Tidak hanya Pak Budi Rahardjo yang mengalami: materi presentasi diminta oleh audiensi, saya pun, atau barangkali Anda, acap mengalami hal serupa. Entah mengapa, seselesai presentasi atau memberi materi, ada-ada saja di antara audiensi atau peserta yang ingin menyalin slides (salindia?) yang baru saja ditampilkan.

Setelah presentasi dan tanya-jawab, jamak audiensi menghaturkan cakram lepas (flashdisk, flashdrive, pendrive) untuk diisikan berkas salindia yang jamak beformat PPT meskipun sudah saya tandaskan bahwa barangkali berkasnya akan tersedia pula pada akun media sosial dalam ranah berbagi salindia, semacam Scribd, SlideShare, Speaker Deck, atau lainnya.

Berkas salindia jamak disengaja disimpan dalam berkas PPT lantaran format ini masih umum digunakan, sekalipun bersifat tertutup dan sepenuhnya dipayungi perusahaan penerbit aplikasi Office PowerPoint, yakni Microsoft. Di samping itu, format PPT masih didukung dengan baik oleh beragam program penampil salindia (terutama pada gawai bergerak/mobile) atau perangkat lunak perkantoran yang bersifat terbuka, selaik LibreOffice.

Lain hal bila menggunakan berkas berekstensi PPTX, beberapa program pembuka atau penyunting salindia, kurang mendukung dengan baik atau kurang kompatibel. Acap beberapa hal belum didukung, seperti tata letak, jenis dan ukuran fonta, hingga gaya animasi yang disematkan.

Entah untuk apa tujuan dari meminta file “PowerPoint”. Barangkali, agar dapat dibaca atau diulas lagi di lain waktu atau lain kesempatan. Bisa jadi terdapat beberapa hal yang belum sempat disaksamai dengan baik dan terlewat begitu saja–serta tidak sempat mengonfirmasi kepada pembicara secara langsung. Dapat pula memang terdapat hal menarik dari konten materi yang disajikan. Setiap individu memiliki kebiasaan yang berbeda-beda, bukan?

Ada pula sebagian kalangan, terutama para mahasiswa, kekinian yang tidak meminta salindia. Mereka cukup mengandalkan kamera ponsel mereka untuk mendokumentasikan beberapa slide yang tertampil. Dengan kata lain, mereka memfotonya. Selaik kebiasaan orang kekinian yang sedikit-sedikit difoto, sedikit-sedikit dibagikan pada media sosial yang fokus pada foto dan video semacam Instagram. Hanya saja, pertanyaan saya: apakah hal itu efektif?

Apabila materi disajikan pada perhelatan seminar atau lokakarya, barangkali tidak mengapa karena memang waktunya yang tidak terlalu panjang dan dalam tempo sekali duduk. Lain hal bila materinya berasal dari bahan ajar yang disampaikan di kelas, sangsi jamak akan menulis ulang atau mempelajarinya di rumah. Bagaimana tidak terdistraksi ketika perkuliahan/pelajaran dilangsungkan, tetapi sebagian malah sibuk memfungsikan ponsel. Apakah dapat dipastikan bahwa mahasiswa bersangkutan tidak akan memanfaatkan aplikasi selain kamera di dalam Android atau iOS-nya? Ahem.

Ada kalanya, ranah visual kita tidak mendukung dengan baik lantaran pelbagai faktor ketika pembicara menyajikan presentasinya sehingga kekurangcermatan dalam membaca salindia kerap terjadi. Hal ini pun belum melihat konteks salindia yang disajikan selaik apa: apakah terlalu banyak tulisan, adakah gambar atau pernak-pernik atribut pada salindia yang malah membuat distraksi, bagaimana kondisi fisik teknologi (kompatibilitas proyektor, laptop, dan lainnya), atau sekadar pembicara kurang dapat membawakan materi dengan baik. Banyak hal bisa terjadi.

Untuk itulah, acap salindia materi pembicara dikopi oleh peserta. “Barangkali, kelak berguna,” demikian kata salah seorang mahasiswa yang pernah saya konfirmasi untuk apa slides diminta. Sekali lagi, bukan masalah pelik bila bahan materi diminta lantaran memang merupakan sebuah keharusan sebagai pembicara atau pengisi materi berbagi ilmu yang kiranya berfaedah bagi yang lain, termasuk membagikan file presentasinya.

Mari berbagi slides! Mari berbagi banyak hal kepada yang lain!