagi gagasan dan cerita. Ia lebih dari sekadar wadah (platform) aplikasi web untuk penerbitan tulisan.

Medium memang tampak seperti wadah kegiatan tulis-menulis daring lainnya, selaiknya aktivitas ngeblog (blogging). Pada umumnya, para penulis di Medium mampu menulis dengan baik, terutama jika kita menengok tulisan-tulisan berbahasa Inggris—sayangnya, masih sedikit tulisan dalam bahasa Indonesia, jadi diharapkan ketersediaan dukungan tulisan-tulisan dalam bahasa Indonesia (atau kita ajak para pengguna Medium belajar bahasa kita?). Hal ini dikarenakan terdapat beberapa fitur penunjang kualitas tulisan di Medium menjadi optimal, di antaranya sebagai berikut.

Saran Penyuntingan
Setiap pos (tulisan yang ditayangkan) pada Medium dapat disarankan untuk disunting oleh setiap pengguna. Artinya, pada bagian tulisan yang dirasa perlu diluruskan atau diperbaiki, pengguna lain cukup menambahkan saran atau usulan kepada penulis asalinya dengan mengklik tanda (+). Hal ini merupakan fitur yang cukup bermanfaat karena setiap orang dapat memberikan tanggapan (umpan balik) dan rekomendasi untuk meningkatkan kualitas tulisan. Misalnya, secara tidak sengaja, kita menuliskan kata-kata salah eja pada sebuah paragraf, pengguna yang peka pun dapat langsung mengingatkan kita melalui fitur ini.

If the other users or readers found an incoherence, in-cohesion, and/or incomprehension of the posts, they can put corrections and/or suggestions to the writers. Then, the writers can accept or ignore them.

Durasi Membaca
Para pembaca Medium dapat melihat (mendapati) durasi membaca/keterbacaan pada masing-masing tulisan yang ditayangkan. Fitur ini sungguh berguna mengingat tidak setiap orang memiliki waktu yang sama sehingga mereka dapat mengefektifkan waktu mereka dengan baik.

Namun, Bukan Blog
Memang benar, di Medium, Anda dapat leluasa menulis karena persyaratannya cukup memudahkan dan ditautkan dengan akun Twitter dan Facebook Anda. Namun, perlu diingat bahwa Medium bukanlah Blogger, WordPress, Tumblr, dan/atau layanan ngeblog lainnya dewasa ini. Nyaris serupa, tetapi berbeda. Sedikit.

Mm, lebih baik Anda langsung merujuk ke Medium. Sila coba! Lalu, sila berbagi pengalaman memanfaatkan Medium di sini. Saya tunggu cerita-cerita Anda.

Tesis

Sebagaimana jamak diketahui, belum lengkap rasanya jika mahasiswa program magister (master) belum menyelesaikan kewajiban akhirnya, yaitu meneliti untuk kemudian diramu dalam rupa tesis. Berapa lama pun ia menempuh studi jenjang strata dua (S-2), tesis harus tetap difinalkan.

Tidak jauh berbeda dengan skripsi, tesis merupakan laporan penelitian yang dilakukan mahasiswa sebagai wujud tanggung jawabnya di dunia keilmuan pada jenjang perguruan tinggi. Bedanya dengan skripsi, kajian yang disajikan dalam tesis bersifat lebih mendalam dan lebih luas di samping tetap mengandung aspek kebaruan. Aspek kebaruan tidak hanya seputar topik yang diangkat untuk diteliti, tetapi pula didukung sumber-sumber pustaka terkini dan diharapkan memiliki kontribusi yang lebih baik.

Barangkali, tesis tidak sekompleks disertasi doktoral pada jenjang strata tiga (S-3), tetapi khazanah konsep penelitian dalam tesis dapat dijadikan acuan untuk menyusun disertasi. Dari tesis yang terkonsep bagus, tentu dapat diteruskan pada disertasi yang lebih dalam telaah objek dan subjek penelitiannya.

Permasalahan yang sering dihadapi teman-teman dalam menyusun tesis adalah bukan perihal proses pemilihan topik yang akan diangkat sebagai permasalahan penelitian, melainkan jamak terjatuh pada khazanah pustaka. Topik atau judul penelitian boleh bombastis, tetapi tentu hal ini harus diiringi dengan eksekusi yang mumpuni. Ekseskui yang dimaksud bukan sekadar bagaimana meramu kata-kata yang baik, tidak dilupakan pula konsultasi aktif dengan para pembimbing atau pihak yang berkompeten yang kiranya dapat memberi masukan, bukan juga hanya penelitian yang dilaksanakan dengan penuh sukacita, melainkan pula tidak abai untuk memperkaya sumber-sumber pustaka yang mendukung.

Sumber pustaka yang diharapkan dalam tesis tidak hanya memiliki sifat kebaruan (aktual, faktual), tetapi juga pustaka yang lebih luas, salah satunya melalui jurnal-jurnal, terutama jurnal-jurnal internasional yang jamak berbahasa asing Inggris. Nah, salah satu permasalahan yang acap muncul adalah di sini, terutama bagi mahasiswa jurusan nonbahasa Inggris, sungguh memerlukan motivasi yang teramat tinggi untuk sekadar meramban jurnal-jurnal internasional yang berkaitan dengan topik tesisnya. Senyampang seakan tidak begitu mendalami isi jurnal yang ditelaah, asal-asalan dalam memahami isinya.

Baca-baca Jurnal Penelitian!
Sebenarnya, tidak terlalu sulit untuk mengerti jurnal-jurnal penelitian dalam bahasa Inggris, hanya perlu kemauan dan kesungguhan. Hal ini juga tidak memerlukan proses dan waktu yang lama alias hanya membutuhkan pembiasaan. Dalam membaca-baca jurnal-jurnal tersebut, tidak perlu setiap kata diterjemahkan secara harfiah kata demi kata, cukup dengan memindai sekilas dan/atau membaca cepat. Artinya, perlu sedikit kecermatan untuk mendapati kata-kata kunci. Paling pol perlu perhatian lebih pada latar belakang penelitian dan simpulannya.

Memahami latar belakang dimaksudkan untuk mengetahui perian dasar yang melatarbelakangi penelitian. Dari situ, akan diketahui hal-hal apa saja yang menjadi landasan peneliti jurnal tersebut dalam merumuskan masalah pada penelitiannya. Acap kali, uraian subbab pendahuluan ini diawali dari hal-hal yang bersifat umum yang muara akhirnya mengerucut pada topik yang diangkat.

Sebuah penelitian, di samping terdapat hal yang dijadikan latar belakang masalah, tentu saja terdapat rumusan masalah. Guna rumusan masalah adalah untuk menentukan beberapa poin yang mendukung kajian topik penelitian. Dari kedalaman masalah yang dirumuskan, juga cukup dapat diketahui ke mana arah pembahasannya. Perlu diperhatikan, tidak semua hal dari latar belakang masalah dapat dibuat rumusan masalahnya agar pembahasan penelitian tidak terlalu melebar ke mana-mana. Rumusan masalah yang ada memudahkan fokus penelitian, yang dijawab pada simpulan. Bukan masalah pula, sebenarnya, jika mahasiswa selaku pembaca jurnal langsung memusatkan perhatian pada simpulan saja, tetapi alangkah lebih eloknya jika ia berkenan membaca beberapa bagian (bab) penting yang tidak kalah penting.

Tidak lupa, ketika menelaah jurnal penelitian, untuk diperhatikan referensi pustaka yang disertakan. Sumber pustaka yang mumpuni sungguh sangat membantu kualitas penelitian yang disajikan. Barangkali, pustaka yang ada dapat dijadikan acuan untuk dicari babonnya sehingga menambah kuantitas, juga bisa jadi kualitas, penelitian tesis mahasiswa.

Lalu, Masalahnya Apa…?
Tidak pernah kering nasihat: semua kembali pada masing-masing individu. Masalah terberat memang terletak pada pelaku penelitian tesis, yaitu mahasiswa itu sendiri, kerap kali didapati mereka kurang bergairah membaca. Permasalahan membaca ini bukan hal yang tabu di mata para dosen atas mahasiswa mereka. Sudah begitu jamak diketahui oleh mahasiswa konsep: semakin besar masukan (‘input’), semakin besar pula keluarannya (‘output’). Artinya, jika mereka banyak membaca buku atau jurnal, tentu khazanah pemikiran mereka akan menjadi kaya pula, dan hal ini dapat cukup membantu mereka dalam menyusun tesis.

Banyak kalangan membilang bahwa aktivitas membaca merupakan kegiatan yang teramat tidak mudah untuk dilakukan, apalagi dibiasakan. Barangkali, mereka suka membaca, tetapi membaca berita atau bahan-bahan bacaan yang ringan-ringan. Masih mending, mungkin, mau membaca artikel-artikel, tetapi kadar artikel yang dibaca memiliki bobot yang sangat kurang, atau bahkan tidak bermanfaat sama sekali bagi dirinya. Lebih-lebih jika membaca jurnal penelitian, terutama ragam internasional.

Lain individu, lain pula permasalahannya. Beberapa hal yang diuraikan di atas memang bukan harga mutlak, melainkan sekadar temuan yang memiliki kecenderungan (umum terjadi, minimalnya yang pernah penulis alami sendiri–he he he).

Tidak ada kata terlambat untuk lebih baik. Bersegeralah untuk fokus menyelesaikan tesis Anda!

Menunggu Waktu

Salah satu hal yang tidak ringan dalam kehidupan ini adalah bertanggung jawab atas segala hal yang dilakukan, seperti: berbicara/mengobrol, melihat, menyimak/mendengar, merasakan, dan lain-lain). Pendek kata, apa pun yang manusia lakukan di dunia ini akan Dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sudahkan kita siap dengan hal ini? Semestinyalah ada sesuatu yang perlu kita kontribusikan baik untuk kehidupan ini, terutama jika kontribusi itu diniatkan ibadah kita sebagai hamba-Nya Azza wa Jall.

Life musts go on. Seringkali kita melewati waktu yang Diberikan-Nya tanpa kita sadari apakah waktu yang terlewati itu telah kita isi dengan kebermanfaat yang berlimpah atau sekadar terlewati begitu saja. Sebagai Muslim, tentu hendaknya kita tidak abai untuk senantiasa mengikuti Panduan-Nya yang didasarkan pada Quran dan Sunnah (dengan pemahaman Salaful Ummah). Kita tidak dapat menunggu waktu yang datang tanpa peringatan, kita harus mengisinya. Ibarat waktu Dihadiahkan-Nya untuk kita agar kita dapat memanfaatkannya sebagai kesempatan yang ada untuk membentuk diri kita menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu. Apalagi, jika konsekuensi menjalani waktu itu kita lalui sebagai ajang dakwah kita untuk menyebarkan Kalimat-Nya.

Kadang kala, kita beranggapan bahwa pengetahuan kita perihal Islam masih sangat minim. Namun, para alim mengingatkan bahwa sedikit hal bermanfaat yang kiranya dapat dibagikan kepada sesama berdampak baik dalam kehidupan. Mungkin saja, dampak atau perubahan yang terjadi memang tidak (segera) tampak sesuai yang diharapkan, tetapi perlu diingat bahwa setidaknya manfaat yang diberikan diniatkan dan ditujukan karena-Nya semata.

Sudahkah kita menjadi bermanfaat hari ini…? Semoga Allah Menganugerahi kita taufik (sukses)! Amin.

Page 14 of 34

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén