Kami di Substack?
Diterbitkan pada dalam Blog.
Betul, jamak konten pos tulisan yang berasal dari blog Latif.id telah dimigrasikan ke Substack. Putusan yang terbilang mendadak ketika (pada suatu hari yang random) mendapati laman web blog kami tersebut berkendala akses. Kendala yang terbilang normatif, cenderung berkait (justru) koneksi internet kami saat mengaksesi. Sejatinya, bukan sepenuhnya bermigrasi, melainkan sekadar sebagai cermin/salinan/cadangan dari blog yang kami sewa dari layanan lokal Indonesia ini.
Tiada masalah di Substack. Kami juga tidak mengikuti serba-serbi yang terjadi pada platform fasilitasi nawala tersebut. Konsepsi yang ditawarkan, pada dasarnya, cukup menarik. Prinsip sharing-economy dalam (in) this economy yang menawarkan opsi berlangganan berbayar yang saling menguntungkan.
Tidak jauh dengan Medium, tidak terlupa X (sebelumnya Twitter), atau platform publikatif lainnya. Namun, tentu saja, antarlayanan tersebut tidaklah serupa. Sebab sekadar sebagai pengguna, selama terdapat wadah yang menampung serbaneka konten publikasi tulisan kita, cukup.
Kembali pada konteks mengapa kami mengekspor jamak konten Latif.id ke Substack. Tidak banyak dalih sebenarnya, kami sekadar mencadangkan jamak konten blog ini di sana (termasuk bisa jadi pos/tulisan ini pun teterbitkan di layanan yang berbasis di Amerika Serikat [Amrik] tersebut). Selain itu, sebagai manusia biasa, kami juga perlu waspada.
Waspada bila blog personal Latif.id ini mendadak hilang entah di mana. Tidak, sama sekali bukan berkait perusahaan yang kami langgani hosting-nya sepanjang hampir satu dekade ini. Masyaallah, mereka perusahaan bonafide dan luar biasa melayani pelanggan berdekade-dekade dengan layanan superprima. Namun, bukan tidak mungkin jamak hal mendadak tidak dapat kami atasi sedemikian rupa sebab keberbatasan kami.
Bukan berharap hal buruk, melainkan sekadar waspada. Berjaga bila memang hal tersebut memang bukan mustahil dapat terjadi, entah kapan. Wallahu A’lam. Yang perlu diingat, yang dapat (digunakan diksi:) dipastikan, berkait nama domain/ranah web/blog kami yang tidak bersifat permanen seperti pada umumnya. Pendek kata, tiada yang dapat menjamin eksistensinya atau daya tahan (longevity) domain .ID pada blog ini.
Kami bukan perusahaan teknologi besar dunia. Seperti, salah satunya, Google. Yang bisa jadi, atas Izin-Nya, bertahan hingga beberapa dekade berikutnya (insyaallah)—di samping tiada jaminan semuanya tidak fana di dunia ini. Kami pun mencari salah satu layanan publikasi yang kiranya dapat menampung seluruh konten blog ini, terpilihlah (sementara waktu; well, lagi-lagi bukan jaminan selamanya) Substack.
Sempat singgah ke WordPress.com (sebagaimana yang telah disampaikan pada pos sebelumnya). Memindahkan/memigrasikan sebagian atau seluruh konten pos atau laman blog ini ke platform komersial yang masih dipimpin oleh Matt Mullenweg tersebut. Tentu layanan tersebut sejatinya menjadi salah satu opsi utama sebab memang blog ini berfondasi engine WordPress yang bersifat open-source.
Sama-sama WordPress. Hanya memang yang satu bersifat open-source, dengan rumah utama (dapat diunduh secara manual dari) di WordPress.org. Sementara itu, satunya yang ber-.COM cenderung komersial. Didukung dengan pelbagai layanan yang dimaksimalkan selaik rumah web (web-hosting) pada umumnya.
Tinggal ekspor seluruh konten pos di sini, kemudian diimpor ke salah satu alokasi “rumah” dengan subdomain tertentu di WP.com. Voilà, secara normatif, web/blog dapat langsung ditayangkan (insyaallah). Namun, lagi-lagi tidak bertahan di sana dan kembali ke layanan hosting lokal yang masih aktif hingga hari ini (alhamdulillah).
Tidak keliru barangkali praanggapan Anda, kami pun sempat ber-Medium (sebagaiman dituturkan pada pos sebelumnya). Kalau boleh jujur, sejatinya ingin di sana—selaik judul tulisan pada pos tersebut, mengikuti narablog Tanah Air yang terlebih dahulu rutin berpublikasi di platform yang diinisiasi awal oleh ko-pendiri Twitter dahulu (Evan Williams).
Sebab ber-Medium, sempat pula melanggani servis premiumnya untuk tier standar/umum (bukan partner), kami pun sempat mengamankan username @anshori di Mastodon. Realisasinya, belum terpublikasi satu pun tulisan kami di sana, he-he-he. Ya, masalahnya adalah kami ternyata sekadar menikmati sebagi pembaca di platform publikasi yang lebih dahulu lahir sebelum kemunculan Substack.
Ingin memigrasikan seluruh konten pos dari blog WordPress sini ternyata tidak semudah sebelumnya. Sebagaimana jamak diketahui, pengguna Medium sempat dimudahkan untuk melakukan publikasi dengan melakukan impor konten dari platform blog lain/eksternal secara masal/bulk. Itu dulu, sebelum fasilitasi tersebut hadir di versi berbayar.
Kalaupun dapat mengimpor konten teks/stori pada layanan nonberlangganan, pengguna perlu satu demi satu melakukan impor secara manual. Hal ini berbeda bila di Substack. Untuk versi kreator konten non-paid-nya (apalagi baru saja membuat akun baru di sana), pengguna dengan mudah mengimpor seluruh konten pos blog WordPress dalam format berkas XML.
Langsung dapat diterbitkan, terbilang rapi, konfigurasinya pun mudah, padahal lintas platform. Terima kasih kami kepada tim Substack!
Sekadar klarifikasi, sejatinya, tidak masalah bagi kami untuk berlangganan Medium kembali. Namun, memang belum menjadi prioritas kami. Lebih-lebih, pada dua semester terakhir, makin ke sini, makin banyak aplikasi dan layanan yang kami reduksi pada perangkat gawai dan laptop kami. Aplikasi-aplikasi makin sedikit, beberapa layanan dilanggani pun makin berkurang (selaras konteks kebutuhan dan urgensi melangganinya).
Betul, salah satu yang menjadi korban penghapusan masal, terutama diawali dengan menonaktifkan beberapa media sosial (medsos), adalah Medium. Omong-omong, jamak diketahui bahwa Medium sangat nyaman diaksesi secara langsung di versi web desktopnya, begitu pula dengan Substack. Namun, agaknya memang kami kurang fokus di sana (lagi-lagi) sementara waktu.
Terlepas dari beberapa hal tersebut, kami perlu muhasabah diri berlebih. Maklum, selaik insan pada umumnya, yang tidak luput dari kesalahan, kami telah berefleksi dan memutuskan untuk sementara waktu rehat (terutama) bermedsos. Bukan soal Medium, bukan Substack, ataupun layanan lainnya. Sekali lagi, ini tidak berkait layanan-layanan atau medsos-medsos tersebut. Sekadar bagian dari ke-pick-me-an kami pribadi.
Sudah jarang lagi di medsos. Rasanya juga bukan sebab ingin menghindari brain-rot atau kabur atas sesuatu, melainkan sekadar sedang tidak ingin saja. Kami merasa waktu begitu lekas terlipat oleh-Nya (masyaallah). Pada laman beranda blog Latif.id ini, barangkali Anda dapati beberapa tautan medsos kami. Namun, hanya satu barangkali yang sering dibuka, itu pun bila sempat. Sekadar reseptif informasi bila memang diperlukan.
Dapat ditengok, nyaris tiada pembaruan pada beberapa akun di luar Twitter/X. Tidak jarang kami kudet, dan kami pun tidak mempersalahkan hal tersebut. Lebih menarik bila menyimak secara langsung dari orang lain secara lisan dalam obrolan-obrolan ringan tak-bergawai. Apalagi, banjir informasi kini begitu mudah menghinggapi khalayak.
Seremeh kita dapat mengobrolkan apa yang sedang terjadi di Indonesia terkini, dapat dengan mudah kita peroleh informasi, bahkan tidak jarang lebih aktual. Sekalipun barangkali (sebagai contoh) kabar dari pedagang warung makan yang dilanggani, tentang ini, tentang itu. Bisa jadi beliau berbagi pendapat atas warta tersebut. Namun, rasanya lebih sederhana lagi, yakni berkait dengan personal kami.
Dapat jadi, kami memang sedang jenuh dengan layar ponsel/gawai. Aktivitas di dunia nyata, nyatanya, tidak jarang yang dapat menyita waktu. Bahkan, sesederhana bengong atau melamun, tiba-tiba seolah waktu begitu singkat. Mendadak sudah senja, malam, sudah akan berpagi lagi dengan bayangan ke-hectic-an di jalanan ketika berangkat atau beraktivitas di luar rumah. Masyaallah.
Mungkin tepatanya entah. Kami acap terhenti pada diksi ini. Bukan masalah. Agaknya memang perlu menikmati kehidupan secara riil. Kembali pada konteks ber-Substack, nan pokok, jamak konten blog ini telah menemukan wadahnya (sebagai cadangan) sementara waktu, yakni pada platform publikatif (yang cenderung nawala/newsletter) yang diprakarsai Chris Best, Jairaj Sethi, dan Hamish McKenzie tersebut.
Koda
Belum tentu kami akan rutin berlatih menulis untuk dipublikasikan secara daring di blog ini lagi. Belum tentu pula berputusan untuk sepenuhnya di Substack. Dapat jadi kembali ber-Medium setelah beberapa hari terakhir mendapati konten wacana/esai indah dari salah seorang narablog yang tergabung dalam grup publikasi Ruang Kontemplasi.
Tidak dimungkiri, menulis atau mengetik menjadi salah satu hobi yang menyenangkan, ya, bagi sebagian besar kita. Kami pun berprasangka bahwa kami pun demikian, tetapi kami masih dalam taraf/kadar berlatih. Alhamdulillah, masih Diizinkan-Nya dapat menulis/mengetik. Selaik umumnya sebagian orang, kami pun berikhtiar untuk dapat menulis dengan tangan (handwriting), terlebih saat membuat catatan.
Ya, mencatat atau membuat jurnal harian (journaling) secara privat masih menjadi aktivitas yang kiranya perlu disyukuri. Sebagaimana dilakukan sebagian narablog, mengeblog pun menjadi aktivitas ber-journaling yang tidak kalah menggembirakan. Pos ini kami prasangkai pula sebagai salah satu ikhtiar motivasi diri untuk memulai berlatih menulis lagi.
Tidak ingin menggemborkan diri untuk menulis setiap hari. Aduh, kami pribadi malu bila hal ini terkonfirmasi. Nan pokok, pos ini tertayang dahulu. Entah waktu-waktu berikutnya setelah ini. Apakah ke Substack, kembali ke Medium, ataupun bagaimana dan di mana wadah publikasi daring kami berikutnya. Alhamdulillah, kami masih Diizinkan-Nya menulis/mengetik publikatif di blog ini.
Terima kasih telah membaca. Salam sehat dan takzim kami. Wallahualam bisawab.