Hari ini, sempat mendapati artikel yang sangat bagus sekali dari salah satu situs web warta digital dalam kanal teknologinya yang mengangkat respons pada beberapa hasil survai yang dilakukan oleh pelbagai pihak ihwal pemanfaatan internet di Indonesia. Dalam hasil beberapa survai tersebut, disebutkan bahwa, pada kurun waktu terakhir, Indonesia merupakan negara sebagai pengguna Facebook dan Twitter yang masuk dalam jajaran 5 (lima) besar di dunia. Membanggakan atau justru memprihatinkan?

Sebagai negara yang besar, dengan jumlah penduduk yang tidak kalah bejibun banyaknya, Indonesia merupakan negara yang luar biasa berpotensi dan sangat diperhitungkan dalam kancah percaturan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dunia. Tidak dimungkiri lagi bahwa negeri ini merupakan pangsa pasar terbaik untuk target pasar penjualan pelbagai produk TIK. Yang menjadi pekerjaan rumah terbesar republik ini adalah hingga kapan kita akan terus menjadi bangsa pengguna saja (sebagai bangsa market target, tanpa dapat berswadaya sendiri menghasilkan produk-produk sendiri, serta digunakan dan diberdayakan sendiri)?

Alhamdulillah, produk-produk TIK dunia sudah turut menjadi bagian yang sangat membantu (tentu tidak lupa dikarenakan setelah berkat bantuan dan rahmat Allah Ta’ala) kemajuan Indonesia. Sayangnya, kemajuan tersebut baru sekadar dapat menjadi objek penikmatan semata. Predikat sebagai pengguna besar Twitter, Facebook, atau jejaring karya asing lainnya, seharusnya menjadi bumerang inspirasi semangat bagi kita agar dapat berinisiatif bagaimana mengimbangi perang yang telah terjadi.

Alhamdulillah, pengimbangan antara menggunakan dan menghasilkan produk sendiri telah lama dirintis dan diupayakan sedemikian rupa. Pelbagai produk (konten) dalam negeri telah dihasilkan oleh para pengembang peranti lunak sendiri dengan kualitas yang tidak kalah dari konten asing. Sayangnya lagi, konten-konten dalam negeri yang bermunculan tidak dibersamai dengan pengguna yang berasal dari kampung yang sama. Para pengguna produk TIK internet di Indonesia masih gemar memanfaatkan konten-konten asing daripada konten-konten yang dikembangkan putra bangsa sendiri. Apakah dikarenakan jumlah konten dalam negeri yang masih sedikit (jika dibandingkan jumlah pengguna dan penduduk negeri secara keseluruhan)? Apakah konten-konten yang bermunculan tersebut lahir tanpa dibersamai dengan sosialisasi yang semarak agar dapat diketahui sejumlah rakyat Indonesia? Atau, apakah memang kurang adanya kesadaran dan menyenangi konten (atau produk TIK yang lain) karya bangsa sendiri?

Solusi
Yah, namanya juga negeri komentator sehingga, barangkali, hanya dapat berkomentar saja, seperti saya. Akan tetapi, dari hal yang telah disebutkan di atas, ada beberapa usulan solutif agar bagaimana negeri ini menjadi bangsa yang tidak hanya membanggakan sebagai bangsa pengguna produk TIK dunia terbesar semata.

Produksi Konten Lokal Berlebih
Perlu diberdayakan lebih deras lagi konten-konten kreatif TIK di Indonesia. Bukankah telah dibuka jurusan Teknik Informatika (TI) di seluruh penjuru pendidikan tinggi (bahkan menjadi bagian jurusan pula di sekolah menengah kejuruan [SMK]) di Tanah Air yang sangat berlimpah ruah..!? Inilah yang tidak kalah diberdayakan, yakni kolaborasi para pendidik dan peserta didiknya, agar dapat bersemangat dalam pengembangan sebanyak mungkin konten-konten kreasi sendiri yang dibersamai dengan memasyarakatkannya ke seluruh pelosok negeri maya.

Pengembangan Konten secara Mandiri
Penggalakan produksi konten-konten lokal yang dikelola secara mandiri dan independen juga merupakan alternatif solusi yang dapat menyemarakkan konten-konten lokal. Dibutuhkan peran serta para pengusaha lokal dan/ atau pemerhati TIK di seluruh penjuru Nusantara dalam mewujudkannya. Bisa saja, Anda, sebagai pembaca, memiliki ide/ gagasan suatu hal yang dapat didigitalisasikan. Pendigitalisasian tersebut tidak selalu berkutan dengan kemahiran Anda dalam pemahaman salah satu bahasa pemrograman komputer. Bisa saja Anda membuat sendiri dengan peralatan sekadarnya (yang tersedia secara bebas dan banyak yang bersifat sumber terbuka [open source] di internet) atau dengan memanfaatkan (baca: menyewa) kecakapan para programmer.

Nasionalisasi Perkontenan
Kesadaran masyarakat pengguna internet Indonesia yang seharusnya lebih gemar dan cenderung sering menggunakan konten-konten lokal daripada konten-konten asing. Tidak dimungkiri bahwa konten-konten asing tampak lebih menarik daripada konten-konten lokal. Berarti ada tugas baru bagi pengembang konten-konten lokal, yakni merangkai konten yang kiranya dapat lebih diminati dan menarik bagi pengguna Tanah Air.

Menyaring (filtering) dominasi konten-konten asing, rasanya, dapat memicu beralihnya pemanfaatan konten-konten lokal. Tidak melulu penyelenggara jasa telekomunikasi yang diharuskan, terutama sekali adalah dari sisi pengguna yang secara aktif mandiri mengurangi konsumsi konten-konten asing.

Partisipasi Aktif Pemerintah
Tidak kalah penting, meskipun pula agak tidak mudah, tetapi dapat diupayakan, yaitu mengajak atau mencari dukungan penuh pemerintah dalam menghadapi serangan-serangan konten-konten asing. Tidak melulu harus kementerian informatika yang menjadi penanggung jawabnya. Bisa saja aksi kolaboratif dengan kementerian riset dan teknologi, kementerian pendidikan dan kebudayaan, serta kementerian-kementerian yang lainnya.

Tidak hanya berbatas sebagaimana disebutkan di atas, pemerintah daerah di tingkat kelurahan dapat turut dahsyat bepartisipasi aktif. Bagaimana konten-konten kreatif lokal kita mengangkat topik wawasan multikultural adalah sangat elok untuk saling digayutkan.

Barangkali, ada masukan atau tambahan usulan solutif lainnya..!?

Demikianlah. Semoga kita tidak hanya berbangga dengan bangsa besar sebagai pengguna, tetapi juga diimbangi dengan bangsa besar sebagai penghasil produk-produk/ konten-konten kebanggaan dunia. Amin.