Perlukah Bermigrasi ke Medium?
Diterbitkan pada dalam Blog.
Bismillah. Alhamdulillah, segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah subhānahu wata‘āla (سبحانه و تعالى). Selawat dan salam kita haturkan kepada junjungan Nabi kita Rasulullah Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam (ﷺ). Amabakdu.
Sudah lebih dari tiga bulan, kami belum memperbarui konten blog ini (Latif.id) yang seringkali dimaksudkan guna menampung konten tulisan (dan berantarmuka) dalam bahasa Indonesia. Inisiasi awalnya adalah sebagai tempat berlatih menulis pribadi, tetapi sengaja dipublikasikan dengan asa dapat berfaedah bagi warganet lainnya.
Menulis di blog sendiri, selaik jamak hal dalam kehidupan, tentu ada plus-minusnya. Salah satu nikmatnya adalah rasa nyaman. Hal ini (salah satunya lagi dan menjadi dalih utama) sebab beberapa hal dapat diatur mandiri.
Kami kondisikan blog tersebut minim distraksi. Kami pun tidak menyertakan citra/gambar/foto pada tiap pos blog sehingga diharapkan cukup ringan diakses.
Jauh dari ideal untuk disebut sebagai blog yang menarik. Lantaran untuk kebutuhan berlatih menulis pribadi, cenderung temanya pun manasuka.
Topik dan substansi tulisan tidak selalu ihwal kepenulisan. Tidak jarang, sedikit/banyak, perihal ranah-ranah komputasi sekaligus sebagai journaling.
Sebagai permisalan, apabila mendapati kendala teknis berkomputasi di dunia nyata atau beberapa baris perintah di shell Terminal (hitam-putih, selaik prompt pada shell di sistem DOS zaman dahulu) terlupa, kami memfaedahi blog tersebut.
Mungkin tidak jauh berbeda dengan konten (terutama balasan/reply) di platform Twitter (sekarang X). Di X, tiada spesialisasi yang selaras bidang kami. Acap merespons tayangan pos bernuansa teknologi informasi (terutama berkait pengembangan sumber-terbuka/open-source); terkini berkait akal imitasi.
Cenderung sebagai catatan pribadi bila di blog personal dengan peladen/server di Tanah Air tersebut. Catatan yang dapat dilihat lagi untuk cek-recheck untuk kebutuhan konfirmatif.
Beberapa pos tidak jarang bermula dari daftar tautan yang ditemukan pada momen atau konteks tertentu. Lalu, disenaraikan sedemikian rupa tautan rujukan tersebut ke dalam catatan privat.
Berdasar list tautan yang ada, tidak jarang tergelitik menguraikan dan meramunya ke dalam bentuk esai ringan sederhana, yang kemudian terpublikasikan sebagai konten pos blog tersebut. Cenderung demikian bagaimanan konten pos blog Latif.id tersaji.
Sempat Berlabuh di Medium
Akhir dari beberapa petualangan penulisan nan (alhamdulillah) masih jauh dari kata mahir menulis dengan kualitas tulisan yang ala kadarnya, yang cenderung didaringkan di belantara maya melalui blog Latif.id (dan sayang sekali belum dalam rupa produk buku), kami sempat/pernah melabuhkan diri di Medium.
Telah agak “lama” sejatinya mengenal platform yang sudah ada lebih dari 1 dekade ini. Kami mendaftarkan akun saat awal mula kelahirannya sekitar 2012–2013.
Kala itu, sekadar untuk berakun (nice-to-have account). Terutama untuk menikmati bacaan karya penulis lain yang jamak masih dari luar Indonesia (dalam bahasa Inggris).
Tidak dimungkiri, kabar peluncuran Medium dari kopendirinya, yakni Evan Williams, menjadi salah satu pemantik pula bagi kami untuk mencoba platform menulis yang di kemudian hari menjadi basis komunitas penulis yang cukup besar ini. Benar-benar tidak ternyana, luar biasa besar Medium kini.
Seperti yang telah disebutkan bahwa kami di sini masih nice-to-have, seolah “berlangganan” konten tulisan awal yang masih berbatas masa itu. Tulisan-tulisan yang begitu hangat, penasaran untuk dinantikan bagaimana konten-konten selanjutnya.
Saat itu, istilah narablog belum populer, atau bahkan belum muncul, sehingga kami menyebut pengisi konten Medium sekadar sebagai penulis (di Medium). Tema tulisan tentang kehidupan yang bermakna cukup sering terdapati, nyaris teradiksi platform ini masa itu.
Hingga pada sekitar 2016 mengamankan domain blog .ID untuk blog pribadi tersebut, kami pun “meninggalkan” Medium. Bukan alasan utama sebenarnya, tetapi memang sudah terbilang jarang membuka platform publikasi bebas yang pengelolaannya berbasis di Amrik ini.
Sadar bahwa kita hanyalah insan biasa. Hanya makhluk-Nya yang tiada daya dan upaya (melainkan pertolongan dari Allah ﷻ Yang Mahatinggi dan Mahaagung). Tidak selamanya kami dapat mempertahankan blog Latif.id ini, sekalipun berpeladen di negeri sendiri.
Kapasitas kami teramat berbatas, hanya kami tim kecil yang mengelola dengan menyewa hosting pada salah satu layanan yang berbasis di Yogyakarta. Salah satu hal terinisiasi blog tersebut memang supaya kami dapat mengupayakan konten berbahasa Indonesia dengan peladen yang dikelola putra-putri bangsa sendiri (terasa familiar dengan kalam ini?).
Belum tentu platform digital pengindeks situs web/blog, selaik layanan mesin pencari Google dan semacamnya, menyimpan jejak historis blog tersebut. Ihwal merawat (kalau tidak boleh dikata menyewa) domain dan peladen pun menyita perhatian tersendiri. Tidak jarang terlupa.
Ya, belum tentu kami dapat menyewa domain web itu lebih lama. Sebagaimana jamak diketahui bahwa domain web tidak dapat sepenuhnya dimiliki oleh pengelola web domain tersebut. Status pengelola adalah penyewa, dengan rentang waktu yang bisa jadi tidak lebih dari satu dekade.
Siapa yang dapat menjamin kami dapat mempertahankan doman web Latif.id tersebut, bahkan dengan asa puluhan tahun lamanya? Belum tentu pula kami dapat menjadi pewaris untuk generasi kami berikutnya yang kiranya berkenan mengelolanya.
Seperti jamak hal dalam kehidupan, tiada yang abadi di dunia ini.
Terdapat hal yang tidak kalah penting, yaitu konsistensi menulis (mengisi konten tulisan di blog ini secara berkala). Terbilang sudah tidak rutin dilakukan.
Menulis di blog ini pun masih jauh dari kata sering. Padahal, tidak sesibuk teman-teman di dunia nyata.
Cenderung (semestinya) ada sempat atau dapat mengalokasikan diri untuk menuangkan pernak-pernik kalam sederhana yang kiranya berfaedah. Sayangnya, realitanya masih jauh dari angan.
Terinspirasi Narablog Tanah Air
Beberapa bulan terakhir, mendapati penulis atau narablog dari Indonesia menyemarakkan Medium. Tidak sedikit di antara beliau-beliau berbagi tautan pos atau utas di media sosial populer Twitter/X, Threads, atau lainnya, perihal kegiatan penulisan di Medium.
Karena itu, tergelitik diri kami menyemai kembali akun kami di sini. Ternyata, Medium sudah seramai itu, diramaikan ibu-bapak penulis dari Indonesia. Luar biasa!
Mencoba menulis tiap hari selaik sebagian besar ibu-bapak penulis/narablog bukanlah hal yang mudah. Tidak sedikit dari beliau-beliau menandaskan bahwa rutin menulis tiap hari. Satu hari, satu tulisan.
Luar biasa menginspirasi. Menulis ringan di media sosial yang cenderung ringan dan ringkas mungkin menyenangkan, tetapi lain hal bila mengkreasi konten tulisan dalam wujud esai panjang (long-form). Beliau-beliau mampu merealisasikan hal tersebut. Keren!
Belum tentu kami istikamah menulis dalam bahasa Indonesia yang semestinya seperti yang beliau-beliau lakukan, yang ternyata tidak semudah yang disangkakan. Namun, tiada salahnya untuk terus belajar dan berlatih mengaplikasikan kaidah-kaidah dalam bahasa tercinta ini ke dalam tulisan-tulisan, bukan?
Sebagai pembelajar bahasa Indonesia, teringat nasihat para guru dan dosen kami, menulis itu perlu pembiasaan yang terus-menerus. Barangkali, tidak perlu berharap berlebih supaya dapat terampil menulis. Minimalnya, membiasakan diri menulis memiliki banyak maslahat di samping untuk kebutuhan dokumentasi atau catatan pribadi.
Kami cukup yakin, terdapat puluhan ribu (atau bahkan jutaan) penulis Indonesia yang telah bekreasi di sini, dengan kualitas tulisan di atas rata-rata. Di mana pun beliau-beliau berada/berdomisili, platform kepenulisan ini bisa jadi cukup lama terfaedahi.
Ada rasa minder menghantui. Dag-dig-dug, malu bila tulisan kami masih sekadarnya, seakan tiada kepentingan untuk terdapati/dibaca beliau-beliau. Namun, banyak hal mesti dimulai, bukan?
Apalagi, soal belajar. Belajar apa pun, salah satunya adalah menulis, tentu bukan hal sia (insyaallah). Kami pun mencoba merangkai kata di sini, dan tidak berharap terbaca (paling tidak sebagai renik reflektif kami pribadi). Bismillah.
“Lebih baik dimulai daripada tidak sama sekali.”
—Anonim
Selanjutnya…
Kami sempat menayangkan pos pertama di Medium. Memulai konten tulisan yang barangkali tidak jauh berbeda dari pos-pos blog kami sebelumnya yang bertema acak dan bebas manasuka di Latif.id. Namun, rasanya kurang elok bila sekadar mempublikasikan ulang pos-pos dari Latif.id untuk kebutuhan berkonten di sana.
Barangkali, sebagian pos atau laman blog ini akan tertuang di sana. Dapat jadi beberapa topik bahasan di blog tersebut tertuang kembali di sini dengan komposisi yang lain.
Bukankah banyak hal dapat diceritakan berulang (dengan pelbagai rupa dan variasi bahasa pula)? Namun, hal ini memang tidak mudah dilakukan, perlu pembiasaan bagi kami.
Di Medium, kami masih hanya berlatih menulis, tidak jauh berbeda dengan apa yang kami lakukan di blog ini. Tiada asa menjadi penulis profesional. Bukan pula berarti menjadi naif dengan tidak menghendaki tulisan-tulisan kami dibaca khalayak.
Bukankah menulis itu bagian dari aktivitas bertutur kita supaya ideasional dalam pikiran dapat tertuang dalam bahasa verbal tulis yang dapat dipahami oleh pihak lain melalui pelbagai kesepakatan aksara yang sudah terlalu menua bila ditakar usia eksistensinya? Maaf, kalimat ini terlalu panjang, he-he-he.
Kelekatan menulis dengan literasi bercerita atau bernarasi tidak perlu diragukan lagi, setiap insan dapat melakukannya (insyaallah). Siapa pun dapat berkisah, dengan pelbagai rupa diksi yang tentu antarkita saling berlainan.
Mungkin antarkita memang berbeda segmentasi. Ada orang yang lebih nyaman menyampaikan sesuatu secara verbal lisan sehingga mereka pun mengkreasi vlog yang kiranya mudah dipahami secara langsung kepada pemirsa yang menonton. Ada pula yang memilih jalur menulis.
Berbagi Ibrah dengan Menulis (Tidak Mesti di Medium)
Menulis untuk mendokumentasikan kisah-kisah nyata kehidupan, yang barangkali dapat kita petik ibrahnya. Menulis dalam bahasa Indonesia, yang barangkali tidak sedikit di antara kita yang lebih memilih berbahasa selain bahasa Indonesia kekinian.
Menulis dengan tujuan menempa diri supaya berbiasa dengan habituasi apa pun dan tetap berikhtiar dapat menulis. Sedikit atau sekecil apa pun hal di dunia ini, sering dapat dituai pelajarannya, bukan? Semoga kita Diizinkan-Nya istikamah menulis hal-hal baik, baik di sini maupun di Medium. Namun, untuk saat ini, kami menyadari lagi keberbatasan kami, sementara waktu belum benar-benar melabuhkan diri di Medium.
Sempat menginginkan berkonten teks tulis di Twitter/X (yang diterbitkan pada menu Artikel bila berlangganan Premium). Alhamdulillah, satu tulisan terilis, dengan topik refleksi diri berkait kehidupan.
Tulisan yang kami kreasi tersebut dalam bahasa Inggris yang entah. Disengaja dalam bahasa Inggris, sekaligus sebagai ajang latihan kami menulis dalam ragam bahasa internasional tersebut.
Cenderung kami minder atas tulisan di Artikel Twitter/X tersebut. Tidak jarang kami sunting-sunting (beberapa kali). Mungkin, seperti tulisan di Medium sebelumnya, yang ujung-ujungnya kami ke-sini-kan (dalam blog ini) lagi. Bisa jadi tersaji dalam bahasa Indonesia secara penuh, mengapa tidak (insyaallah).
Terima kasih kepada Medium dan Twitter/X. Namun, kami masih ingin bertahan agak lama di sini, meskipun tidak acap mencadangkan, meskipun barangkali seluruh konten teks tulis di sini dapat lenyap begitu saja. Namun, kami berupaya untuk mengamankan beberapa konten pos yang telah tersaji sebelumnya. Ujung-ujungnya lagi, kami masih nyaman di sini (khair insyaallah).
Terima kasih telah bervisitasi, terima kasih telah membaca. Salam sehat dan takzim kami. Jazaakumullahu khairan (semoga Allah Membalas Anda sekalian dengan pelbagai kebaikan). Baarakallahu fiykum (semoga Allah Memberkahi Anda sekalian). Wallahualam bisawab.