Latif Anshori Kurniawan

Merdeka Belajar, Merdeka Berkarya

Diterbitkan pada dalam Blog.

Ketika berbicara perihal pembelajaran dengan mengusung pemanfaatan teknologi, Anda pasti tidak asing lagi dengan Ruangguru. Praanggapan sebagian kita, apabila sekadar mendapati pewartaan berkait dengan platform belajar digital asal-asli Indonesia ini, sekelebat tebakan yang melintas barangkali adalah les privat online. Tidak salah juga lantaran para pengajar dapat menjadi mitra Ruangguru untuk berbagi ilmu. Benar-benar seolah sudah menjadi icon, nyaris tiada satu pun pendidik dan peserta didik yang tidak mengenal Ruangguru.

Ruangguru bukanlah layanan pendidikan berbasis teknologi informasi satu-satunya. Sejatinya, sudah ada beberapa perusahaan rintisan berbasis teknologi pendidikan (edtech/edutech startup) yang telah diinisiasi dari tangan-tangan dingin putra-putri bangsa. Tersebutlah Zenius (telah dirintis jauh hari sebelum popularitas Ruangguru), Pahamify, Dicoding (kelask khusus belajar pemrograman), , MauBelajarApa, Sekolah.mu, Pintaria, Pijar Mahir, TitikPintar (kelas gamifikasi edukatif untuk anak-anak), dan beberapa layanan sejenis lainnya. Nyaris serupa dengan Ruangguru, mereka menyediakan layanan pembelajaran dengan memanfaatkan potensi teknologi.

Kalau Ruangguru dan kawan-kawannya tersebut lebih menekankan pada konten edukatif yang ditawarkan secara langsung kepada peserta didik (interaksi berbasis video atau secara langsung/live-stream), lain lagi pemain lokal yang fokus pada pengembangan kerja sama untuk peningkatan pemanfaatan teknologi di institusi pendidikan–menjalinkan kerja sama dengan sekolah atau lembaga kursus. Tersebutlah beberapa di antaranya seperti: HarukaEDU, Pintro, Kelase, Gredu, Sikad, ZumiApp, dan lainnya.

Bagi Anda yang memiliki saudara yang baru saja lulus sekolah menengah atas kala pandemi ini, apabila masih perlu penguatan bagaimana langkah karier mereka ke depan, barangkali dapat diarahkan guna mencermati layanan dari Rencanamu dan GoKampus.

Ruangguru makin menanjak ketenarannya setelah salah satu pendirinya, yakni Adamas Belva Syah Devara (sedangkan co-founcer satunya bernama Muhammad Iman Usman), menjadi staf khusus kepresidenan dari kalangan milenial (update: Belva mengundurkan diri beberapa hari lalu). Ruangguru pun tercatat sebagai salah satu perusahaan rintisan di bidang pendidikan yang gemilang.

Tidak hanya fokus pada layanan pembelajaran daring, Ruangguru juga menelurkan beberapa subunit usaha, salah satunya adalah Skill Academy, yang menawarkan cara belajar terkini untuk meningkatkan keterampilan profesional. Rintisan yang didukung awal oleh pemodal ventura paling produktif di Indonesia, yaitu East Ventures, ini makin mengukuhkan diri sebagai calon unikorn berikutnya melalui ekspansi Ruangguru ke Vietnam dengan nama layanan Kien Guru.

Kalau di Indonesia, ada Ruangguru, dunia telah lama mengenal Khan Academy (yang didirikan oleh Salman Khan pada 2008, didanai oleh Bill & Melinda Gates Foundation). Khan Academy diinisiasi Salman sebagai platform nonprofit sehingga siapa pun dapat belajar/berkursus gratis darinya. Hal ini tentu berbeda dengan Ruangguru yang berbasis profit. Bukan masalah, tidak dapat dikomparasikan, masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan.

Sebelum pandemi COVID-19, Ruangguru bertarif (berbayar, tidak cuma-cuma), tetapi saat pandemi ini, dapat diakses gratis selama 30 hari. Sementara itu, Zenius, HarukaEdu, Pintro, dan sejenis lainnya lebih menawarkan pada rupa kerja sama penyediaan platform teknologi pembelajaran daring dengan institusi pendidikan (sekolah, lembaga kursus atau pelatihan, bahkan perguruan tinggi). Yang terbaru, Eduka, didukung oleh pemodal ventura Init-6 pimpinan pendiri Bukalapak—Achmad Zaky.

Khan Academy dan Ruangguru menawarkan pembelajaran daring berbasis video, memberikan grade pencapaian belajar, hingga perilisan sertifikat elektronik (e-certificate) bagi peserta didik. Terdapat layanan serupa keduanya, dengan tetap memiliki kekhasan tersendiri. Jamak layanan serupa populer lainnya masih berasal daring luar, mulai dari Coursera, Udemy, LinkedIn Learning, ataupun MasterClass; masih banyak lainnya di luar sana. Mereka pun telah bermain cukup lama. Apabila beberapa tersebut terdapat batasan, masih tidak sedikit yang bersifat terbuka dan bebas akses, seperti: OpenCourseWare (OCW, platform untuk pemelajaran terbuka) yang jamak mudah mudah ditemukan di beberapa kampus beken, edX, video-video presentasi di TED dan … YouTube, ahem.

Omong-omong, kampus-kampus beken global tidak sedikit yang menyajikan konsep belajar mandiri secara daring, bahkan sudah bertahun-tahun lamanya. Ilmu yang ditawarkan absah dan tidak kalah kualitasnya dengan kelas-kelas luring tatap-muka yang dihelat di dalam kampus. Siapa pun dapat belajar, belajar disiplin ilmu apa pun. Bahkan, beberapa subjek menyajikan konsultasi graris secara langsung dengan para profesor setempat. Masyaallah, saya prefer belajar dengan gaya begini. Esensi utamanya adalah pada mutu, keabsahan ilmu, dan kemudahan akses dengan konsep open mereka. Tentu values belajar langsung di kampus-kampus tersebut tidak dapat digantikan, paling tidak, kualitas materi belajar kita cukup berbobot meskipun sekadar permukaannya.

Perusahaan rintisan (startups) lokal yang berkecimpung di dunia pendidikan, berbeda dengan konsep yang diusung Ruangguru—dan lebih spesifik, ada Bahaso, Squiline (dengan produk Cakap by Squiline), Kampung Course, dan layanan sejenis lainnya. Keduanya berasal dari dalam negeri. Kalau dari luar, barangkali dapat disandingkan dengan Duolingo, Memrise, Drops, atau Babbel. Beberapa layanan tersebut menekankan pada kursus bahasa, terutama bahasa-bahasa asing populer. Sebagai anak humaniora, hal ini tentu menarik. Sayangnya, layanan kursus belajar bahasa yang mereka tawarkan masih berkutat pada beberapa bahasa asing (seperti bahasa Inggris, bahasa Mandarin, dan lain-lain), belum bahasa Indonesia, lebih-lebih bahasa daerah (Jawa, Sunda, Melayu, Minang, Batak, Bugis, dan lain-lain).

Kalau fasilitasi layanan belajar bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa Nusantara direalisasikan—mudah-mudahan, tentu banyak maslahatnya—insyaallah. Lebih-lebih masa pandemi yang mewajibkan nyaris mayoritas populasi dunia untuk jamak di dalam rumah. Hal ini sangat tidak menutup kemungkinan orang-orang asing ingin belajar pelbagai bahasa kita, bukan? Saya yakin, tidak sedikit orang Indonesia yang masih penasaran/ingin belajar bahasanya sendiri.

Edtech startup lokal memiliki rival yang tidak kalah bersaing, mereka mesti menjamu startup luar yang turut meramaikan pangsa pasar pendidikan di Tanah Air. Satu di antara yang populer dan serupa Zenius adalah Quipper. Quipper telah masuk di Indonesia beberapa tahun lampau (didirikan pada 2010 di London, Inggris) hingga posisi mereka pun tidak kalah kuat bila dibandingkan Zenius dan pemain lokal lainnya. Quipper tidak main-main berproses di Indonesia.

Khusus pemain asing, selain Quipper, ada KooBits (dari Singapura–menggunakan perpaduan kurikulum Singapura dan Cambridge), atau Progate (kursus pemrograman dari Jepang). Berkait dengan asing, tentu kita tidak asing pula dengan pemain lama, sebuah perusahaan besar yang bermarkas di Silicon Valley, siapa lagi kalau bukan Google. Google pun turut serta membantu peningkatan sumber daya manusia di Indonesia? Banyak, dong, salah satunya melalui program Bangkit mereka (yang menggaet pihak Gojek, Tokopedia, dan Traveloka).

Kecenderungannya, program Bangkit dari Google tersebut memang bukan untuk peserta didik di sekolah, tetapi lebih berfokus pada pengasahan keterampilan pemuda/pemudi Indonesia dalam bidang profesional, terutama untuk ranah teknologi informasi. Hal ini mengingatkan pada layanan edutech khusus kalangan bisnis, di antaranya: ProSpark, CorporateEDU (dari HarukaEDU). Nyaris serupa dengan Skill Academy (dari Ruangguru) dan Vokraf, ya, tetapi kedua disebut terakhir ini lebih ditekankan pada korporasi yang ingin segenap karyawannya mengembangkan diri secara mandiri.

Lagi-lagi, Quipper sejenis lainnya dari luar negeri tersebut tidak sendiri (bukan satu-satunya perusahaan rintisan asing yang bergerak di bidang pendidikan), yang memanfaatkan potensi pasar dalam negeri. Yang membedakan dengan Quipper, mereka tidak sengaja masuk ke Indonesia. Kecenderungannya menawarkan teknologi sistem manajemen pemelajaran (learning management system/LMS) dan banyak pengguna dari Indonesia yang telah memanfaatkannya. Dengan kata lain, mereka masuk ke Indonesia lantaran basis penggunanya juga telah hadir di sini.

Tersebutlah Moodle dan Schoology, agaknya cukup populer di Tanah Air. Tidak sedikit institusi menggunakannya. Terutama Moodle, perangkat lunak terbuka (bersifat open-source sehingga dapat di-customize sesuai kebutuhan) yang berasal dari (berbasis di) Australia ini digunakan oleh banyak institusi pendidikan di Indonesia. Schoology tidak sesederhana Classroom (milik Google), dan tidak open-source seperti Moodle. Schoology menawarkan layanan pemelajaran secara daring pada sistem mereka. Selaik Classroom, tetapi lebih lengkap fiturnya. Tidak seperti Moodle yang perlu menginstal pada peladen lembaga, pengguna tinggal mendaftar dan menggunakan, terlebih untuk versi komersialnya.

Kala belajar dari rumah beberapa pekan terakhir, Google Classroom sangat populer, digunakan oleh jamak pendidik untuk membelajarkan (ahem, memberi tugas-tugas) peserta didik dari rumah. Sejatinya, Classroom bukanlah LMS, ia hanya platform belajar daring dari Google. Lantaran merupakan produk teknologi dari perusahaan besar yang bermarkas di Mountain View, California, itu, banyak orang percaya kestabilan dam keandalannya. Anda perlu memiliki akun G Suite bila ingin memperoleh benefit lebih. Apabila sudah memiliki akun Google berbayar pun, sembari menggunakan Classroom untuk aktivitas pembelajaran, tidak sedikit pengajar yang mengoptimalkan Google Form untuk menakar/mengevaluasi hasil belajar.

Berbeda dengan Classroom, tetapi serupa dengan Schoology, ada yang terlebih dahulu populer, yaitu Edmodo. Edmodo sempat menjadi rival Moodle sebelum ramai pembelajaran daring beberapa tahun ke belakang. Hal ini lantaran pengguna Edmodo cukup dimudahkan, tinggal menggunakan servis yang ada. Oh iya, selain itu, ada pula yang memanfaatkan layanan Wakelet. Wakelet lebih menekankan pada fitur yang menunjang portofolio peserta didik.

Menimbang kadar persentase popularitas penggunaan di perguruan tinggi, agaknya Moodle masih nomor satu. Moodle sangat customizable sehingga pengembang yang memasang Moodle sebagai basis engine LMS mereka dapat menyesuaikan fitur-fitur di dalamnya untuk lebih disederhanakan. Tidak salah lagi, Moodle dapat mudah digunakan bila administrator sistem dan pengajar berkenan meluangkan waktu untuk lebih kreatif.

Ketika menggunakan Moodle dan lainnya—yang telah disebutkan di atas, mengingatkan pada fitur interaktif kuis. Terdapat beberapa layanan inovatif berbasis kuis, yang rata-rata terimplementasikan melalui aplikasi native ataupun aplikasi web (dapat diakses melalui peramban). Beberapa di antaranya seperti: Kahoot!, Quizizz, Quizlet (sembari bermain kartu kata/flash-card), Playbuzz (kuis daring yang dapat dilakukan secara mandiri), sudah sangat populer. Rata-rata yang telah disebutkan ini telah tersedia untuk sistem mobile iOS dan Android.

Pada salah satu perkuliahan, saya pernah mengetengahkan salah satu layanan, yaitu Kahoot!, untuk dikritisi oleh mahasiswa. Dikritisi dalam arti dianalisis layanannya sembari didemokan pengoperasiannya. Sangat meriah. Walaupun layanan gratisnya masih amat berbatas, tetapi hal ini sudah mencukupi untuk digunakan sebagai bumbu pembelajaran. Saya pribadi tidak menampik bahwa layanan berbayarnya dapat pula diterapkan pendidik dalam pembelajaran di kelas. Kahoot! bukanlah layanan kursus seperti Ruangguru, dia menawarkan inovasi pembelajaran berbasis kuis dengan pelbagai atribut yang menarik, terutama menarik oleh peserta didik.

Selain model LMS, pada ranah layanan bahasa, ada Elsa. Elsa bukanlah seperti Bahaso dan sejenisnya, ia sekadar menawarkan teknologi yang mereka kembangkan untuk membantu para pemelajar bahasa Inggris agar dapat melafalkan pelbagai kata dalam bahasa Inggris dengan aksen yang jernih dan tepat. Sekalipun bukan berupa fasilitasi kursus, rintisan yang didirikan oleh orang Vietnam ini cukup populer (untuk layanan spesifik serupa).

Saya pun menggunakan Elsa. Yang saya suka, Elsa menawarkan teknologi sederhana, mereka menyelaraskan input suara pengguna dengan basis data yang terdapat pada sistem mereka. Menariknya, sistem mereka pun tidak jauh dari pengembangan kecerdasan buatan yang dipoles sedemikian rupa. Sempat mencoba layanan spesifik serupa lainnya (yang memanfaatkan teknologi voice recognition), ujung-ujungnya kembali ke Elsa. Servis pada layanan gratisnya cukup memadai, lebih-lebih berbayar (dengan penawaran benefit berlebih). Dengan Elsa, saya terbantu untuk memfasihkan tuturan saya dalam bahasa Inggris.

Ah, jika saja telah ada layanan serupa untuk bahasa Indonesia, rasanya saya berkenan untuk mengampanyekan. Barangkali, telah ada yang mengembangkan untuk bahasa Indonesia, tetapi masih berbatas untuk kebutuhan enterprise (atau korporasi) sehingga belum tersedia untuk publik. Hal tersebut cukup menarik minat saya. Hal ini lantaran ceruk ini sangat lekat dengan bidang humaniora dan belum begitu ramai

Beberapa kali mengajar pemelajar bahasa Indonesia dari luar negeri (tercakup dalam program BIPA—terima kasih kepada Pak Raden Yusuf Sidiq Budiawan yang telah memberi kesempatan untuk belajar hal ini), tidak jarang mendapati mereka masih tidak mudah menuturkan beberapa kata dalam bahasa Indonesia, di antaranya bunyi-bunyi trill (/r/) dan/atau sengau/voiced velar nasal (/ŋ/). Pernah mendapat beberapa bule tidak terlalu fasih menuturkannya, bukan? Masyaallah, sangat menarik agar mereka dapat melafalkannya dengan presisif. Kalau dapat presisi, mengapa tidak? Barangkali Anda tertarik dengan hal ini, mari mengobrol lebih lanjut—insyaallah.

Bukankah sudah ada Google Translate? Rasanya, tool penerjamahan andalan dari Google tersebut masih kurang dapat mewakili ‘benar-benar’ tuturan khas kita. Betapa tidak jarang kita mendapati bila robot ‘wanita’ Translate mengujarkan kalimat-kalimat masih terkesan kaku—tidak jauh seperti robot. Masih sangat jauh untuk versi bahasa Inggrisnya, yang lebih luwes dan enak disimak. Sebelum Google mengembangkan lebih lanjut, saya harap kita dapat berkolaborasi secara mandiri—sebuah mimpi, he he he. Mengapa tidak? Insyaallah. Sekali lagi, di sini, saya tekankan pada pengembangan teknologinya sehingga jangat berlarut-larut sebagai hanya user (bagian dari ceruk pasar yang menguntungkan pihak asing).

Seperti ketika menggunakan Elsa, alih-alih sekadar menggunakan layanannya, saya lebih tertarik pada inovasi teknologi yang ditawarkan. Tidak masalah dengan komersialisasi layanan selama ada penekanan pada kreasi inovatif dan keandalan teknologi yang dikembangkan. Saya masih bisa sedih bila sebagian kita membanggakan belajar menggunakan YouTube, yang jelas-jelas dari Google (bukan perusahaan teknologi asli Indonesia). Mengapa membatasi YouTube, padahal kita masih ada peluang mandiri. Tidak menafikan diri bahwa terdapat bejibun konten pengetahuan dan keterampilan yang membantu keseharian kita pada layanan berbagi video itu. Namun, akankah kita berpanjang masa bergantung pada mereka?

Alih-alih menggunakan teknologi orang lain secara penuh, saya suka perusahaan rintisan lokal, yang berjuang mati-matian lebih memilih untuk mengembangkan ideasi kreativitas mereka secara mandiri. Berjuang menyediakan layanan yang tidak kalah berfaedah alih-alih YouTube dan sejenisnya. Yang tetap bertahan dengan senyuman ketika banyak saudara/saudari sendiri yang mencibir. Betapa tidak mudah rintisan unikorn bangsa, seperti Gojek, Tokopedia, Traveloka, Bukalapak, (barangkali ke depan) Ruangguru (atau edtech lainnya), dan penyusul lain-lainnya, untuk tetap bertahan ekstrakeras atas serbaneka tiupan pelemahan dari pelbagai penjuru.

Kalau ditandaskan pada kreasi sendiri, banyak hal dapat dipegang ‘sendiri’, salah satunya berkait dengan keamanan privasi data pengguna. Sudah bukan hal baru lagi bila jamak perusahaan teknologi luar mengklaim bahwa data kita sebagai pengguna adalah aman-aman saja. Namun, siapa yang dapat menjamin ‘benar-benar aman’? Terkecuali, apabila teknologi yang ada kita kembangkan sendiri, tanpa ‘campur tangan’ mereka, paling tidak, kita telah berupaya untuk diri sendiri (untuk mempertahankan ‘kedaulatan’ privasi rakyat Indonesia).

Teringat wejangan Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) periode kepemimpinan Bapak Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo), yakni Pak Nadiem Makarim, yang tidak letih mengusungkan tema pendidikan Indonesia ke depan—tertandaskan melalui pagar konsistensi yang teramat kuat, yaitu #MerdekaBelajar. Semestinya hal ini perlu dengan sangat kita dukung. Kita berikan ‘kemerdekaan’ kepada peserta didik untuk belajar. Dalam arti, sekalipun mereka lekat dengan produk teknologi informasi, jangan batasi mereka bila mereka ingin belajar tidak dari YouTube, tidak menggunakan mesin pencari Google (misalnya menggunakan Duckduckgo), tidak melulu menggunakan perangkat lunak Microsoft Office atau Windows (tetapi Linux, Unix BSD—macOS, dan lainnya), turut serta menulis banyak hal di Wikipedia, dan banyak aktivitas independen lainnya.

Tidak jarang dijumpai dari peserta didik yang mengeluhkan mengapa mereka sedikit dipaksa untuk belajar dari YouTube, layanan harian yang nyaris tidak pernah ditinggalkan, sehingga mereka pun menginginkan sesuatu yang lain, yang spesial. Kalau konten belajar bisa dengan mudah diperoleh dari YouTube, mengapa di sekolah mereka harus ber-YouTube pula. Tantangan kreativitas pengajar pun lebih tinggi.

Bagi peserta didik kini, kehadiran YouTube dapat diserupakan dengan medium televisi beberapa dekade lampau, apakah ketika itu anak-anak dianjurkan belajar dari televisi? Kita dapat melihat Ruangguru, mereka bukan platform berbagi video selaik YouTube, mereka khas menyajikan video pembelajaran yang terkurasi ketat dan terbaik sehingga apabila memang ingin belajar, ya di Ruangguru, bukan di YouTube. Syukur dapat dimotivasi pula bisa jadi mereka bercita mengkreasi ‘Ruangguru-like’ atau inovasi berikutnya. Kita dukung!

Apabila anak-anak kita ingin belajar dari GitHub, atau bisa jadi dari Netflix (terdapat dokumenter yang amat bervariatif dan berfaedah—insyaallah), mengapa dilarang bila masih dimungkinkan ada hasrat mereka belajar positif di sana? Arahkanlah mereka untuk benar-benar ‘memerdekakan diri untuk belajar’ banyak hal positif yang masih belum tersentuh. Sebagai orang tua, kita wajib mendampingi mereka belajar.

Sembari menuntun mereka untuk senang ‘belajar’, tanamkan pula nilai-nilai kesantunan, etika, dan norma kehidupan (yang termaktub dalam pelbagai kalam syariat) untuk bekal mereka bertumbuh lebih baik—insyaallah. Mudah-mudahan asa ‘merdeka berkarya’ pun dapat direalisasikan. Mereka dibebaskan (sebebas-bebas) untuk belajar sehingga mereka pun dibebaskan untuk berkarya dan berkontribusi bagi Tanah Air. Merdeka yang bertanggung jawab untuk dunia dan akhirat.

Masih percaya, masih ada banyak kesempatan berkontribusi untuk orang-orang tercinta di negeri ini. Saya masih bermimpi, Bapak/Ibu pembaca, masih sangat ingin bermimpi. Kita benar-benar mandiri, saling mendukung karya kreasi bangsa sendiri—dedikasi dari hasil keringat dan tangan dingin putra-putri Ibu Pertiwi.