Kita (Masih) ‘Hanya’ sebagai Pengguna

3 min read

Kita hanya user. Begitu banyak produk teknologi, terutama perangkat (bukan peranti) lunak (software), baik sistem operasi (operating system) atau program/aplikasi (apps), yang ‘bukan kita yang buat’. Kita bukan pengembangnya (developer-nya). Kita sekadar baru bisa menggunakannya, mengoperasikan fitur-fitur yang ada.

Alhamdulillah, ranah-ranah pengembangan di dalam negeri sangatlah gencar, terutama oleh pelbagai perusahaan rintisan (startup company) berbasis teknologi lokal merilis produk-produk unggulan mereka. Banyak pihak mengambil bagian untuk makin mendorong kreativitas pengembang (developersprogrammers) Tanah Air melalui pelbagai kelas/kursus edukatif (nonperguruan tinggi), bahkan terselenggara pula sekolah khusus pemrograman selaik program 42 ala Prancis (yang telah ada representasinya di Jakarta).

Kita perlu mengapresiasi upaya para perintis pengembangan perangkat lunak Indonesia, di mana pun mereka berada. Kita dukung dan doakan atas apa yang mereka upayakan tersebut.

Ada kala kita, sebagai pengguna, dihadapkan dengan software, yang sejatinya amat mudah dioperasikan. Namun, barangkali sebab belum tahu saja manfaat fitur-fitur yang ada sehingga kita mudah menyerah. Padahal, fitur-fitur yang disediakan dapat diakses dengan klik dan sentuh sana-sini saja. Kita baru sekadar user, kita pun tidak jarang mengeluh mengapa kurang cakap mengoperasikannya.

Bahkan, tidak jarang kita berkhayalmemberikan ide-ide spontan agar dikreasi fitur-fitur yang lebih dan lebih memudahkan lagi. La wong fitur sederhana yang ada masih belum begitu berarti, apakah cukup genting untuk menambahkan ide fitur suka-suka itu? Lebih mengerikan lagi bila tiap user, dengan pelbagai latar dan sudut pandang mereka, mengusulkan fitur-fitur baru yang kiranya menunjang kebutuhan mereka. Luar biasa!

Kita masih user dan hingga entah kapan masih menjadi user. Saya yakin, beribu yakin, tidak sedikit putra-putri bangsa ingin membuat apps yang berfaedah, yang menyokong beberapa aktivitas berkehidupan di masyarakat, syukur hingga dapat di-startup-kan. Namun, siapa sangka tidak sedikit pula yang menikmati sebagai sebatas pengguna saja.

Entah apa yang terjadi bila menjadi user saja lebih menyamankan kita terus-menerus dari waktu ke waktu. Entah bagaimana muara nanti bila hal ini berlangsung lebih lama lagi, makin lebih banyak lagi produk teknologi dari luar dan kitalah sebagai useruser (atau bisa tester) mereka. Kita merasa keren sebab dapat menggunakan layanan dari perusahaan teknologi ini dan itu, layanan mereka pun menunjang produktivitas harian kita. Berbetikkah barang sedikit bahwa kita sedikit-sedikit telah tercandukan?

Peran sebagai pengguna tidak kalah makna peran sebagai operator. Apa bedanya, sekadar mengoperasikan. Sesuatu hal yang … entah. Menjadi user seakan menjadi candu, candu untuk menikmati pelbagai produk teknologi yang ada.

Ada orang membilang: lebih mending bila produk tersebut dari Tanah Air. Namun, adakah Anda pernah membayangkan berapa banyak apps lokal kita bila dikomparasikan dengan apps asing di toko aplikasi populer? Berapa banyak games buatan luar negeri daripada kreasi anak bangsa? Hal ini masih berbatas dikadar dari sisi kuantitas, belum kualitas, lo.

Saya teringat kisah yang menghiasi masa kecil. Ketika itu, saya kagum dengan anak-anak Negeri Sakura. Dikabarkan bahwa anak-anak sekolah dasar di sana dapat merakit jam tangan sendiri.

Ada juga rumor bahwa, tidak hanya merakit, mereka pun dapat membuat komputer mini yang dapat menjalankan sistem ber-kernel Linux dari perangkat keras elektronik seadanya di rumah mereka. Kabar dan rumor yang cukup membuat terkagum, sekaligus malu, bagi saya ketika itu.

Sedikit nilai substantif dari pos ini adalah hasrat berkreasi yang perlu diunggulkan, bukan pasif menerima keadaan. Teringat kalam salah seorang profesor terdahulu, beliau sempat membilang: mengapa antarmuka program komputer (yang ada kala itu, masa awal kejayaan Microsoft dengan Windows 95/98/XP mereka) hanya begitu-begitu saja.

Sang profesor juga sempat berkesah waktu itu: kalau saja tampilan antarmuka aplikasi yang ada dapat disentuh pada layar komputer sekaligus. Selaik yang diketahui, wujud komputer ketika itu masih dengan monitor CRT (layar cembung) bertabung. Beliau pun menutup dengan hasungan agar kami tidak kalah berkreasi, syukur dapat turut berkontribusi memikirkan inovasi kebaruan teknologi berikutnya. Pemikiran luar biasa dari profesor humaniora (bukan pakar telematika atau informatika).

Kehadiran teknologi yang makin memudahkan dan memanjakan dari hari ke hari, nyatanya makin membuat nyaman kita, ya? Akankah kita akan terus masih menjadi pengguna biasa? Apakah cukup senang sebagai user saja dan menikmati semua hal yang ada (sebab berargumen bukan kapasitas kita untuk berinovasi dalam ranah teknologi meskipun produk-produk yang ada menghiasi rumah-rumah kita)? Bagaimana dengan Anda?

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.