Latif Anshori Kurniawan

Menlu Singapura Optimasi Akal Imitasi

Diterbitkan pada dalam Blog.

Jagad algoritma media sosial (medsos) Twitter/X (yang lewat pada lini masa umpan kami) digembirakan dengan pos Menteri Luar Negeri (Menlu) Singapura, Dr. Vivian Balakrishnan, yang memfaedahi teknologi akal imitasi (AI) (tautan: go.gov.sg/aiesingapore). Pemanfaatannya pun cenderung pada sisi pengembangan dan optimasi lebih lanjut, bukan sekadar operasional.

Optimasi yang dilakukan adalah beliau membangun agen AI sebagai “otak kedua” untuk rancangan diplomasi awal. Agen AI tersebut terhubung dan terintegrasi dengan Claude dan pesan instan WhatsApp.

Lebih mencengangkan lagi, beliau memfaedahi perangkat keras berbasis sumber terbuka Raspberry Pi ketika membangun/mengembangkan AI agentif (agentic AI), yang dikenal sebagai peranti berdaya listrik rendah yang mengedepankan privasi dan kontrol. Ini lebih dari sekadar menarik sebab sangat jarang pejabat struktural birokatif yang menyentuh secara teknis hal-hal berkait teknologi (dalam hal ini, teknologi informasi, terutama AI).

AI cenderung sebagai wacana dalam forum-forum formal, terutama (salah satunya) kala disampaikan sebagai penghias topik pidato/sambutan, yang tidak jarang bernuansa konsepsional visi-misi positif AI dalam kehidupan manusia mendatang secara umum. Berbeda dengan pemaslahatan yang dilakukan oleh bapak menlu tersebut, AI menjadi second-brain untuk rancangan diplomasi yang berjalan secara lokal (pada perangkat/peranti mandiri) Raspberry Pi 5: Guna mengatasi briefing, analisis menyeluruh, teknis pengonsepan naskah pidato, penelitian, pembaruan harian/berkala (daily updates), mengondensasi atau meringkas info dari artikel/obrolan, serta hingga mengelola keberlimpahan kognitif dalam peran sebagai menlu resmi sebuah negara maju (dengan memori presisten antarsesi yang aksesibel), adalah luar biasa.

Dr. Balakrishnan menekankan, sebagai individu, siapa pun kita, perlu terus-menerus belajar dengan mempraktikkannya secara langsung (learn-by-doing). Terlebih para pejabat/pimpinan negara tidak sekadar meregulasi atau merilis kebijakan perihal AI. Namun, mereka juga perlu peroleh pengalaman secara nyata (yang sifatnya cenderung teknis) supaya dapat mengidentifikasi pelbagai rupa hal sebagai pertimbangan fundamental sebelum regulasi/kebijakan disampaikan kepada publik.

Learn-by-doing, benar-benar bukan sekadar khazanah teoretis. Hal ini sebagaimana tersebut dalam video (dibagikan oleh Melissa Chen di X) yang mengetengahkan pengoptimasian AI beliau tersebut. Arsitektur yang beliau gunakan bukan berbasis awan (cloud), agen AI lokal dirakit (assembled) sedemikian rupa menggunakan perangkat lunak sumber-terbuka (open-source), bukan ditulis dari awal (scratch), yaitu NanoClaw (agen AI berbasis Claude dengan integrasi perpesanan instan) plus pola grafik pengetahuan berbasis wiki LLM yang diinspirasi dari konsepsi Andrej Karpathy.

Sumber-sumber yang diinput dalam pengembangan AI tersebut meliputi: transkrip mentah, artikel, klip video, catatan suara, dan obrolan WhatsApp. Konfigurasi memori yang diberlakukan, salah satunya, berdasar grafik mnemonik (penyematan semantis dan penyimpanan vektor lokal) untuk pengingat jangka panjang.

Sintesis yang dilakukan adalah berdasar basis pengetahuan yang dibangun dari Wikipedia dengan gaya Obsidian. Integrasi yang dilakukan menggunakan Claude untuk penalaran. Menarik sekali, ini sebab memanfaatkan layanan pesan instan populer WhatsApp pula. Selain itu, beberapa model lokal seperti Ollama juga digunakan. Tidak lupa pula Whisper untuk transkripsi.

Sebagian besar hal dijalankan secara privat di atas peranti, atau diisolasi di kontainer untuk keamanan. Bapak menteri menandaskan sebuah hal.

You can outsource memory and computation, but you cannot outsource understanding.

Terdapat banyak hikmah dari apa yang beliau kemukakan berkait pemanfaatan AI untuk membantu merancang diplomasi ini. Pelbagai nilai dapat datang dari siapa pun yang memahami bagaimana pelbagai medium bantu mentransformasi alur kerja (sebagaimana dilakukan oleh guru, dokter, pengacara, para menteri di kementerian, dan lain-lain).

Kendala bahasa bukan menjadi penghalang. Teknologi AI yang berdaya guna tersedia bagi siapa pun insan, yang cenderung dapat ditopang hanya dari perangkat keras yang terbilang terjangkau (murah). Ya, beliau memberi penguatan bahwa siapa pun dapat membangun dan bereksperimentasi dengan AI.

Di samping beberapa hal tersebut, agaknya perlu ditiriskan pada sisi teknis bagi kita yang masih awam berkait teknologi agentif AI. Perlu diperhatikan bahwa jendela konteks (context windows) adalah bagian yang tidak boleh diabaikan. Bukan sekadar berkait token, melainkan realitanya tidak jarang menyita biaya (meskipun tidak banyak).

Perangkat lunak dan keras (peralatan, peranti) dan integrasi nyata elok menjadi perhatian utama daripada model-model AI yang mentah. Memori dalam AI yang digunakan menjadi bagian yang tidak jarang menjadi kurang dapat dipecahkan/diatasi, tetapi justru menjadi bagian yang tidak kalah krusial.

Penerapan AI untuk diplomasi yang dicontohkan bapak menteri pun mengandung beberapa implikasi. Di samping setiap individu dapat merakit sistem AI secara lokal, impian untuk mendemokratisasi dan mendesentralisasi teknologi dapat diwujudkan sedemikian rupa. Keberdayagunaan AI dapat benar-benar tersentuh oleh segenap masyarakat dan pelayan publik (aparatur negara).

Ya, desentralisasi alur kerja di pelbagai sektor. Eksperimentasi dapat dilakukan dengan proyek per proyek alih-alih mandat dari atas ke bawah. Beliau pun menutup dengan kalam cemerlang.

The tools are here. The question is what we build with them.

Dr. Balakrishnan adalah salah satu figur pejabat yang tidak malu belajar AI. Hal ini dapat dijadikan teladan bagi generasi muda untuk terus belajar, cepat beradaptasi, dan optimis menatap masa depan yang lebih baik. AI dapat dijadikan tools batu loncatan membantu mereka untuk menuntaskan pelbagai problematika yang ada.

Beliau juga memberi teladan nyata bahwa menjadi rendah hati adalah bukan hal yang perlu dihindari, dengan berkenan terjun secara langsung pada area teknis. Rendah hati sembari tetap mengedepankan hal-hal positif berdasar pemaslahatan AI untuk masa berikutnya.

Adopsi AI perlu terus diupayakan/diperluas pada tiap tingkat pelbagai hal. Hal ini sekaligus mendorong segenap pemimpin atau sosok penting lain untuk berhenti sekadar menonton dan mulai membangun sesuatu yang berguna. Demikian intisari penandasan beliau.

Stop spectating and start building.

Barangkali, beliau bukan satu-satunya pejabat publik yang mengoptimasi teknologi AI untuk menunjang pelbagai konteks kebutuhan kerja, bahkan pada ranah/tataran kebijakan atau regulasi. Hanya memang, beberapa pejabat tinggi di beberapa negara cukup mengapresiasi atas upaya beliau tersebut. Hal yang tidak kalah menarik, apa yang beliau kembangkan tersebut, bersifat terbuka (open-source), terbagikan pula di publik melalui platform berbagi kode sumber GitHub.

Tidak sedikit pejabat politik (selaku warganet) di X yang mengembalikan pada pemerintah Singapura yang memang dikenal solid sehingga negara ini pun menjadi salah satu negara dengan paspor terkuat. Semoga Indonesia dapat menyusul kemajuan Negeri Singa tersebut (semoga Allah Mudahkan ikhtiar kita—amin).

Wallahualam bisawab. Terima kasih telah membaca.