Menunggu Waktu

Salah satu hal yang tidak ringan dalam kehidupan ini adalah bertanggung jawab atas segala hal yang dilakukan, seperti: berbicara/mengobrol, melihat, menyimak/mendengar, merasakan, dan lain-lain). Pendek kata, apa pun yang manusia lakukan di dunia ini akan Dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sudahkan kita siap dengan hal ini? Semestinyalah ada sesuatu yang perlu kita kontribusikan baik untuk kehidupan ini, terutama jika kontribusi itu diniatkan ibadah kita sebagai hamba-Nya Azza wa Jall.

Life musts go on. Seringkali kita melewati waktu yang Diberikan-Nya tanpa kita sadari apakah waktu yang terlewati itu telah kita isi dengan kebermanfaat yang berlimpah atau sekadar terlewati begitu saja. Sebagai Muslim, tentu hendaknya kita tidak abai untuk senantiasa mengikuti Panduan-Nya yang didasarkan pada Quran dan Sunnah (dengan pemahaman Salaful Ummah). Kita tidak dapat menunggu waktu yang datang tanpa peringatan, kita harus mengisinya. Ibarat waktu Dihadiahkan-Nya untuk kita agar kita dapat memanfaatkannya sebagai kesempatan yang ada untuk membentuk diri kita menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu. Apalagi, jika konsekuensi menjalani waktu itu kita lalui sebagai ajang dakwah kita untuk menyebarkan Kalimat-Nya.

Kadang kala, kita beranggapan bahwa pengetahuan kita perihal Islam masih sangat minim. Namun, para alim mengingatkan bahwa sedikit hal bermanfaat yang kiranya dapat dibagikan kepada sesama berdampak baik dalam kehidupan. Mungkin saja, dampak atau perubahan yang terjadi memang tidak (segera) tampak sesuai yang diharapkan, tetapi perlu diingat bahwa setidaknya manfaat yang diberikan diniatkan dan ditujukan karena-Nya semata.

Sudahkah kita menjadi bermanfaat hari ini…? Semoga Allah Menganugerahi kita taufik (sukses)! Amin.

Kerikil Masa

Hari-hari begitu lekas bergegas mendekat menghampiri ujungnya. Namun, kita masih terlalu santai mendapati mati, yang seakan memang hanya sebuah kata berakhirnya semua hal. Sesuatu yang tak dihiraukan. Atau, lupa cara menghiraukannya?

Kita manusia, masih seperti manusia biasanya. Jika memang ada yang luar biasa, itu hanya dibangun di atas prasangka manusia hidup. Sedangkan, manusia yang mati, bagaimana ia memprasangkakan manusia yang luar biasa itu?

Manusia, manusia. Apa yang kalian hasrati dari dunia? Semestinya dunia menjadi ketapel amal di Mata-Nya. Berkali Dia Mengingatkan dalam pelbagai banyak serbaneka ragam Karunia-Nikmat-Nya. Namun, kita sering abai, tak acuh, bahkan mematikan hati sendiri (sehingga tak merasa bersalah kepada-Nya sedikit pun).

Kita terlalu disibukkan dengan keindahan menikmati dan menjalani keduniawian, meletakkan keakhiratan berbatas pada niat semata, “Yang penting, niatnya baik.” Apakah, jika para pendahulu mengetahui keadaan kita sekarang, bakal bergumam, “Sungguh menyedihkan!”..!?

Sya’ban sudah terinjakkan beberapa hari. Ramadan yang terasa begitu dekat sepantasnyalah menjadi alarm mematikan sehingga membuat kita gelisah dan meratap kepada-Nya memohon untuk Diizinkan-Nya bersemuka dengan Bulan Penuh Kegembiraan. Atau, ianya masih dirasa hambar, tidak begitu istimewa karena memang, “Mau bagaimana lagi? Jika sudah waktunya puasa, ya puasa,”..!?

Berkhalwat dengan Jumat

Bismillah.

Hari Jumat adalah hari berbarakah setiap pekannya bagi seluruh kaum Muslimin. Ia adalah hari Raya pekanan kita sebagai hari yang membahagiakan. Sejatinya, semua hari adalah sama baiknya, tetapi Jumat ditekankan keberkahan dari-Nya.

Banyak fadhilah (keutamaan) yang dianjurkan untuk dilakukan di hari Jumat. Akan tetapi, pada kesempatan kali ini, lantaran keterbatasan ilmu saya juga, akan disampaikan beberapa sedikit di antaranya. Mohon dikoreksi dan/ atau diberi masukan atau tambahan beberapa hal lain-lainnya.

Mandi Jumat
Sebelum berangkat ke masjid terdekat atau terdapati untuk melaksanakah ibadah shalat Jumat, alangkah eloknya, sebagai Muslim yang baik, kita mempersiapkan diri dengan baik pula. Salah satunya dengan mandi sebagaimana layaknya mandi besar.

Manfaatnya tentu besar sekali. Selain badan pun menjadi segar dan harum mewangi lantaran kesungguhan mandi yang kita lakukan, insya Allah, ketika menyimak khatib menyampaikan khutbah, kita tidak akan mudah tertidur, kecuali memang kondisi badan kurang memungkinkan disebabkan pelbagai banyak faktor.

Tidak lupa, selain mandi, membersihkan anggota badan lainnya yang perlu dibersihkan. Salah satunya adalah memperhatikan kuku-kuku jari-jemari tangan dan kaki yang beranjak memanjang. Potonglah mereka agar lebih total badan kita bersiap untuk beribadah Jumat.

Menikmati Perjalanan Menuju Tempat Peribadatan Jumat
Berjalanlah dengan anggun menuju masjid tempat diselenggarakannya ibadah shalat Jumat. Nikmati perjalanannya sedemikian rupa. Tidak lupa zikir dan wirid yang menyertainya.

Untuk menenangkan hati, ada tips untuk hal ini, yakni: kira-kira jam telah menunjukkan pukul 10.00, bersegeralah memalingkan aktivitas yang sedang dijalani agar lebih fokus pada mendekati masjid yang akan dituju untuk shalat Jumat. Persiapan itu memakan waktu kira-kira 1 (satu) jam lebih sebelum shalat Jumat dihelat, waktu yang sangat cukup untuk menikmati perjalanan menuju masjid terdekat.

Faidahnya, ketika kita tidak terburu melangkahkan kaki ke masjid, kita tidak berkeringat setelah tadi mandi Jumat sehingga aroma wangi sehabis mandi masih melekat di badan kita. Hal itu tentu bakal tidak mengganggu aktivitas ibadah kita dan orang-orang terdekat kita.

Menempati Shaf Pertama
Tidak hanya sebagaimana disebutkan di atas, karena kita telah mempersiapkan diri untuk bersegera ke masjid, kita bisa lebih tenang menempati shaf-shaf (barisan) paling depan (sangat disukai dan dianjurkan untuk menempatkan diri pada shaf pertama). Salah satu di antaranya faidahnya adalah kita lebih jelas mendengarkan khutbah.

Duduk dengan Penuh Kedamaian Menanti Waktu Shalat Jumat
Setibanya di masjid, bersegera menunaikan ibadah-ibadah Sunnah. Dari Shalat Tahiyatul Masjid, tambahi shalat-shalat Sunnah selanjutnya (bukan shalat Rawatib karena tidak ada Rawatib Qabliyah—rawatib sebelum shalat wajib—untuk shalat Jumat) semampunya, zikir-zikir, dan/ atau membaca Quran Surah Al-Kahfi—sekadar membacanya dapat mendatangkan keridhaan-Nya, apalagi sungguh-sungguh me-tadaburi-nya, tentu Dia semakin Cinta kepada kita.

Berdiam Diri saat Khatib Berkhutbah
Ketika khatib berkhutbah, tidak elok rasanya kita melakukan perbuatan sia-sia dengan berbicara, memain-mainkan tangan di atas alas karpet masjid, lihat-lihat ke sana-sini mencari pemandangan (bisa jadi lantaran rasa bosan menyimak), dan perbuatan membahayakan lainnya. Berdiam diri bukan berarti melamun atau tidur (apalagi hingga mendengkur). Berdiam diri dalam arti menyimak dalam diam kita atas segala apa yang disampaikan khatib.

Shalat Sunnah Rawatib setelah Shalat Jumat
Shalat sunnah rawatib hanya ada dilaksanakan ba’da (setelah) shalat Jumat (Shalat Sunnah Rawatib Ba’diyah Jumat). Jumlah rakaatnya, yaitu: 2 (dua) rakaat jika dikerjakan di rumah (lebih utama jika memang memungkinkan—jika berdekatan dengan tempat tinggal/ mukim) dan 4 (empat) rakaat jika dikerjakan di masjid.

Para pendahulu kita, jika mencontohkannya dikerjakan di masjid setelah shalat Jumat, shalat sunnah rawatib setelah Jumat dikerjakan setelah melakukan perbuatan ringan. Hal ini dimaksudkan biar terdapat pembeda antara shalat wajib Jumat dan shalat sunnah setelahnya. Perbuatan ringan itu bisa berupa pelbagai rupa macam, dari mengobrol dengan orang di samping setelah berzikir, keluar ke bagian luar masjid sebentar lalu masuk lagi, hingga semisal lainnya, manasuka alias bebas-bebas saja. Yah, hal ini tidaklah mutlak harus begitu, tetapi sumonggo saja jika mau menerapkannya.

Baru kemudian, melaksanakan shalat sunnahnya dengan 2 (dua) rakaat di satu tempat, lalu dilanjutkan 2 (dua) rakaat lagi di tempat berbeda di dalam masjid; tentu jangan lupa mencari sutrah dan tidak memberatkan diri alias semampunya.

Setelah itu, bertebaran lagi, deh, melanjutkan aktivitas yang semestinya dilakukan.

Berdoa setelah ‘Ashar di Hari Jumat
Salah satu bagian waktu yang diijabahi-Nya agar kita berdoa adalah pada waktu setelah ‘Ashar di hari Jumat. Bismillah, dengan niat mencari ridha-Nya, sila pinta yang baik-baik, baik untuk kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat kita, kepada-Nya, langsung, total, tanpa tedeng aling-aling.

Wallahu Ta’ala A’lam bish-shawab.

Mmm… apa lagi, ya..!? Ada koreksi atau tambahan dari pembaca..!?

Selamat ber-khalwat dengan hari-hari Jumat…!