UN CBT 2015

Bismillah.

Ujian Nasional (UN) pada tahun ini diselenggarakan berbasis komputer (computer-based test: CBT). Para siswa cukup mengerjakan soal UN yang diberikan dengan mengarahkan anak panah tetikus memilih jawaban tersaji pada layar komputer.

UN CBT ini memang baru mengingat tes UN pada tahun-tahun sebelumnya masih menggunakan pensil 2B yang dihitamkan pada lembar jawab komputer (LJK). Sekarang, LJK-nya benar-benar di komputer—tidak lagi dilakukan pemindaian kertas lembar jawab.

Sistem ujian berbasis komputer seperti ini sudah diterapkan pemerintah dalam tes penerimaan CPNS beberapa bulan lalu—dengan CAT. Hasilnya pun cukup tepercaya dan memuaskan banyak pihak.

Dengan demikian, melalui UN CBT ini, diharapkan tingkat akurasi kejujuran dan hasil pekerjaan siswa dapat diukur dengan lebih objektif. Patut kita apresiasi atas hal yang telah diupayakan pemerintah melalui Kemendikbud ini.

Semoga tidak didapati lagi kabar negatif perihal kecurangan yang dibekengi instansi sekolah, lembaga bimbingan belajar, atau pihak-pihak tertentu. Semoga UN kali ini dan ke depan bukan merupakan momok bagi siswa dan orang tua mereka sehingga menghalalkan pelbagai cara, termasuk melakukan doa bersama yang tidak disyariatkan agama atau nekat melakukan kesyirikan—naudzubillah. Bismillah, semoga Dimudahkan-Nya—amin.

UN hanyalah fase yang masih ringan untuk dilalui. Asal belajar dengan baik, disertai ibadah dan doa kepada-Nya—sesuai tuntunan syar‘i, insya Allah, UN lancar dijalani.

Jangan khawatir atau takut jika Qadarullah (takdir-Nya) berkata lain, masih banyak alternatif bagi siswa. Semua yang terjadi adalah atas Izin-Nya (Kehendak-Nya) semata, jadi tidak perlu khawatir dan risau. Percayalah kepada-Nya, selalu ada jalan—insya Allah!

Semoga Diluluskan-Nya dengan elok, ya teman-teman siswa Muslim pada jenjang apa pun dan di mana pun kalian berada di Indonesia…! Amin, ya Rabb!

Calligra Suite 2.9 Beta

Calligra Suite 2.9 versi beta telah dirilis untuk dites beberapa hari lalu. Sebagaimana jamak diketahui bahwa peranti ini merupakan peranti lunak perkantoran dan olah seni grafis yang dikembangkan oleh komunitas KDE. Peranti lunak ini terdiri dari aplikasi pemroses kata (word processing), spreadsheet, presentasi, basis data (database), grafis vektor, dan pelukis digital. Peranti ini dapat dipasang pada komputer pribadi (PC destop), sabak digital (tablet), dan ponsel (smartphone). Informasi lengkapnya dapat merujuk laman resminya di Calligra.org.

Calligra Suite terkini, sebagaimana disebut di atas, masih dalam taraf beta. Dengan kata lain, bukan merupakan rilis final sehingga masih memungkinkan didapati banyak kutu (bug). Namun, tidak ada salahnya dicoba mengingat suite ini dapat dijadikan alternatif peranti lunak perkantoran berbasis sumber terbuka yang tidak dapat dipandang sebelah mata.

Kode sumber (source code) aplikasi Calligra tersedia untuk diunduh. Sementara itu, untuk binarinya, tersedia untuk serbaneka sistem operasi tidak hanya Linux, termasuk Mac dan Windows.

Berdasar pada keterangan laman resmi Calligra, tenggat waktu rilis versi 2.9 final pada bulan Februari ini. Hal ini sebagai pondasi yang selanjutnya akan melahirkan versi 3.0 pada tahun ini juga—insya Allah. Perihal keterangan permasalahan teknisnya, laman forum Calligra cukup membantu—bahkan, beberapa aplikasi membutuhkan maintainer baru, Anda tertarik untuk bergabung?

Salah satu peranti Calligra, yaitu Krita, cukup menarik perhatian saya. Ternyata, banyak juga para seniman (perupa, artis) di Luar, terutama di Eropa, yang memanfaatkan Krita dalam inspirasi karya-karya seni mereka. Hal ini menandakan bahwa kebergantungan pada peranti tertutup dan komersial bukan merupakan harga mati. Kita sungguh bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena Dia Menciptakan orang-orang yang membantu kebutuhan kita ‘dengan lebih baik’. Terima kasih, komunitas open source!

Peranti perkantoran Calligra tersedia asali untuk Slackware pada lingkungan destop KDE. Dengan kata lain, ia merupakan bawaan installer Slackware. Walaupun demikian, kita masih dapat memasang peranti perkantoran lainnya, seperti LibreOffice, dengan memanfaatkan dukungan lumbung peranti dari pihak ketiga.

Selamat ber-Calligra di Slackware!

Citra Profil L: Tiada Korelasi Ormas/Partai

He he he. Mohon dimaafkan bila tulisan kali ini saya mulai dengan tertawa, dan lagi-lagi ingin membilang he he he.

Sudah jamak diketahui, sudah acap saya coba upayakan untuk menggunakan citra untuk avatar atau foto profil konsisten saya sebagaimana dapat Anda lihat pada favicon blog ini atau grafis foto profil asali pada nyaris semua media sosial yang saya gunakan. Yap, sebuah citra berlambang huruf L (kapital) dengan rona sedikit keabuan dan sapuan cokelat ragu-ragu sebagai latarnya. Indah, bukan? Eh. Lanjutkan membaca Citra Profil L: Tiada Korelasi Ormas/Partai

Bertanya

Pernah, pada suatu ketika, saya melayangkan kesempatan untuk bertanya kepada teman-teman mahasiswa. Namun, ada hal yang mengganjal, seakan mereka sebenarnya ingin bertanya, tetapi kurang greget untuk mengutarakannya. Hal ini tampak dari perubahan respons mimik mereka. Tentu saya tidak dapat membaca isi hati mereka, hanya dapat melihat pergerakan wajah yang terjadi, menandakan suatu hal yang entah apa.

Kalaupun ada yang bertanya, yang mengajukan pertanyaan pun masih kurang variatif. Dengan kata lain, masih didominasi oleh yang itu-itu saja. Kalau mendapati sedikit mahasiswa yang bertanya atau bahkan tidak ada yang bertanya sama sekali, saya acap berasumsi pada beberapa kemungkinan, di antaranya: mereka memahami pokok pembicaraan atau mereka memang kebingungan (dan sungkan jujur untuk menyampaikannya—he he he).

Beberapa kali saya lecut mereka untuk ‘sedikit bersuara’, sekalipun itu sekadar bercoletah canda tidak begitu penting. Entahlah, saya lebih menyukai kelas yang ramai (penuh gairah). Untuk memuluskan hal ini, intonasi suara kerap saya tinggikan—kalau tidak boleh dikatakan berteriak-teriak. Jika ada suara lantang yang digemakan, cukup dapat menarik perhatian, bukan?

Aktivitas bertanya merupakan salah satu bagian aktivitas berdiskusi yang menuntut respons jawaban dari siapa pun yang menyimaknya. Kadang kala, banyak yang beranggapan sebagai berikut.

  • “Untuk apa bertanya jika hal itu malah membuat masalah?”
  • “Untuk apa bertanya terlalu banyak jika hal itu malah membuat malu (malu-maluin).”
  • “Untuk apa bertanya jika sudah tahu jawabannya?”
  • “Untuk apa bertanya jika kita dapat mencari jawabannya nanti?”
  • Lainnya?

Barangkali, di antara beberapa ujaran di atas, pernah terlintas dalam benak Anda. Apapun alasannya, rasanya, tidak ada salahnya bertanya. Dengan syarat, harus dapat mengendalikan diri.

Mengendalikan diri yang dimaksud adalah bagaimana kita dapat menempatkan diri ketika bertanya. Dengan kata lain, kita harus melihat konteksnya. Tidak mungkin, bukan, ketika berlangsung perkuliahan Apresiasi Prosa Fiksi misalnya, hal yang ditanyakan berkait dengan harga sembako di pasar? Kalaupun terpaksanya ada yang sedikit slenco seperti itu, bukan masalah bagi saya, sebagai selingan. Pendek kata, saya sudah cukup senang jika ada yang bersuara.

Kalau sekadar meperturutkan kesenangan saya, tentu hal ini sangat egois. Baik, kemungkinan saya yang akan berbanyak tanya kepada teman-teman mahasiswa dalam sesi diskusi di kelas atau di mana pun–insya Allah. He he he.

Bertanya merupakan salah satu aktivitas interaksi dalam pergaulan sosial antarsesama kita di mana pun tempat yang memungkinkan untuk berkomunikasi. Baik diprakarsai oleh penutur maupun ditanggapi oleh mitra tutur, kegiatan tanya-tanya selalu menghiasi. Mau tidak mau, atas Izin-Nya, akan senantiasa ada aktivitas tanya-jawab antarkita pada ruang apa pun dan media mana pun.

Minimal kepada diri sendiri, cobalah bertanya! Sudahkah Anda bertanya hari ini?

Surel

“Kita sambung wicara lewat udara, ya Bung! Saya tunggu e-mail Anda.”

Barangkali, Anda pernah mendapati percakapan di atas, atau bahkan Anda sendiri pernah mengalaminya. Hal yang tidak dapat dilepaskan dari aktivitas keseharian kita, para pengguna jejaring maya, dalam berkomunikasi menggunakan surat elektronik (surel). Dalam bahasa Inggris, surel diistilahkan sebagai e-mail atau email. Keduanya, baik e-mail maupun email, dapat digunakan dalam bahasa asing tersebut. Perbedaannya hanya pada kebiasaan penggunaannya. Ketika ada orang yang bertutur dalam ranah bahasa Inggris ragam Kerajaan Inggris Britania Raya (United Kingdom, UK), mereka biasa menggunakan kosakata e-mail (ada tanda/garis pemisah: []). Lain halnya ketika di Amerika Serikat, orang-orang di sana cukup familiar dengan email atau hanya mail.

Masihkah Anda mengingat ketika memiliki alamat surel untuk pertama kali? Rasanya, bagi Anda yang berkelahiran `80-an atau `90-an, hal ini akan mengingatkan pada pengalaman menggunakan surel dari beberapa layanan yang mahsyur kala itu, seperti Yahoo! Mail, Hotmail oleh Microsoft, Mail.com, GMX.de dari Jerman, Lycos yang cukup populer di Inggris, dan lain-lain.

Kita tidak lupa bagaimana Tekom.net Mail, Plasa.com (kekinian telah berganti nama menjadi Plasa MSN), Indo.net.id, dan lain-lain, cukup banyak digunakan rakyat Indonesia pada masa itu–atau mungkin hingga sekarang. Gmail bukanlah pionir, tetapi cukup sukses dan mendominasi pada beberapa tahun terakhir—untuk layanan ini, saya masih sangat mengingat awal mula memiliki akun surel dari Google ini, yakni atas jasa baik Pak Aloysius Heriyanto; terima kasih, Bapak.

Kita tidak akan membahas perihal hakikat surel pada tulisan ini, sudah ada begitu banyak pustaka perihal layanan ini di internet. Fokus pembicaraan kita pada kosakata surel dalam bahasa Indonesia.

Lembaga yang menangani dan bertanggung jawab atas eksistensi bahasa Indonesia, Badan Bahasa, telah merumuskan padanan kata surel, yakni pos-el (kependekan dari pos elektronik). Namun, menurut saya, kosakata ini masih kurang dikenal oleh para pengguna internet di Indonesia.

Surel masih populer dan jamak digunakan. Barangkali, hal ini digara-garai—dengan Izin-Nya—oleh para penggemar bahasa Indonesia di media sosial dan para wartawan koran/majalah digital. Entah sejak kapan awal mulanya digaungkan hingga relatif menyebar luas pada dewasa ini sehingga surel lebih dapat mengakrab dan menjadi lazim daripada pos-el. Sebuah fenomena atau gejala yang tidak dapat disangkal. Barangkali, bisa jadi, kelak kosakata ini akan diusulkan kuat sehingga dimasukkan ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi mendatang. Mengapa tidak…?