Latif Anshori Kurniawan

Beretro Semenjana

Diterbitkan pada dalam Blog.

Beberapa web yang masih dapat diramban dari Chrome 103 di El Capitan.

Apabila Anda sempat memvisit blog ini beberapa pekan sebelumnya, dapat jadi Anda mengira kami sempat beralih layanan ke WordPress.com. Sebuah pengakuan, kami sempat ke sana, dan kemudian kembali pulang ke layanan hosting dalam negeri yang telah membersamai nyaris satu dekade ini (masyaallah). WordPress.com menawarkan beberapa hal menarik, di antaranya (barangkali): harga yang tidak kalah kompetitif, custom domain web berlebih, beberapa diskon menarik untuk satu tahun pertama, tim support yang responsif, dan banyak lainnya. Namun, secara ringkas, ternyata kami “sekadar tertarik” berkait (salah satunya, menurut hemat kami) aksesi gegas (tanpa lag).

Cepat diakses! Sayangnya, bergantung teknologi perangkat yang kita gunakan untuk meramban layanan yang berlokasi di Amrik tersebut. Dalam arti, apabila Anda menggunakan perangkat lawas (seperti yang kami nyaris terlalu acap bagikan di sini), menggunakan layanan perusahaan Automattic tersebut bukan hal solutif. Blog ini nyaris seolah tidak dapat diramban. Dapat jadi teraksesi, tetapi fitur log masuk (log-in) akun WP.com kita belum tentu termuat. Tidak, samsek tidak dapat di-load, menyisakan layar latar putih peramban yang juga tidak sudah tidak mendukung lagi mode gelap.

Omong-omong soal peramban web, beberapa waktu lampau, kami sempat “membanggakan” Firefox 78 versi ESR. Baru hari ini kami dapati (atau memang dasar kami kuper), akhirnya terdapat versi peramban web Chrome yang masih dapat berjalan dengan baik di El Capitan (meskipun memang tidak dapat dilakukan pembaruan/update lagi). Alhamdulillah, versi ini disediakan Google melalui laman unduh resmi versi stabil mereka (yang secara otomatis mengunduhkan versi terdahulu—versi terunduh kami dan berjalan untuk mengetik pos ini adalah 103.0.5060.134). Tidak kalah serupa bila Anda memiliki riwayat unduhan sebelumnya untuk aplikasi yang terpasang dari toko aplikasi App Store dan Play Store. Terima kasih kita kepada tim Chrome Google!

Betul, tidak terkecuali di Chrome, sama saja, layanan yang masih dipimpin oleh Matt Mullenweg tersebut kurang dapat terfaedahi. Kami pun bergerak/bermigrasi kembali ke rumah asal blog sekaligus tempat awal kami mendaftar dan menyewa domain web Latif.id ini. Alhamdulillah, dengan Chrome 103, ia masih Diizinkan-Nya terfaedahi. Masih Diizinkan-Nya berlabuh dengan peladen yang berlokasi di Indonesia (masyaallah), spirit ini yang ingin terus kami jaga (insyaallah). Jadi, kami belajar: Untuk tidak ke WordPress.com (setidaknya untuk saat ini, atau cukup sampai di sini, tetapi tetap Wallahu A’lam di kemudian hari nanti—bukan tidak mungkin, bukan?).

Tidak sekadar kebutuhan mengeblog di sini, kami mempertimbangkan beberapa layanan penting lainnya dapat terakses. Kami pun berputusan untuk “menyegarkan” kembali MacBook Pro 2009 (MBP-2009) tersebut. Melakukan pemasangan awal El Capitan adalah kiat jitu dari aktivitas penyegaran ini, menghapus beberapa partisi sistem lain dan memfokuskan pada sistem yang memang benar-benar digunakan secara maksimal.

Ya, tidak terkecuali beberapa sistem Linux yang telah terpasang sebelumnya (seperti Artix dan kawan-kawannya, menyisakan Ubuntu Pro yang sengaja kami biarkan apa adanya), juga “lenyap” sementara waktu. Tenang, masih terdapat Fedora 35 (dengan desktop MATE) yang masih dapat diandalkan untuk mendeteksi dan memakemkan menu but Linux apa saja yang terpasang. Masyaallah, alhamdulillah.

Fedora MATE 35 tersebut terbilang ringan, ia masih mendukung kreasi menu but dengan ikon khas distro Linux yang didukung penuh perusahaan Red Hat ini. Kami pribadi mendapati bahwa, hingga versi 39, ikon but Fedora (yang terkondisikan dari utilitas macefi) masih disajikan. Mulai versi 40, hal ini tiada. Namun, salah satu warganet pada sebuah forum sempat menandaskan bahwa ikon ini hadir pada versi Asahi Remix—yang dikhususkan untuk perangkat MacBook berprosesor Apple Silicon (mulai) M1.

Bagaimana dengan kisah ber-Monterey yang sempat masih eksis cukup lama? Kami rasa: Sudah cukup. Ujung-ujungnya, porforma/kinerja MBP-2009 tersebut agak kepayahan. Cukup, perangkat dengan logo Apple yang masih menyala ini memang bukan untuk macOS versi 12 tersebut. Ber-El Capitan yang fresh ternyata menjadi salah satu solusi yang menyenangkan. Kembali ke ruh asalinya. Pengoperasionalannya berjalan tanpa jeda, ringan, dan solid (alhamdulillah). Hanya saja, memang tidak semua aplikasi dapat dipasang.

Sementara waktu, baru tersaji Amphetamine (langsung dari Mac App Store—dengan riwayat sempat/pernah menginstal sebelumnya) dan peramban web Chrome versi 103 (diunduh langsung dari laman resmi Google Chrome). Tugas Amphetamine selaik Caffeine di Linux, ia menjaga sistem kita dari terlelap (tanpa menyentuh secara langsung konfigurasi daya, baik langsung dari sumber listrik maupun dari baterai.

Mencoba beberapa layanan yang kiranya kurang dapat dimuat/di-load selain dari WordPress.com di Chrome ternyata mengasyikkan. Sementara ini, alhamdulillah masih dapat untuk mengakses beberapa layanan web: dari Google (Gmail, YouTube), Medium, Substack, beberapa instance Mastodon, serta KBBI Kemendikdasmen. Masyaallah!

Ketika menggunakan Firefox 78 (ESR), YouTube sempat memberi peringatan supaya kami melakukan pembaruan. Ketika di Chrome 103 sekarang, peringatan tersebut sama sekali tidak muncul, hanya memang pada Gmail (dan dapat jadi layanan perusahaan Google lainnya) sempat menampilkan pop-up notifikasi berlatar warna biru sebaris kalimat yang mengindikasikan supaya kita (pengguna) menggunakan peramban yang lebih kini. Bukan masalah, mereka masih dapat diakses (alhamdulillah).

Bagaimana dengan layanan media sosial lain selain YouTube? Mohon dimaafkan, Twittter/X “menolak”. Sayang sekali, padahal dominasi bermedsos kami di layanan yang dipimpin oleh Pak Elon Musk ini. Namun, justru Facebook, Instagram, dan Threads (dengan tampilan antarmukanya yang masih sedikit kurang, tetapi konten cenderung terbaca) masih lancar.

Beberapa konten teks di Medium dan Substack masih dapat terbaca dengan baik. Kalaupun dikomparasikan, layanan yang diinisiasi Evan Williams dan tim berasa lebih ringan daripada platform yang digawangi Hamish McKenzie dan tim. Untuk beberapa layanan nonsentralisasi (atau populer diistilahkan sebagai desentralisasi), seperti Mastodon, Bluesky, dan protokol terbuka Nostr, hanya menyisakan beberapa di antaranya. Bluesky menyerah, tan-bergeming (sekadar menampilkan logo layanan tersebut di tengah laman).

Untuk protokol terbuka Nostr, bergantung klien web yang digunakan. Apabila web Primal masih terasa berat, dapat teraksesi konten-konten notes yang sudah terkondisikan di dalam server relay yang digunakan (atau dilanggani) melalui/dari laman njump.me (alternatif: nostr.com diikuti public-key npub pengguna, contoh: nostr.com/npub-bla-bli-blu).

Layanan Mastodon dari Medium, yaitu me.dm, dapat diakses. Begitu pula flipboard.social dari Flipboard dan mas.to yang independen. Betul, layanan utama yang digawangi langsung oleh tim pengembang Mastodon, yang beralamat di mastodon.social, pun tidak dapat termuat. Mencoba beberapa instance lainnya pun masih nihil. Selain Mastodon, untuk servis forum agregasi kabar serupa Reddit, yakni Lemmy, beberapa dapat diramban, di antaranya: lemmy.world, lemmy.ca, lemmus.org, dan barangkali beberapa lainnya (kami tidak acap ber-Lemmy).

Sebelum Reddit populer, ada Digg (digg.com) yang akhirnya dikembalikan lagi kehadirannya oleh kopendirinya. Terima kasih kami atas invitasi Pak Kevin Rose guna menjajal versi awal platform dengan nuansa biru ini pada tahun lalu—sebelum diluncurkan ke publik. Tidak salah lagi, Digg dapat diakses tanpa galat melalui Chrome lawas yang terpasang di sistem macOS yang bisa jadi tidak peroleh pembaruan (update) lagi.

Layanan berbagi citra gambar/foto, sebagaimana telah disebut, yakni Instagram, masih dapat terwadahi. Selain servis dari perusahaan Meta ini, terdapat penggawa gudang sharing foto bagi para fotografer profesional Flickr. Berkelindan dengannya, yaitu SmugMug, juga tidak kalah teraksesi (sayangnya laman Pak Jawed Karim—salah satu kopendiri YouTube—di sini, yang menjadi fondasi web pribadi beliau, tidak terakses).

Untuk layanan serupa di dunia/mesta Fedi, yakni seperti Pixelfed, tidak dapat teraksesi. Bukan masalah, kami masih kurang acap di mesta tersebut. Terdapat solusi yang kiranya dapat “memaksa” peramban untuk memuat web-web tujuan. Beberapa layanan web cenderung masih menggunakan HTTP awal, jadi kami ubah HTTPS pada URL web yang ingin divisitasi ke HTTP, terlebih bila web tersebut adalah web personal/pribadi. Namun, disclaimer di awal, tolong hal ini untuk tidak ditiru. Berhati-hatilah bila mengakses web dengan URL tanpa HTTPS/SSL.

SSL menjadi salah satu “kunci/pintu/pijakan awal” bahwa sebuah web terkategori aman (meskipun, berulang [ratusan] kali kami tandaskan: bukan jaminan, tetaplah berhati-hati). Sangat dianjurkan memang, ketika mengunjungi sebuah web, “wajib” memperhatikan bahwa laman tersebut terlapisi SSL. Ya, saran terbaik kepada semua pengguna internet adalah tetap memastikan bahwa URL web yang didatangi mengandung unsur SSL (dengan menampillkan HTTPS pada alamat/URL-nya).

Simpulan pendek kami, beberapa layanan atau web yang kiranya masih memberi kesempatan pada peramban dan perangkat lawas kami ini dan berdasar identifikasi acak (serta asumsi personal) kami, cenderung terakomodasi oleh beberapa servis/web yang sudah lama hadir di belantara maya.

Coba perhatikan beberapa layanan yang telah tersaji, cukup familiar bagi Anda pengguna internet rentang 2000-an awal hingga sebelum 2010, bukan? Selain yang sudah disebutkan, ada The Verge, salah satu portal berita khusus perkembangan teknologi informasi dan teknologi pada umumnya. Menarik, banyak hal terkabarkan dari portal ini (sayangnya tidak untuk TechCrunch yang fokus pada pengabaran ranah teknologi pula). Terbilang baru barangkali adalah Product Hunt (yang lahir pada 2013).

Well, kami bersyukur masih dapat aksesi sebagian layanan di internet dari peramban Chrome versi lawas ini. Masyaallah, alhamdulillah. Hal ini tentu bukan jaminan dapat diakses di waktu-waktu berikutnya. Bisa jadi, dalam hitungan pekan atau bahkan hari kemudian, sebagian di antaranya benar-benar tidak dapat kami ramban lagi. Bukan mustahil, tiada produk makhluk yang kekal. Bukankah semua ini terjadi lantaran atas Izin-Nya semata?

Nan tidak kalah penting, sering kali kami ingatkan pula di blog ini bahwa aktivitas (yang) kami (pos) ini adalah sekadar berdasar pengalaman (atas preferensi) kami pribadi. Jadi, belum tentu terjadi serupa antarkita. Tulisan ini adalah sebagai catatan pengingat kami, tiada unsur ajakan sama sekali. Dengan kata lain, dimohon untuk tidak ditiru. Dimohon berbijak diri ketika meramban samudra waring wera wanua. Wallahu A’lam.

Berdasar pengalaman tersebut, salah satu hal yang kami pelajari adalah tidak setiap hal/aktivitas harus bersama perangkat yang baru. Sepanjang perangkat lawas retro terdekat dan halal kita masih dapat terfaedahi, mengapa tidak. Hanya saja, perlu ditanamkan pada diri kami bahwa hal-hal duniawi ini tidaklah abadi. Tidak perlu memaksakan diri, sikapi dengan kesederhanaan dan kesemenjanaan.

Bagaimana kita memaslahati peralatan duniawi yang ada justru bisa jadi kunci pendukung positif dan kebaikan (semoga) pada kehidupan hari kemudian (khair insyaallah). Semenjana dalam bercita, perbanyak syukur dan bahagia (atas serbaneka anugerah-Nya). Terima kasih telah membaca, semoga apa pun sajian kami acap bermaslahat. Wallahualam bissawab.