Berangkat Pagi

“Berangkat awal lebih baik,” begitu nasihat ibu sejak kecil. Bukan tanpa alasan beliau acap mengingatkan dan memberlakukan putri-putra beliau demikian. Nyaris pada setiap kesempatan mendatangi undangan atau suatu acara, beliau membersamai kami pada awal waktu. Tidak mengherankan bila beliau agak kurang berkenan bila terlambat barang beberapa menit saja.

Dampak positif dari berdisiplin tersebut adalah kami (kakak dan saya) mulai terbiasa dengan aktivitas berangkat lebih dini. Entah ada teman atau tidak, berangkat lebih gasik (bahasa Jawa–ragam Ngoko normal: awal, dini) lebih membuat hati dan pikiran tenang.

Kita dapat lebih tenang sebab tidak terburu-buru sehingga perjalanan menuju ke tempat tujuan perhelatan pun dapat dinikmati dengan pelan-pelan dan amat santai. Terlebih bila rentang waktu yang masih ada dapat dimanfaatkan untuk melakukan beberapa repih hal lainnya.

Kala tiba di tempat acara pun, belum terlalu banyak orang datang. Keadaan sunyi tersebut dapat kita manfaatkan untuk bersantai sejenak melepas sedikit penat perjalanan sebelumnya. Kita juga tidak disibukkan dengan menyalami dan menyapa satu demi satu orang, malah kita yang seakan sebagai ‘penerima tamu’. Tentu saja, dapat memilih tempat duduk sesuai yang diinginkan merupakan salah satu faedah tambahannya.

Begitu pula dengan berangkat pagi. Apa susahnya berangkat pagi atau lebih pagi? Tentu tidak mudah. Hanya perlu waktu untuk membiasakannya. Bukankah sejak kecil kita acap berangkat ke sekolah pagi-pagi, bahkan pagi-pagi buta sebelum fajar menyingsing?

Paling tidak, bukankah kita acap mudah terbangun lebih dini sehingga tinggal melanjutkan beberapa jam kemudian sambil menunggu waktu subuh datang menghampiri? Rasanya luar biasa bila pascasubuh pun masih dapat mengabaikan kasur yang melambai-lambai, apalagi digunakan untuk sekadar membaca buku, dan hal ini akan melahirkan pertanyaan: sudahkah Anda membaca buku pagi ini?

Ibarat burung-burung yang terbang mencari makanan kala mentari pagi menyapa, lalu ia pun pulang dalam keadaan kenyang atau membawa makanan bagi anak-anaknya. Begitu pula dengan kita. Terkecuali sebagian saudara-saudari kita yang memang aktivitas bekerjanya bukan dari pagi hingga senja atau petang, melainkan sebaliknya, tetapi esensinya serupa.

Mari berangkat pagi!

​Menepis Kabar Bohong

Internet begitu lekat dengan aktivitas berkeseharian kita. Informasi apa pun mudah masuk ke dalam rumah kita hanya melalui peranti ponsel/gawai. Tidak hanya berbatas pada ponsel/gawai kita, tetapi juga anak-anak dan keluarga. Salah satu yang masih marak di tengah-tengah keluarga kita hingga sekarang adalah kegelisahan atas berita hoax.

Siapa yang tidak mengetahui istilah hoax dewasa ini? Dari anak-anak hingga orang dewasa pun mengenal istilah yang amat populer di internet pada beberapa tahun terakhir. Kepopuleran istilah, rasanya, bukan makin mengkritiskan bila kita merujuk temuan-temuan fakta di lapangan.

Saya masih agak risih dengan istilah hoax alih-alih kabar bohong, dusta, atau tidak sebenarnya. Lantaran ingin melafalkannya hanya dari tarikan satu suku-kata, saya memilih padanan pelafalannya yang lebih ringkas, yaitu hoks, he he he. Kalau dalam percakapan lisan, saya lafal hoks sekalipun, mitra wicara mungkin tidak akan protes, lain hal bila dituliskan. Sekalipun belum dibakukan oleh Badang Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, rasanya pelafalan kata ini lebih ringkas. Teringat ujaran meme atau netizen yang diserap sedemikian rupa dan sudah distandarkan dalam KBBI daring.

Hoax yang terus menggejala justru malah menjadi santapan lezat sehari-hari. Barangkali, jamak orang tahu hal itu adalah hoax, tetapi masih saja ‘terlena’. Entah itu dengan menyebarkan ulang atau sekadar menanggapi, baik secara langsung pada media yang menyebarkan kabar fitan tersebut maupun sekadar menjadi obrolan lisan ringan kala bersemuka dengan teman atau tetangga. Intinya, kita tahu itu hoax, tetapi masih saja ‘dilihat’.

Ibarat kala mendapati hal-hal yang kurang pantas dan tidak sengaja terlihat saat bertamasya misalnya, tetapi yang namanya manusia, rasa penasarannya amat begitu tinggi, hal-hal itu pun tidak terlewat begitu saja, tersapu bersih oleh pandangan mata. Sejatinya tahu bahwa apa yang dilihat adalah sesuatu yang kurang baik, tetapi apa daya, rasa ingin tahu kita amat hebat. Lumrah adanya lantaran sifat kita yang ingin terus belajar, bukan? He he he.

Tidak mudah menepis hoax memang, tetapi sejumlah kalangan telah menginisiasi beberapa hal untuk menanggulangi penyebaran hoax yang tiada henti dari hari ke hari. Ada sekelompok orang yang secara independen dan bergotong-royong melakukan klarifikasi kabar hoax temuan masyarakat, mereka pun memanfaatkan media sosial seperti grup di Facebook sebagai wadahnya.

Grup-grup anti-hoax pun bermunculan dari hari ke hari. Mereka menampung pelbagai rupa hoax yang didapati para anggota. Tidak sedikit hoax temuan merupakan kabar remeh hanya untuk berlucu-lucuan. Namun, tidak kalah banyak pula kabar bohong yang beredar menyinggung nama baik beberapa pihak, baik perseorangan maupun hingga lembaga atau korporasi ternama.

Saringan yang diterapkan grup-grup barangkali masih bervariatif antargrup dan bisa jadi belum standar. Paling tidak, apabila dilakukan secara bergoyong royong, banyak ‘kepala’ yang memberi masukan, banyak pihak saling mengklarifikasi dan memverifikasi, sehingga putusan sebuah kabar adalah benar-benar hoax atau bukan adalah bukan dari individu atau kelompok, terlebih dengan kepentingan tertentu.

Elok, ketika mendapati suatu konten, biasanya tulisan, yang dibagikan (shared), kita pastikan keabsahannya (kevalidannya). Kita tidak perlu melakukan uji validitas seperti dalam sebuah penelitian, cukup dengan melihat beberapa hal sebagai indikator sederhana untuk memastikan bahwa substansi konten tersebut adalah valid atau tidak. Biasanya, penggunaan bahasanya agak kurang nalar (logis).

Penalaran yang terdapat pada konten dapat ditelusur dari beberapa hal, seperti kohesi dan koherensi antarwacana yang seolah tampak indah, tetapi esensi sejatinya adalah kurang pas. Ada kalanya isi konten yang tampak lain daripada yang lain, yang seolah memantik kontroversi di tengah kepanikan beberapa kasus yang baru saja terjadi. Selain itu, yang jamak menjadi ciri, ada anjuran yang berlebih untuk menyebarkan konten sehingga jamak dibumbui dengan iming-iming balasan pahala dan pernak-pernik yang menghiasinya. Pada muara akhirnya, sumber konten tidak dikenal atau tidak dapat dilacak.

Apa pun konten yang melayang masuk ke dalam kotak pesan kita, elok kita tidak terburu-buru menyebarkannya. Kalau perlu, kita klarifikasikan kepada orang yang menyampaikannya kepada kita: dari siapa/mana konten itu diperoleh, dalam rangka apa, dan apa maksud konten tersebut dibagikan kepada kita. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak tabu untuk disampaikan, sekadar sikap antisipatif bila memang ada indikasi ketidakvalidan dari konten tersebut.

Lalu, bagaimana sikap kita terhadap teman atau saudara yang, entah disengaja atau tidak, menyebarkan hoax di dalam sebuah grup? Banyak cara dapat dilakukan, salah satunya adalah melalui jalur pribadi (dengan menjapri) teman atau keluarga tersebut dan menyampaikan beberapa hal (tidak to the point) secara (dengan diksi yang) santun.

Elok memang tidak di dalam grup tersebut, apalagi disampaikan saat itu juga. Lebih indah melalui pesan personal sebab hal ini lebih menyamankan dan lebih menjaga privasi teman atau keluarga tersebut. Semoga Allah Menghindarkan teman dan keluarga kita dari serbaneka konten hoax.

Alhamdulillah, pemerintah, melalui Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), telah berupaya sedemikian rupa untuk menanggulangi penyebaran hoax. Sejatinya, fokus pekerjaan BSSN tidak hanya seputar pemberantasan hoax, juga banyak lainnya, tetapi memang sangat dirasa fenomena hoax yang bertebaran di mana-mana ini amat memprihatinkan.

Perlu kiranya kita turut membantu BSSN untuk membasmi segala macam hoax yang tersebar di tengah-tengah masyarakat, terutama melalui medium internet. Adakah solusi Anda untuk menepis hoax kekinian?

Simplenote: simply note taking app

Lovely to use several note taking apps in my Gawais, but mostly I use Keep (by Google). Keep is really simply & lightly note app, it could cover my daily writing updates. Just enter the app, then write whatever you want, and it’d automatically save your work immediately.

Continue reading “Simplenote: simply note taking app”