Latif Anshori Kurniawan

Kita (Masih) ‘Hanya’ sebagai Pengguna?

Diterbitkan pada dalam Blog. Tags: .

Kita hanya user. Begitu banyak produk teknologi, terutama perangkat (bukan peranti) lunak (software), baik sistem operasi (operating system) atau program/aplikasi (apps), yang ‘bukan kita yang buat’. Kita bukan pengembangnya (developer-nya). Kita sekadar baru bisa menggunakannya, mengoperasikan fitur-fitur yang ada.

Alhamdulillah, ranah-ranah pengembangan di dalam negeri sangatlah gencar, terutama oleh pelbagai perusahaan rintisan (startup company) berbasis teknologi lokal merilis produk-produk unggulan mereka. Banyak pihak mengambil bagian untuk makin mendorong kreativitas pengembang (developersprogrammers) Tanah Air melalui pelbagai kelas/kursus edukatif (nonperguruan tinggi), bahkan terselenggara pula sekolah khusus pemrograman selaik program 42 ala Prancis (yang telah ada representasinya di Jakarta).

Kita perlu mengapresiasi upaya para perintis pengembangan perangkat lunak Indonesia, di mana pun mereka berada. Kita dukung dan doakan atas apa yang mereka upayakan tersebut.

Ada kala kita, sebagai pengguna, dihadapkan dengan software, yang sejatinya amat mudah dioperasikan. Namun, barangkali sebab belum tahu saja manfaat fitur-fitur yang ada sehingga kita mudah menyerah. Padahal, fitur-fitur yang disediakan dapat diakses dengan klik dan sentuh sana-sini saja. Kita baru sekadar user, kita pun tidak jarang mengeluh mengapa kurang cakap mengoperasikannya.

Bahkan, tidak jarang kita berkhayalmemberikan ide-ide spontan agar dikreasi fitur-fitur yang lebih dan lebih memudahkan lagi. La wong fitur sederhana yang ada masih belum begitu berarti, apakah cukup genting untuk menambahkan ide fitur suka-suka itu? Lebih mengerikan lagi bila tiap user, dengan pelbagai latar dan sudut pandang mereka, mengusulkan fitur-fitur baru yang kiranya menunjang kebutuhan mereka. Luar biasa!

Kita masih user dan hingga entah kapan masih menjadi user. Saya yakin, beribu yakin, tidak sedikit putra-putri bangsa ingin membuat apps yang berfaedah, yang menyokong beberapa aktivitas berkehidupan di masyarakat, syukur hingga dapat di-startup-kan. Namun, siapa sangka tidak sedikit pula yang menikmati sebagai sebatas pengguna saja.

Entah apa yang terjadi bila menjadi user saja lebih menyamankan kita terus-menerus dari waktu ke waktu. Entah bagaimana muara nanti bila hal ini berlangsung lebih lama lagi, makin lebih banyak lagi produk teknologi dari luar dan kitalah sebagai useruser (atau bisa tester) mereka. Kita merasa keren sebab dapat menggunakan layanan dari perusahaan teknologi ini dan itu, layanan mereka pun menunjang produktivitas harian kita. Berbetikkah barang sedikit bahwa kita sedikit-sedikit telah tercandukan?

Peran sebagai pengguna tidak kalah makna peran sebagai operator. Apa bedanya, sekadar mengoperasikan. Sesuatu hal yang … entah. Menjadi user seakan menjadi candu, candu untuk menikmati pelbagai produk teknologi yang ada.

Ada orang membilang: lebih mending bila produk tersebut dari Tanah Air. Namun, adakah Anda pernah membayangkan berapa banyak apps lokal kita bila dikomparasikan dengan apps asing di toko aplikasi populer? Berapa banyak games buatan luar negeri daripada kreasi anak bangsa? Hal ini masih berbatas dikadar dari sisi kuantitas, belum kualitas, lo.

Saya teringat kisah yang menghiasi masa kecil. Ketika itu, saya kagum dengan anak-anak Negeri Sakura. Dikabarkan bahwa anak-anak sekolah dasar di sana dapat merakit jam tangan sendiri.

Ada juga rumor bahwa, tidak hanya merakit, mereka pun dapat membuat komputer mini yang dapat menjalankan sistem ber-kernel Linux dari perangkat keras elektronik seadanya di rumah mereka. Kabar dan rumor yang cukup membuat terkagum, sekaligus malu, bagi saya ketika itu.

Sedikit nilai substantif dari pos ini adalah hasrat berkreasi yang perlu diunggulkan, bukan pasif menerima keadaan. Teringat kalam salah seorang profesor terdahulu, beliau sempat membilang: mengapa antarmuka program komputer (yang ada kala itu, masa awal kejayaan Microsoft dengan Windows 95/98/XP mereka) hanya begitu-begitu saja.

Sang profesor juga sempat berkesah waktu itu: kalau saja tampilan antarmuka aplikasi yang ada dapat disentuh pada layar komputer sekaligus. Selaik yang diketahui, wujud komputer ketika itu masih dengan monitor CRT (layar cembung) bertabung. Beliau pun menutup dengan pelbagai kalam motivasi agar kami tidak kalah berkreasi, syukur dapat turut berkontribusi memikirkan inovasi kebaruan teknologi berikutnya asli buatan anak negeri. Pemikiran luar biasa dari profesor humaniora, bukan pakar telematika atau teknologi informasi.

Semestinya, kita tidak berhenti sebagai pengguna. Ada inisiasi-inisiasi atau ideasi upaya agar kita dapat membuat sesuatu yang khas (minimal untuk) diri kita sendiri. Ada hal yang dapat ditempuh adalah mengarahkan rasa penasaran untuk sekadar mengoperasikan menjadi mengembangkan (development). Sudah sangat umum diketahui bahwa berkontribusi di komunitas pengembangan perangkat lunak sumber-terbuka adalah salah satu kuncinya. Sekecil apa pun kontribusi itu. Betapa banyak para insinyur perusahaan teknologi besar, semacam Google dan Facebook, juga turut berkontribusi di dunia open-source.

Perusahaan startup teknologi populer pun juga memiliki talenta-talenta yang dapat melakukan pengodean atau pemrograman komputer. Software-engine yang digunakan pun tidak kalah dengan para geeks di perusahaan teknologi yang telah saya sebutkan tadi. Talenta yang ada di negeri kita sudah sangat luar biasa kecakapannya.

Hanya saja, mereka masih terpusat pada beberapa perusahaan-perusahaan yang telah matang, atau startup yang sudah besar, dan tidak dimungkiri berlokasi di pusat negeri kita (Jakarta). Masih diperlukan lusinan talenta berlebih lainnya guna memenuhi kebutuhan mandiri dalam negeri. Masih banyak sektor yang belum terjamah, apalagi negeri kita sangat besar, potensi dari masing-masing daerah pun sejatinya dapat “di-startup-kan“.

Sangat diharapkan bejibun pihak yang dapat mengakomodasi dan menyokong anak-anak mudah berbakat Tanah Air, terutama dari sisi funding untuk investment. Saya rasa tidak perlu menunggu pemerintah, kita dapat mendiskusikan hal-hal ini dengan pihak-pihak yang berkecimpung di industri swasta.

Saya sangat percaya pada swasta. Betapa ideasi bertebaran di kalangan anak muda, tetapi ide jatuhnya sekadar ide lantaran tidak ada yang mendukungnya. Alhamdulillah, telah banyak pemodal ventura (venture capitals) swasta, terutama dari dalam negeri (seperti GDP Ventures, East Ventures, dan lainnya), yang sadar atas potensi putra-putri lokal/bangsa sehingga mereka pun mengucurkan bantuan yang tidak main-main.

Tidak perlu muluk ingin menjadi pengusahanya. Betapa banyak founders dan CEO dari perusahaan rintisan merupakan bekas tenaga ahli dari perusahaan swasta lain sebelum-sebelumnya. Seperti pemenuhan kebutuhan untuk belajar, bukan gaji dan profit perusahaan yang dijadikan pertimbangan, melainkan rasa syukur bahwa mereka dapat belajar bersama orang-orang hebat dari perusahaan-perusahaan teknologi tersebut.

Luar biasanya, para pendiri dan petinggi startup tidak tabu dengan hal-hal teknis komputasional, seperti bahasa pemrograman apa yang digunakan, sistem operasi komputer apa yang menunjang untuk peladen/server mereka, dan sebagainya. Steve Jobs, Bill Gates, Mark Zuckerberg, dan lainnya sangat paham kode dasar teknologi yang perusahaan mereka kembangkan. Ibarat diumpamakan perusahaan mereka hanya bersisa mereka seorang diri, mereka pun masih dapat mengembangkan teknologinya.

Barangkali, belum ke arah sana. Namun, akankah kita akan terus masih menjadi pengguna biasa? Atau, pengguna luar biasa dengan emblem ambassador untuk karya dari luar? Barangkali, perlu ditandaskan untuk bercita bagi siapa pun pemuda-pemudi harapan bangsa untuk tidak sekadar menjadi pengguna, tetapi juga pengkreasi atau pengembang. Barangkali, dari software “asing” yang suka digunakan dapat diinspirasi untuk membuat versi “terbaik”-nya di sini. Hanya diinspirasi, sama sekali jangan dicuri.

Kehadiran teknologi yang makin memudahkan dan memanjakan dari hari ke hari, nyatanya makin membuat nyaman. Namun, diperlukan kesadaran berlebih bahwa kita tidak sepenuhnya akan terus bergantung pada orang lain. Jangan sampai kita terus-terusan menjadi pasar atas pelbagai produk luar negeri. Kita wajib berdikari, mengembangkan produk teknologi secara mandiri. Tidak ada kata terlambat, kita berproses terus-menerus ke arah kemajuan bersama.